Menteri Singapura: Kita perlu pemimpin berani

Senin, 10 Februari 2014 - 19:16 WIB
Menteri Singapura: Kita...
Menteri Singapura: Kita perlu pemimpin berani
A A A
Sindonews.com – Di tengah ketegangan hubungan antara Indonesia dan Singapura perihal polemik penamaan KRI Usman Harun, Menteri Singapura kembali berkomentar kritis. Menteri itu menyatakan, negaranya perlu pemimpin berani yang tidak menyerah pada tekanan domestik.

Komentar itu disampaikan Menteri Pertahanan Kedua Singapura, Chan Chun Sing. Menurutnya, Singapura perlu pemimpin yang bijaksana dan kuat, yang mengedepankan kerja sama daripada konflik.

Komentarnya itu disampaikan pada Konferensi Keamanan Asia – Pasifik, Senin (10/2/2014). ”Kita juga perlu pemimpin pemberani yang tidak menyerah pada tekanan domestik atau pengejaran nasionalistik terhadap kebaikan yang lebih besar dari wilayah tersebut. Termasuk untuk kesalahan sejarah yang dirasakan ketika kondisi masih prematur,” katanya, seperti dikutip Straits Times.

Meski tidak menyebut Indonesia dalam komentarnya itu, pernyataan pria yang juga menjabat Menteri Sosial dan Pembangunan Keluarga Singapura, itu muncul di tengah ketegangan kedua negara terkait polemik penamaan KRI Usman Harun yang ditentang Singapura.

”Para pemimpin ini tidak harus menyerah pada gagasan, bahwa kekuatan adalah kebenaran,” lanjut Chan. ”Tanda dari sebuah negara yang kuat adalah, bukan bagaimana ia mampu menggunakan kekuatan sebagai cara. Tanda dari negara yang benar-benar kuat adalah bagaimana ia mampu menahan diri dan tidak harus menggunakan kekuatan.”

Seperti diketahui, Pemerintah Indonesia tetap akan menamakan kapal perang baru buatan Inggris dengan nama KRI Usman Harun. Nama itu, merupakan gabungan dari nama dua marinir Indonesia, Osman Mohamad Ali dan Harun Said yang dianggap terlibat pemboman gedung MacDonald, di Orchard Road pada tahun 1965. Tiga orang tewas dan 33 lainnya terluka dalam insiden kala itu.

Dua marinir Indonesia itu, telah dieksekusi dengan hukuman gantung di Singapura, karena dianggap bersalah dalam pemboman tersebut. Namun, bagi Indonesia, dua marinir itu dianggap pahlawan karena menjalankan misi pemerintah pimpinan Presiden Soekarno yang kala itu berkonfrontasi dengan Malaysia. Singapura, pada saat itu masih menjadi satu dengan Malaysia.
(mas)
Berita Terkait
Wisata Menakjubkan di...
Wisata Menakjubkan di Sentosa Sensoryscape, Landmark Terbaru Singapura
Dubes Singapura Kwok...
Dubes Singapura Kwok Fook Seng Gelar Buka Puasa Bersama 70 Anak Yatim di Masjid Istiqlal
Singapore Dream Sudah...
Singapore Dream Sudah Mengalami Pergeseran, Apa Pemicunya?
Pemilu Singapura seperti...
Pemilu Singapura seperti Sandiwara, Hanya Melanggengkan Kekuasaan PAP
PM Singapura Akan Serahkan...
PM Singapura Akan Serahkan Kepemimpinan PAP Kepada Lawrence Wong
Politikus Muslim Ini...
Politikus Muslim Ini Ungkap Rahasia Kesuksesan Singapura
Berita Terkini
Mossad Pasok Milisi...
Mossad Pasok Milisi Kurdi dengan Senjata yang Disita dari Hamas dan Hizbullah
4 jam yang lalu
Hamas Tak akan Serahkan...
Hamas Tak akan Serahkan Persenjataan, tapi Hanya Polisi yang Bawa Senjata di Gaza
5 jam yang lalu
Drone Terjang Galilea...
Drone Terjang Galilea Barat Beberapa Menit setelah Netanyahu Pergi
6 jam yang lalu
Iran Sebut Pangkalan...
Iran Sebut Pangkalan AS Target Sah dan Sumber Kekacauan Timur Tengah
7 jam yang lalu
Mayoritas Penduduk di...
Mayoritas Penduduk di 36 Negara Anggap Israel Tidak Baik
8 jam yang lalu
Iran Berupaya Pungut...
Iran Berupaya Pungut Biaya Layanan, Bukan Tol untuk Lintasi Selat Hormuz
9 jam yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved