Korban tewas pembubaran paksa pendukung Morsi jadi 124 jiwa
Rabu, 14 Agustus 2013 - 21:35 WIB
Korban tewas pembubaran paksa pendukung Morsi jadi 124 jiwa
A
A
A
Sindonews.com - Jumlah korban tewas dalam bentrok mematikan antara anggota Ikhwanul Muslimin, pendukung presiden terguling, Mohammed Morsi, dengan aparat keamanan di dua kamp di Kairo, bertambah 81 orang. Dengan demikian, jumlah korban tewas menjadi 124 jiwa, Rabu (14/8/2013).
Pasukan keamanan Mesir melemparkan tabung gas air mata dan mengerahkan sejumlah buldoser untuk melancarkan operasi pembersihan pendukung Morsi dari dua kamp di Kairo. Bentrok mematikan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan tak terelakan.
Berdasarkan perhitungan koresponden AFP, di kamar mayat darurat ditemukan 124 jenazah. Ikhwanul Muslimin mengatakan, sejak Morsi digulingkan, sudah 2.200 orang tewas, sementara lebih dari 10 ribu terluka.
Lantai sejumlah lantai rumah sakit dan lapangan licin oleh darah, sementara banyak dokter berjuang menyelamatkan nyawa korban. Banyak di antara korban luka dan selamat terlihat putus asa menghadapi luka mereka.
Bentrok mematikan dimulai saat fajar di kamp Rabaa al-Adawiya, sisi timur Kairo dan alun-alun Al-Nahda. Saksi mata dan koresponden AFP mengatakan, polisi mengepung kamp Rabaa al-Adawiya. Mereka kemudian melepaskan tabung gas kecil yang berisi gas air mata. Akibatnya, kekacauan seketika pecah di tengah ribuan pengunjuk rasa yang telah menetap sejak 3 Juli lalu.
Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri Mesir, pasukan keamanan telah berhasil menguasai kamp alun-alun Al-Nahda. "Pasukan keamanan hanya menggunakan tabung gas air mata untuk membubarkan para demonstran, sementara tembak menembak datang dari dua kubu penentang dan pendukung Morsi. Akibatnya, seorang perwira dan wajib militer tewas, sementara empat polisi mengalami luka-luka," lanjut pernyataan tersebut.
Pasukan keamanan Mesir melemparkan tabung gas air mata dan mengerahkan sejumlah buldoser untuk melancarkan operasi pembersihan pendukung Morsi dari dua kamp di Kairo. Bentrok mematikan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan tak terelakan.
Berdasarkan perhitungan koresponden AFP, di kamar mayat darurat ditemukan 124 jenazah. Ikhwanul Muslimin mengatakan, sejak Morsi digulingkan, sudah 2.200 orang tewas, sementara lebih dari 10 ribu terluka.
Lantai sejumlah lantai rumah sakit dan lapangan licin oleh darah, sementara banyak dokter berjuang menyelamatkan nyawa korban. Banyak di antara korban luka dan selamat terlihat putus asa menghadapi luka mereka.
Bentrok mematikan dimulai saat fajar di kamp Rabaa al-Adawiya, sisi timur Kairo dan alun-alun Al-Nahda. Saksi mata dan koresponden AFP mengatakan, polisi mengepung kamp Rabaa al-Adawiya. Mereka kemudian melepaskan tabung gas kecil yang berisi gas air mata. Akibatnya, kekacauan seketika pecah di tengah ribuan pengunjuk rasa yang telah menetap sejak 3 Juli lalu.
Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri Mesir, pasukan keamanan telah berhasil menguasai kamp alun-alun Al-Nahda. "Pasukan keamanan hanya menggunakan tabung gas air mata untuk membubarkan para demonstran, sementara tembak menembak datang dari dua kubu penentang dan pendukung Morsi. Akibatnya, seorang perwira dan wajib militer tewas, sementara empat polisi mengalami luka-luka," lanjut pernyataan tersebut.
(esn)