Rusia: Tak ada bukti Assad lakukan serangan kimia
Rabu, 18 September 2013 - 03:24 WIB
Rusia: Tak ada bukti Assad lakukan serangan kimia
A
A
A
Sindonews.com – Rusia dan Perancis tidak setuju laporan penyidik PBB soal serangan senjata kimia di Suriah menjadi penegas kalau rezim Presiden Bashar al-Assad berada di balik serangan itu.
Duduk di samping Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, pada konferensi pers di Moskow, Selasa (17/9/2013), Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, laporan itu tidak menyajikan bukti, bahwa Pasukan Assad melaksanakan serangan 21 Agustus lalu.
Lavrov juga menyatakan, bahwa Rusia masih menduga, kalau pasukan pemberontak Suriah berada di balik serangan itu. Namun, ia mengakui, bahwa laporan penyidik PBB itu telah membuktikan, kalau senjata kimia telah digunakan dalam perang di Suriah.
“Tapi, tidak ada jawaban untuk sejumlah pertanyaan yang kami minta. Termasuk, apakah senjata kimia itu diproduksi di pabrik atau dibuat di rumah. Kami memiliki alasan yang sangat serius untuk percaya, bahwa ini adalah provokasi," kata Lavrov, seperti dikutip dari Reuters.
Menurut Lavrov, ada "banyak provokasi" yang dilakukan oleh pemberontak. “Selama dua tahun terakhir, semua provokasi itu bertujuan untuk hadirnya intervensi asing,” tegas Lavrov. "Kami ingin kejadian 21 Agustus diselidiki tanpa perasaan, obyektif, dan profesional," lanjutnya.
Duduk di samping Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, pada konferensi pers di Moskow, Selasa (17/9/2013), Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, laporan itu tidak menyajikan bukti, bahwa Pasukan Assad melaksanakan serangan 21 Agustus lalu.
Lavrov juga menyatakan, bahwa Rusia masih menduga, kalau pasukan pemberontak Suriah berada di balik serangan itu. Namun, ia mengakui, bahwa laporan penyidik PBB itu telah membuktikan, kalau senjata kimia telah digunakan dalam perang di Suriah.
“Tapi, tidak ada jawaban untuk sejumlah pertanyaan yang kami minta. Termasuk, apakah senjata kimia itu diproduksi di pabrik atau dibuat di rumah. Kami memiliki alasan yang sangat serius untuk percaya, bahwa ini adalah provokasi," kata Lavrov, seperti dikutip dari Reuters.
Menurut Lavrov, ada "banyak provokasi" yang dilakukan oleh pemberontak. “Selama dua tahun terakhir, semua provokasi itu bertujuan untuk hadirnya intervensi asing,” tegas Lavrov. "Kami ingin kejadian 21 Agustus diselidiki tanpa perasaan, obyektif, dan profesional," lanjutnya.
(esn)