Kembalinya tim PBB ke Suriah disambut perang
Kamis, 26 September 2013 - 10:02 WIB
Kembalinya tim PBB ke Suriah disambut perang
A
A
A
Sindonews.com - Pertempuran sengit antara pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad dan pemberontak terjadi di berbagai wilayah Suriah. Perang itu berlangsung di saat tim PBB tiba di Damaskus untuk melanjutkan investigasi penggunaan senjata kimia di sana.
Aktivis pro oposisi Suriah mengatakan kepada al-Jazeera, kemarin, bahwa para pejuang pemberontak kini telah menguasai sebagian besar dari wilayah Ramtha, di Provinsi Deraa selatan. Dalam waktu bersamaan, rombongan inspektur PBB tiba di sebuah hotel di Damaskus.
Tim peneliti senjata dari PBB itu, diharapkan memeriksa dugaan penggunaan senjata kimia hingga 14 kali dalam konflik Suriah yang sudah berlangsung selama 30 bulan. Pada investigasi awal, tim PBB hanya meneliti dugaan penggunaan senjata kimia pada 21 Agustus 2013, yang laporannya digunakan Amerika Serikat, Inggris dan Prancis untuk menyalahkan rezim Assad.
Sementara itu, pertempuran sengit dilaporkan terjadi di Kota Areha utara. Pertempuran itu telah memaksa penduduk setempat untuk mencari perlindungan di gua-gua di dekatnya.
Di Provinsi Aleppo utara, pemberontak mengatakan mengklaim telah menguasai Distrik Madajen, wilayah yang menjadi rute penting bagi rezim Assad untuk mengakses bandara. Kemudian, di Provinsi timur laut Raqqa, dilaporkan lima orang tewas dalam serangan udara yang diluncurkan pesawat jet Pemerintah Kota Tabqa.
Beberapa pejuang Jabhat al-Nusra, kepada Reuters, mengatakan, kelompok itu sudah muak dengan Koalisi Nasional yang sama-sama anti-Assad. Alasannya, Koalisi Nasional sudah dimasuki pihak asing, terutama Arab Saudi yang menjadi pemodal utama. ”Brigade kami lelah strategi Koalisi Nasional,” kata salah satu militant al-Nusra .
Aktivis pro oposisi Suriah mengatakan kepada al-Jazeera, kemarin, bahwa para pejuang pemberontak kini telah menguasai sebagian besar dari wilayah Ramtha, di Provinsi Deraa selatan. Dalam waktu bersamaan, rombongan inspektur PBB tiba di sebuah hotel di Damaskus.
Tim peneliti senjata dari PBB itu, diharapkan memeriksa dugaan penggunaan senjata kimia hingga 14 kali dalam konflik Suriah yang sudah berlangsung selama 30 bulan. Pada investigasi awal, tim PBB hanya meneliti dugaan penggunaan senjata kimia pada 21 Agustus 2013, yang laporannya digunakan Amerika Serikat, Inggris dan Prancis untuk menyalahkan rezim Assad.
Sementara itu, pertempuran sengit dilaporkan terjadi di Kota Areha utara. Pertempuran itu telah memaksa penduduk setempat untuk mencari perlindungan di gua-gua di dekatnya.
Di Provinsi Aleppo utara, pemberontak mengatakan mengklaim telah menguasai Distrik Madajen, wilayah yang menjadi rute penting bagi rezim Assad untuk mengakses bandara. Kemudian, di Provinsi timur laut Raqqa, dilaporkan lima orang tewas dalam serangan udara yang diluncurkan pesawat jet Pemerintah Kota Tabqa.
Beberapa pejuang Jabhat al-Nusra, kepada Reuters, mengatakan, kelompok itu sudah muak dengan Koalisi Nasional yang sama-sama anti-Assad. Alasannya, Koalisi Nasional sudah dimasuki pihak asing, terutama Arab Saudi yang menjadi pemodal utama. ”Brigade kami lelah strategi Koalisi Nasional,” kata salah satu militant al-Nusra .
(esn)