Iran: Perlu ada gencatan senjata di Suriah selama Ramadan
Selasa, 16 Juli 2013 - 20:45 WIB
Iran: Perlu ada gencatan senjata di Suriah selama Ramadan
A
A
A
Sindonews.com - Iran menyambut terealisasinya gencatan senjata antara pemberontak dan tentara Suriah selama bulan suci Ramadan. Iran juga menegaskan, bahwa gencatan senjata akan menjadi satu-satunya cara bagi pemerintah Suriah untuk menyelesaikan krisis nasionalnya, Selasa (16/7/2013).
Dukungan dari Iran itu datang, setelah posisi pemberontak tertekan karena tentara Suriah berhasil membuat sejumlah kemajuan, salah satunya operasi di Homs. "Gencatan senjata pada dasarnya adalah sesuatu hal yang memang perlu dilakukan," ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi dalam konferensi pers mingguan.
Araqchi mengatakan, satu-satunya cara untuk keluar dari krisis adalah dengan menggelar dialog nasional antara pemberontak dan pemerintah Suriah. "Kami menyarankan pemberontak untuk meletakan dan menyingkirikan semua senjata mereka agar mereka semua dapat menggelar negosiasi dengan Pemerintah Suriah," ungkap Araqchi.
Seruan serupa sebelumnya datang dari Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. "Saya menyerukan setiap unit militer, seperti tentara Suriah, Tentara Pembebasan Suriah (FSA), serta seluruh orang yang mengangkat senjata untuk menghentikan pertempuran dan menghadirkan kedamaian sepanjang bulan ini, sebagai bentuk hadiah bersama kepada seluruh rakyat Suriah," ungkap Ki-moon dalam sebuah pernyataan.
Sebelumnya, salah satu kelompok oposisi di Suriah telah mengajak pemerintah untuk melakukan gencaran senjata. Tawaran positif itu datang dari Kepala Koalisi Nasional Suriah (SNC) yang baru terpilih, Ahmad Jurba. Dirinya menawarkan gencatan senjata kepada pemerintah di ProvinsI Homs selama Ramadan.
Kendati demikian, tawaran gencatan senjata itu tampaknya sulit untuk dipraktikan. Pasalnya, banyak kelompok pemberontak yang aktif di lapangan, yang tidak mengikuti rantai komando SNC. "Terlebih, Pemerintah Assad sudah berhasil menduduki beberapa daerah di Kota Homs,” ujarnya.
Dukungan dari Iran itu datang, setelah posisi pemberontak tertekan karena tentara Suriah berhasil membuat sejumlah kemajuan, salah satunya operasi di Homs. "Gencatan senjata pada dasarnya adalah sesuatu hal yang memang perlu dilakukan," ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi dalam konferensi pers mingguan.
Araqchi mengatakan, satu-satunya cara untuk keluar dari krisis adalah dengan menggelar dialog nasional antara pemberontak dan pemerintah Suriah. "Kami menyarankan pemberontak untuk meletakan dan menyingkirikan semua senjata mereka agar mereka semua dapat menggelar negosiasi dengan Pemerintah Suriah," ungkap Araqchi.
Seruan serupa sebelumnya datang dari Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. "Saya menyerukan setiap unit militer, seperti tentara Suriah, Tentara Pembebasan Suriah (FSA), serta seluruh orang yang mengangkat senjata untuk menghentikan pertempuran dan menghadirkan kedamaian sepanjang bulan ini, sebagai bentuk hadiah bersama kepada seluruh rakyat Suriah," ungkap Ki-moon dalam sebuah pernyataan.
Sebelumnya, salah satu kelompok oposisi di Suriah telah mengajak pemerintah untuk melakukan gencaran senjata. Tawaran positif itu datang dari Kepala Koalisi Nasional Suriah (SNC) yang baru terpilih, Ahmad Jurba. Dirinya menawarkan gencatan senjata kepada pemerintah di ProvinsI Homs selama Ramadan.
Kendati demikian, tawaran gencatan senjata itu tampaknya sulit untuk dipraktikan. Pasalnya, banyak kelompok pemberontak yang aktif di lapangan, yang tidak mengikuti rantai komando SNC. "Terlebih, Pemerintah Assad sudah berhasil menduduki beberapa daerah di Kota Homs,” ujarnya.
(esn)