Militer AS terus pantau perkembangan di Suriah
Rabu, 02 Oktober 2013 - 23:13 WIB
Militer AS terus pantau perkembangan di Suriah
A
A
A
Sindonews.com – Amerika Serikat (AS) harus mempertimbangkan kembali apakah akan mengerahkan kekuatan militer ke Suriah, jika Presiden Bashar al-Assad tidak mematuhi resolusi PBB yang menuntut pemusnahan senjata kimia milik rezim Suriah.
Demikian ditegaskan, Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jenderal Ray Odierno, Rabu (2/10/2013), seperti dikutip dari Reuters. Ketika ditanya apakah militer AS masih memiliki kemungkinan peran untuk bermain dalam krisis Suriah, Odierno menyatakan, semua tergantung perkembangan.
"Kami akan harus menunggu dan melihat. Saya pikir, itu banyak tergantung pada seberapa baik kesepakatan berjalan," kata Odierno. Pada akhir pekan lalu, DK PBB memang telah mengadopsi sebuah resolusi yang menuntut pemberantasan senjata kimia milik rezim Suriah. Tapi, resolusi itu tidak menyebut hukuman yang akan dijatuhkan, bila rezim Suriah ingkar janji.
Resolusi tersebut didasarkan pada kesepakatan antara AS dan Rusia, setelah terjadinya serangan gas sarin pada 21 Agustus lalu di pinggiran Kota Damaskus yang menewaskan ratusan jiwa. Odierno mengatakan, AS didorong oleh kesepakatan dengan Rusia tersebut.
"Kami berharap, bahwa ini akan membantu kita untuk mengidentifikasi dan menyingkirkan senjata kimia Suriah. Jika tidak, jika terjadi kesalahan, maka saya pikir kita harus mempertimbangkan apakah kita harus menggunakan kekerasan di Suriah atau tidak," lanjutnya.
Demikian ditegaskan, Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jenderal Ray Odierno, Rabu (2/10/2013), seperti dikutip dari Reuters. Ketika ditanya apakah militer AS masih memiliki kemungkinan peran untuk bermain dalam krisis Suriah, Odierno menyatakan, semua tergantung perkembangan.
"Kami akan harus menunggu dan melihat. Saya pikir, itu banyak tergantung pada seberapa baik kesepakatan berjalan," kata Odierno. Pada akhir pekan lalu, DK PBB memang telah mengadopsi sebuah resolusi yang menuntut pemberantasan senjata kimia milik rezim Suriah. Tapi, resolusi itu tidak menyebut hukuman yang akan dijatuhkan, bila rezim Suriah ingkar janji.
Resolusi tersebut didasarkan pada kesepakatan antara AS dan Rusia, setelah terjadinya serangan gas sarin pada 21 Agustus lalu di pinggiran Kota Damaskus yang menewaskan ratusan jiwa. Odierno mengatakan, AS didorong oleh kesepakatan dengan Rusia tersebut.
"Kami berharap, bahwa ini akan membantu kita untuk mengidentifikasi dan menyingkirkan senjata kimia Suriah. Jika tidak, jika terjadi kesalahan, maka saya pikir kita harus mempertimbangkan apakah kita harus menggunakan kekerasan di Suriah atau tidak," lanjutnya.
(esn)