Masuki hari terakhir, referendum di Mesir telan 11 nyawa
Rabu, 15 Januari 2014 - 14:13 WIB
Masuki hari terakhir, referendum di Mesir telan 11 nyawa
A
A
A
Sindonews.com – Militer Mesir siaga tinggi pada Rabu (15/1/2014), saat rakyat di negara itu menuju tempat pemungutan suara di hari terakhir referendum konstitusi.
Sejak kemarin hingga hari ini, rerefendum itu diwarnai kekerasan yang menyebabkan 11 orang tewas dan 28 lainya terluka.
Referendum tersebut merupakan yang pertama digelar di Mesir, setelah Presiden Mohamed Morsi lengser 3 Juli 2013 lalu. Sekitar 53 juta rakyat Mesir berhak untuk memilih konstitusi baru, di mana salah satunya untuk membuat regulasi tentang pemilihan presiden.
Stasiun televisi lokal menayangkan kegembiraan rakyat Mesir saat memberikan suaranya. Sebagian dari mereka mengusung poster bergambar kepala militer Mesir, Jenderal Abdel Fattah al – Sisi yang didukung untuk menjadi Presiden Mesir.
Kemarin, referendum diwarnai demonstrasi yang berubah menjadi bentrokan maut. Sebagaimana dilansir al-Jazeera, pasukan keamanan membubarkan para demonstran anti-kudeta Morsi. Data di Kementerian Kesehatan Mesir menyebut, 11 orang tewas dan 28 lainnya terluka.
Pemerintah Mesir sendiri bertekad, menyukseskan referendum ini untuk membuat Mesir bangkit dari keterpurukan setelah berbulan-bulan dilanda krisis politik. Untuk mengamankan referendum selama dua hari ini, sekitar 200 ribu pasukan keamanan di kerahkan. Sebanyak 160 ribu aparat keamanan ditugaskan untuk mengwasi setiap tempat pemungutan suara.
”Kita harus dengan polisi dan tentara kita, sehingga tidak ada yang bisa meneror kita. Bahkan jika sebuah bom meledak di TPS, saya akan memilih,” kata Salwa Abdel Fattah, 50, seorang ginekolog Mesir yang memberikan hak suaranya.
Sejak kemarin hingga hari ini, rerefendum itu diwarnai kekerasan yang menyebabkan 11 orang tewas dan 28 lainya terluka.
Referendum tersebut merupakan yang pertama digelar di Mesir, setelah Presiden Mohamed Morsi lengser 3 Juli 2013 lalu. Sekitar 53 juta rakyat Mesir berhak untuk memilih konstitusi baru, di mana salah satunya untuk membuat regulasi tentang pemilihan presiden.
Stasiun televisi lokal menayangkan kegembiraan rakyat Mesir saat memberikan suaranya. Sebagian dari mereka mengusung poster bergambar kepala militer Mesir, Jenderal Abdel Fattah al – Sisi yang didukung untuk menjadi Presiden Mesir.
Kemarin, referendum diwarnai demonstrasi yang berubah menjadi bentrokan maut. Sebagaimana dilansir al-Jazeera, pasukan keamanan membubarkan para demonstran anti-kudeta Morsi. Data di Kementerian Kesehatan Mesir menyebut, 11 orang tewas dan 28 lainnya terluka.
Pemerintah Mesir sendiri bertekad, menyukseskan referendum ini untuk membuat Mesir bangkit dari keterpurukan setelah berbulan-bulan dilanda krisis politik. Untuk mengamankan referendum selama dua hari ini, sekitar 200 ribu pasukan keamanan di kerahkan. Sebanyak 160 ribu aparat keamanan ditugaskan untuk mengwasi setiap tempat pemungutan suara.
”Kita harus dengan polisi dan tentara kita, sehingga tidak ada yang bisa meneror kita. Bahkan jika sebuah bom meledak di TPS, saya akan memilih,” kata Salwa Abdel Fattah, 50, seorang ginekolog Mesir yang memberikan hak suaranya.
(mas)