Al-Shabab: Tak ada perempuan yang terlibat dalam serangan mal
Selasa, 01 Oktober 2013 - 00:07 WIB
Al-Shabab: Tak ada perempuan yang terlibat dalam serangan mal
A
A
A
Sindonews.com – Kelompok militan Islam Somalia, Al-Shabab, menegaskan pada Senin (30/9/2013), bahwa tidak ada wanita yang bergabung dengan mereka dalam serangan terhadap pusat perbelanjaan Westgate di Nairobi, Kenya.
Pernyataan ini sekaligus menolak spekulasi, bahwa seorang wanita Inggris yang berjuluk 'White Widow', Samantha Lewthwaite (29), ambil bagian dalam pembantaian itu. "Kami sekali lagi secara terbuka menyatakan, bahwa tidak ada wanita terlibat di Westgate," kata Shebab dalam pernyataan lewat akun Twitter.
"Satu pekan setelah (penyerangan) Westgate, Pemerintah Kenya dan pejabat intelijen Barat gagal untuk mengungkap fakta dan rincian operasi Westgate," tambah pernyataan itu, seperti dikutip dari AFP. Pernyataan ini menggambarkan, bahwa aparat tak memiliki informasi tentang penyerang dan rincian tentang bagaimana pembantaian itu direncanakan dan dilaksanakan.
"Pemerintah Kenya masih mengejar ekornya dengan berpegangan pada gagasan dan harapan, bahwa seorang wanita memimpin serangan itu," kata kelompok itu dalam posting Twitter yang lain.
Paska serangan, aparat Kenya dan dunia Barat memang memfokuskan penrhatian pada sosok Lewthwaite, seorang mualaf yang menikah dengan Germaine Lindsay, salah satu dari empat pembom bunuh diri yang menyerang jaringan transportasi London pada Juli 2005 yang menewaskan 52 orang.
Pernyataan ini sekaligus menolak spekulasi, bahwa seorang wanita Inggris yang berjuluk 'White Widow', Samantha Lewthwaite (29), ambil bagian dalam pembantaian itu. "Kami sekali lagi secara terbuka menyatakan, bahwa tidak ada wanita terlibat di Westgate," kata Shebab dalam pernyataan lewat akun Twitter.
"Satu pekan setelah (penyerangan) Westgate, Pemerintah Kenya dan pejabat intelijen Barat gagal untuk mengungkap fakta dan rincian operasi Westgate," tambah pernyataan itu, seperti dikutip dari AFP. Pernyataan ini menggambarkan, bahwa aparat tak memiliki informasi tentang penyerang dan rincian tentang bagaimana pembantaian itu direncanakan dan dilaksanakan.
"Pemerintah Kenya masih mengejar ekornya dengan berpegangan pada gagasan dan harapan, bahwa seorang wanita memimpin serangan itu," kata kelompok itu dalam posting Twitter yang lain.
Paska serangan, aparat Kenya dan dunia Barat memang memfokuskan penrhatian pada sosok Lewthwaite, seorang mualaf yang menikah dengan Germaine Lindsay, salah satu dari empat pembom bunuh diri yang menyerang jaringan transportasi London pada Juli 2005 yang menewaskan 52 orang.
(esn)