OKI desak Sekjen PBB berupaya hentikan kekerasan di Myanmar

Kamis, 11 Juli 2013 - 16:00 WIB
OKI desak Sekjen PBB...
OKI desak Sekjen PBB berupaya hentikan kekerasan di Myanmar
A A A
Sindonews.com - Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyerukan sekjen PBB, Ban Ki-moon berbuat lebih banyak untuk menghentikan tirani di Myanmar, sementara umat Muslim di sana bertahan dengan kondisi memprihatinkan.

Abdullah al-Mouallemi, Duta Besar Arab Saudi untuk PBB, mengatakan, PBB harus menekan Pemerintah Myanmar untuk segera menyelesaikan masalah itu. "Myanmar dapat bermesraan dengan dunia. Tapi, satu-satunya masalalah adalah kemesraan itu dibangun di atas tubuh umat muslim yang menjadi korban di negera itu," ungkap Mouallemi.

Ungkapan itu disampaikan Mouallemi saat sejumlah negara anggota OKI Mengadakan pertemuan dengan Ki-moon yang khusus mendesak PBB lebih banyak bertindak, terutama untuk masalah yang menimpa umat muslim Rohingya di Myanmar. Seperti diketahui, 44 warga Myanmar yang sebagian besar muslim tewas dalam pertikaian sektarian di Myanmar tengah pada Maret lalu.

Mouallemi mengatakan, OKI menginginkan PBB dan sejumlah negara besar, khususnya Amerika Serikat, Rusia, Cina, Uni Eropa, dan sejumlah negara tetangga Myanmar angkat bicara dan menentang apa yang disebut pembersihan etnis Rohingya. "Menurut saya PBB dapat melakukan lebih dan itu harus dilakukan," ungkap Mouallemi.

"Sebab, saat ini Myanmar sedang mencoba membuka diri kepada dunia, menarik perhatian, investasi, dan keterlibatan seluruh dunia," jelasnya. "Harus ada yang mengakhiri pembunuhan, yang lebih mendasar dari itu adalah mengakhiri penganiyaan yang dihadapi oleh Muslim Rohingya," desak Mouallemi.

Sementara itu, Roble Olhaye, Duta Besar Djibouti untuk PBB, sekaligus kepala kelompok OKI di PBB menyebut penderitaan muslim Rohingya sebagai tindakan pembersihan etnis. "Pihak berwenang Myanmar gagal dalam mengambil tindakan yang diperlukan untuk menghentikan kekerasan," ungkap Olhaye.

"Yang kita butuhkan dari PBB adalah suara yang keras dan jelas, menyentuh nurani di dunia," kata Olhaye. "Hak-hak dan nilai kemanusiaan yang paling mendasar telah terinjak oleh pemerintah dan unsur-unsir radikal di dalam Myanmar," terang Olhaye.
(esn)
Berita Terkait
Pakar PBB: Junta Myanmar...
Pakar PBB: Junta Myanmar Lakukan Kejahatan terhadap Kemanusiaan Sejak Kudeta
Sudah Bisa Ditebak,...
Sudah Bisa Ditebak, Partai Pro-militer Myanmar Menang Pemilu
PM Myanmar: Tidak Ada...
PM Myanmar: Tidak Ada Satu Kekuatan Pun yang Boleh Mengendalikan Dunia
Myanmar Akan Gelar Pemilu...
Myanmar Akan Gelar Pemilu pada Desember 2025
Terjebak Semalaman,...
Terjebak Semalaman, Demonstran Myanmar Berhasil Lolos dari Kepungan Pasukan Keamanan
Berlutut Hadang Polisi...
Berlutut Hadang Polisi Myanmar, Biarawati: Tembak Aku Saja
Berita Terkini
Presiden Iran Klaim...
Presiden Iran Klaim Teheran Keluar sebagai Pemenang, Ini Alasan Utamanya
1 jam yang lalu
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
3 jam yang lalu
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
6 jam yang lalu
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
7 jam yang lalu
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
8 jam yang lalu
Dunia Sambut Positif...
Dunia Sambut Positif Perdamaian AS dan Iran, Hanya Israel yang Marah
9 jam yang lalu
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved