Assad: Suriah serahkan senjata kimia tanpa dipaksa
Senin, 30 September 2013 - 09:48 WIB
Assad: Suriah serahkan senjata kimia tanpa dipaksa
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan, negaranya akan tunduk pada resolusi PBB tentang pelucutan senjata kimia. Dia mengklaim, tunduknya Suriah dalam penyerahan semua senjata kimia, bukan karena dipaksa, tapi karena keinginan tulus dari Suriah sendiri.
”Niat itu didasarkan pada keinginan kita sendiri. Jadi bukan karena resolusi. Pada kenyataannya itu adalah niat kita sendiri,” kata Assad, seperti dikutip Reuters, Senin (30/9/2013).
Tunduknya Suriah dalam pelucutan senjata kimia, yang diklaim Assad bukan karena paksaan, juga dia tegaskan dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Italia, kemarin. ”Kami sudah bergabung dengan perjanjian internasional terkait penguasaan dan penggunaan senjata kimia, bahkan sebelum resolusi ini disahkan,” ujar Assad.
Dewan Keamanan PBB, sepakat menjatuhkan resolusi perihal pelucutan senjata kimia Suriah pada Jumat pekan lalu. Diplomasi antara Amerika Serikat dan Rusia, berhasil menunda rencana serangan militer AS terhadap rezim Assad.
Ancaman serangan militer itu muncul, setelah serangan pada 21 Agustus 2013 di dekat Damaskus yang diklaim menewaskan ribuan orang. AS dan sekutunya menyalahkan rezim Assad dalam serangan itu.
Sementara itu, meski sudah mengultimatum Suriah untuk pelucutan senjata kimia, PBB juga mulai bergerak untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Australia dan Luksemburg, menjadi salah satu dari misi penyaluran bantuan kemanusiaan PBB. Dari data PBB, lebih dari 2 juta warga Suriah, yang sebagian besar wanita dan anak-anak , telah melarikan diri selama perang sipil yang berlangsung selama lebih dari 2,5 tahun.
Duta Besar Australia untuk PBB, Gary Quinlan, meminta anggota PBB dalam misi itu untuk cepat mengambil tindakan. ”Untuk mengakhiri bencana kemanusiaan dengan cepat di Suriah,” katanya.
”Setiap hari kita menunda untuk membantu sekitar 6 ribu pengungsi,” ujarnya Quinland, yang menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB mulai September ini.
”Niat itu didasarkan pada keinginan kita sendiri. Jadi bukan karena resolusi. Pada kenyataannya itu adalah niat kita sendiri,” kata Assad, seperti dikutip Reuters, Senin (30/9/2013).
Tunduknya Suriah dalam pelucutan senjata kimia, yang diklaim Assad bukan karena paksaan, juga dia tegaskan dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Italia, kemarin. ”Kami sudah bergabung dengan perjanjian internasional terkait penguasaan dan penggunaan senjata kimia, bahkan sebelum resolusi ini disahkan,” ujar Assad.
Dewan Keamanan PBB, sepakat menjatuhkan resolusi perihal pelucutan senjata kimia Suriah pada Jumat pekan lalu. Diplomasi antara Amerika Serikat dan Rusia, berhasil menunda rencana serangan militer AS terhadap rezim Assad.
Ancaman serangan militer itu muncul, setelah serangan pada 21 Agustus 2013 di dekat Damaskus yang diklaim menewaskan ribuan orang. AS dan sekutunya menyalahkan rezim Assad dalam serangan itu.
Sementara itu, meski sudah mengultimatum Suriah untuk pelucutan senjata kimia, PBB juga mulai bergerak untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Australia dan Luksemburg, menjadi salah satu dari misi penyaluran bantuan kemanusiaan PBB. Dari data PBB, lebih dari 2 juta warga Suriah, yang sebagian besar wanita dan anak-anak , telah melarikan diri selama perang sipil yang berlangsung selama lebih dari 2,5 tahun.
Duta Besar Australia untuk PBB, Gary Quinlan, meminta anggota PBB dalam misi itu untuk cepat mengambil tindakan. ”Untuk mengakhiri bencana kemanusiaan dengan cepat di Suriah,” katanya.
”Setiap hari kita menunda untuk membantu sekitar 6 ribu pengungsi,” ujarnya Quinland, yang menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB mulai September ini.
(mas)