Dibanding serangan AS, warga Suriah lebih khawatir keterpurukan ekonomi
Senin, 09 September 2013 - 23:04 WIB
Dibanding serangan AS, warga Suriah lebih khawatir keterpurukan ekonomi
A
A
A
Sindonews.com – Meski Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah bersiap untuk melancarkan serangan ke Suriah, namun sejumlah warga Suriah mengaku lebih mengkhawatirkan keterpurukan ekonomi negara mereka akibat perang saudara yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun.
Sepeti dilaporkan Xinhua, Senin (9/9/2013), kekhawatiran atas kondisi ekonomi jauh lebih besar daripada baying-bayang ancaman serangan AS. Warga Suriah terlalu sibuk berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka, dibanding memikirkan masalah lain.
"Kami telah melalui perang selama hampir tiga tahun dan serangan AS bukan apa-apa lagi," kata seorang wanita Suriah yang tengah membeli bahan makanan di salah satu pasar tradisional Suriah. "Mereka (AS) sudah mencekik kami dengan sanksi ekonomi yang mereka terapkan. Jadi, serangan mereka tidak akan mempengaruhi tubuh kami yang telah mati," tambahnya.
Sebuah laporan terbaru mengatakan, tingkat inflasi Suriah mencapai rekor tertinggi pada kuartal pertama tahun 2013 ini. Harga barang-barang kebutuhan pokok melambung tinggi dibanding saat sebelum perang.
Badan Pusat Statistik mengumumkan baru-baru ini, bahwa tingkat inflasi tahunan telah mencapai 85 persen pada akhir Maret 2013. Ada perkiraan yang lebih mengejutkan lainnya, di mana satu lembaga penelitian AS baru-baru ini menyebut tingkat inflasi di Suriah mencapai 200 persen.
Pada pertegahan pekan lalu, Yordania mengumumkan, bahwa mereka telah menghentikan ekspor pertanian untuk Suriah. Langkah ini dipastikan akan menaikkan harga sayur dan buah di Suriah.
Sepeti dilaporkan Xinhua, Senin (9/9/2013), kekhawatiran atas kondisi ekonomi jauh lebih besar daripada baying-bayang ancaman serangan AS. Warga Suriah terlalu sibuk berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka, dibanding memikirkan masalah lain.
"Kami telah melalui perang selama hampir tiga tahun dan serangan AS bukan apa-apa lagi," kata seorang wanita Suriah yang tengah membeli bahan makanan di salah satu pasar tradisional Suriah. "Mereka (AS) sudah mencekik kami dengan sanksi ekonomi yang mereka terapkan. Jadi, serangan mereka tidak akan mempengaruhi tubuh kami yang telah mati," tambahnya.
Sebuah laporan terbaru mengatakan, tingkat inflasi Suriah mencapai rekor tertinggi pada kuartal pertama tahun 2013 ini. Harga barang-barang kebutuhan pokok melambung tinggi dibanding saat sebelum perang.
Badan Pusat Statistik mengumumkan baru-baru ini, bahwa tingkat inflasi tahunan telah mencapai 85 persen pada akhir Maret 2013. Ada perkiraan yang lebih mengejutkan lainnya, di mana satu lembaga penelitian AS baru-baru ini menyebut tingkat inflasi di Suriah mencapai 200 persen.
Pada pertegahan pekan lalu, Yordania mengumumkan, bahwa mereka telah menghentikan ekspor pertanian untuk Suriah. Langkah ini dipastikan akan menaikkan harga sayur dan buah di Suriah.
(esn)