DPR AS putuskan penyadapan oleh NSA berlanjut

Kamis, 25 Juli 2013 - 11:22 WIB
DPR AS putuskan penyadapan...
DPR AS putuskan penyadapan oleh NSA berlanjut
A A A
Sindonews.com- Parlemen AS melalui pemungutan suara, Rabu kemarin, memutuskan batal mengamandemen UU Kewenangan Pertahanan yang jadi rujukan National Security Agency (NSA) atau Badan Keamanan Nasional AS. Dengan demikian, penyadapan telepon dan internet oleh NSA tetap berlanjut.

Dalam pemungutan suara, 217 anggota DPR menolak amandemen yang diusulkan politikus Partai Republik, Justin Amash. Justin Amash, dalam debat kemarin, menyatakan, usulan amandemen itu memiliki dasar.

”Dengan menggunakan taktik yang sama, setiap pemerintahan sepanjang sejarah telah digunakan untuk membenarkan pelanggaran atas hak-hak warga,” ujarnya, seperti dikutip BBC, Kamis (25/7/2013). ”Mereka akan memberitahu Anda, bahwa pemerintah harus melanggar hak-hak rakyat Amerika,” lanjut Amash.

Dari kubu Partai Demokrat, 111 suara memilih untuk mengamandemen UU, meski ditentang pihak Gedung Putih. Sedangkan 83 menentang mengamandemen UU. Sedangkan dari Partai Republik, 94 suara setuju mengamandemen UU seperti usulan Amash. Namun, 134 suara lainnya menentang.


NSA mulai mengumpulkan catatan telepon warga Amerika pada tahun 2001. Penyadapan itu, sebagai bagian dari program surveilans yang telah diluncurkan oleh Presiden AS sebelumnya, George Walker Bush, pasca-serangan 11/9.

Penyadapan itu berlanjut di era Presiden Obama. Tapi, pada Juni 2013, mantan kontraktor CIA, Edward Snowden membocorkan penyadapan itu.

Anggota DPR yang menentang amandemen UU tersebut, sepakat dengan alasan Gedung Putih, bahwa program itu untuk melawan terorisme. ”Apakah 12 tahun berlalu dan kenangan kita memudar begitu buruk, bahwa kita lupa apa yang terjadi pada 11 September?,” kata Mike Rogers, Ketua Partai Republik dari komite intelijen DPR.

Anggota DPR, Minnesota Michele Bachmann yang biasanya tidak sejalan dengan kebijakan Obama, ternyata juga mendukung program NSA. ”Janganlah kita berurusan dengan narasi palsu," katanya. "Mari kita berurusan dengan fakta yang akan membuat Amerika aman."
(esn)
Berita Terkait
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Apa Pemicu Kehancuran...
Apa Pemicu Kehancuran Amerika Serikat?
Menhan Prabowo Bertemu...
Menhan Prabowo Bertemu Menhan Amerika Serikat
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Berita Terkini
Pemimpin Tertinggi Iran...
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Peringatkan Perpecahan setelah Kekalahan Musuh di Medan Perang
49 menit yang lalu
Pesawat Nirawak Ukraina...
Pesawat Nirawak Ukraina Serang Crimea, 4 Orang Tewas, 10 Luka
1 jam yang lalu
706 Paus dan Lumba-lumba...
706 Paus dan Lumba-lumba Dibantai, Laut Ini Berubah Jadi Perairan Darah
3 jam yang lalu
Rusia Ancam Armenia:...
Rusia Ancam Armenia: Tak Lagi Dipasok Minyak Murah Jika Nekat Gabung Uni Eropa!
4 jam yang lalu
AS Hendak Kerahkan Senjata...
AS Hendak Kerahkan Senjata Nuklir ke Lebih Banyak Negara NATO, Bisa Bikin Rusia Murka
5 jam yang lalu
6 Jet Tempur Canggih...
6 Jet Tempur Canggih yang Bakal Panaskan Langit ASEAN: F-35 Singapura hingga Rafale Indonesia
5 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved