Pemberontak anti-Assad tak akui Koalisi Nasional
Rabu, 25 September 2013 - 13:10 WIB
Pemberontak anti-Assad tak akui Koalisi Nasional
A
A
A
Sindonews.com - Kelompok pemberontak garis keras anti-Presiden Bashar al-Assad tidak mengakui keberadaan kelompok koalisi yang berbasis asing, termasuk Koalisi Nasional Suriah. Kelompok pemberontak garis keras itu, terus bertempur sengit dengan tentara loyalis Jenderal Salim Idris, yang sama-sama anti-Assad.
”Koalisi Nasional dan pemerintahannya yang dipimpin Ahmad Tomeh (Ahmad Jarba) tidak mewakili kami, kami juga tidak mengenalinya,” kata kelompok pemberontak garis keras Suriah dalam sebuah pernyataan, kemarin, yang dirilis al-Jazeera, Rabu (25/9/2013).
Kelompok garis keras anti-Assad itu, terdiri dari 13 kelompok pemberontak yang palin kuat di Suriah. Di antaranya, kelompok Liwa al-Tauhid yang berbasis di Aleppo, kelompok Jabhat al-Nusra, dan kelompok al-Qaeda .
Dewan Keamanan PBB menyebut kelompok al-Nusra, sebagai al-Qaeda yang berbasis di Irak. Departemen Luar Negeri AS, telah memasukan kelompok itu dalam daftar organisasi teroris pada Desember tahun lalu.
Dalam pernyataan itu, kelompok pemberontak Suriah garis keras itu, menyerukan penerapan hukum Islam di Suriah. ”Kekuatan ini menyerukan kepada semua kelompok militer dan sipil untuk bersatu dalam konteks Islam. Dan jelas, bahwa syariah (Islam) menjadi satu-satunya sumber hukum,” bunyi pernyataan kelompok itu.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya aksi kekerasan antar-pemberontak di Suriah. Belum lama ini, kelompok Negara Islam Irak dan Levant (ISIL), yang masuk daftar organisasi teroris yang dirilis AS, menyatakan, mereka akan melawan dua kelompok pemberontak lain di kota al-Bab, di Aleppo.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, juga mencatat, ISIL dan kelompok Jabhat al-Nusra terlibat perang sengit pada Sabtu lalu, di Hasaka. Dua orang tewas dalam pertempuran antar-pemberontak Suriah itu.
”Koalisi Nasional dan pemerintahannya yang dipimpin Ahmad Tomeh (Ahmad Jarba) tidak mewakili kami, kami juga tidak mengenalinya,” kata kelompok pemberontak garis keras Suriah dalam sebuah pernyataan, kemarin, yang dirilis al-Jazeera, Rabu (25/9/2013).
Kelompok garis keras anti-Assad itu, terdiri dari 13 kelompok pemberontak yang palin kuat di Suriah. Di antaranya, kelompok Liwa al-Tauhid yang berbasis di Aleppo, kelompok Jabhat al-Nusra, dan kelompok al-Qaeda .
Dewan Keamanan PBB menyebut kelompok al-Nusra, sebagai al-Qaeda yang berbasis di Irak. Departemen Luar Negeri AS, telah memasukan kelompok itu dalam daftar organisasi teroris pada Desember tahun lalu.
Dalam pernyataan itu, kelompok pemberontak Suriah garis keras itu, menyerukan penerapan hukum Islam di Suriah. ”Kekuatan ini menyerukan kepada semua kelompok militer dan sipil untuk bersatu dalam konteks Islam. Dan jelas, bahwa syariah (Islam) menjadi satu-satunya sumber hukum,” bunyi pernyataan kelompok itu.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya aksi kekerasan antar-pemberontak di Suriah. Belum lama ini, kelompok Negara Islam Irak dan Levant (ISIL), yang masuk daftar organisasi teroris yang dirilis AS, menyatakan, mereka akan melawan dua kelompok pemberontak lain di kota al-Bab, di Aleppo.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, juga mencatat, ISIL dan kelompok Jabhat al-Nusra terlibat perang sengit pada Sabtu lalu, di Hasaka. Dua orang tewas dalam pertempuran antar-pemberontak Suriah itu.
(esn)