PBB: Selama Juli, 1.000 tewas akibat kekerasan di Irak
Kamis, 01 Agustus 2013 - 22:16 WIB
PBB: Selama Juli, 1.000 tewas akibat kekerasan di Irak
A
A
A
Sindonews.com – Jumlah korban tewas di Irak akibat aksi kekerasan yang terjadi sepanjang Juli 2013 mencapai lebih 1.000 jiwa. Menurut PBB, ini adalah angka tertinggi selama lima tahun terakhir.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Misi Bantuan PBB untuk Irak, UNAMI, menyatakan, total 1.057 warga Irak tewas dan 2.326 terluka selama sebulan akibat kerusuhan di seluruh negeri.
Menurut pernyataan itu, Baghdad adalah daerah yang paling parah terkena dampak aksi kekerasan dengan 957 korban sipil (238 tewas, 719 terluka). Setelah Baghdad, wilayah berikut yang terparah adalah Salahuddin, Nineveh, dan Diyala.
"Kami belum melihat angka tersebut dalam lebih dari lima tahun terakhir, di mana kemarahan akibat perselisihan sektarian yang ditimbulkan luka di negara ini akhirnya mereda," kata Gyorgy Busztin, utusan PBB di Baghdad.
"Saya mengulangi seruan mendesak saya pada para pemimpin politik Irak untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk menghentikan pertumpahan darah tidak masuk akal, dan untuk mencegah hari-hari gelap dari kembali," kata Busztin, seperti dikutip dari Xinhua.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Misi Bantuan PBB untuk Irak, UNAMI, menyatakan, total 1.057 warga Irak tewas dan 2.326 terluka selama sebulan akibat kerusuhan di seluruh negeri.
Menurut pernyataan itu, Baghdad adalah daerah yang paling parah terkena dampak aksi kekerasan dengan 957 korban sipil (238 tewas, 719 terluka). Setelah Baghdad, wilayah berikut yang terparah adalah Salahuddin, Nineveh, dan Diyala.
"Kami belum melihat angka tersebut dalam lebih dari lima tahun terakhir, di mana kemarahan akibat perselisihan sektarian yang ditimbulkan luka di negara ini akhirnya mereda," kata Gyorgy Busztin, utusan PBB di Baghdad.
"Saya mengulangi seruan mendesak saya pada para pemimpin politik Irak untuk mengambil tindakan segera dan tegas untuk menghentikan pertumpahan darah tidak masuk akal, dan untuk mencegah hari-hari gelap dari kembali," kata Busztin, seperti dikutip dari Xinhua.
(esn)