Singapura terima permintaan maaf SBY dengan sepenuh hati
Rabu, 26 Juni 2013 - 11:36 WIB
Singapura terima permintaan maaf SBY dengan sepenuh hati
A
A
A
Sindonews.com- Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, pada Rabu (26/6/2013), mengatakan permintaan maaf yang disampaikan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas kabut asap yang memicu polusi udara di Singapura dan Malaysia, menujukan sikap pemimpin yang ramah.
"Singapura menerima permintaan maafnya dengan sepenuh hati. Kami menyambut baik janji Presiden Yudhoyono untuk mengatasi masalah serius, yang telah menyebabkan penderitaan bagi rakyat Singapura, Malaysia dan Indonesia," ungkap PM, Lee dalam sebuah pernyataan.
"Kami berharap, Indonesia mengambil tindakan lebih cepat dan berkelanjutan untuk memadamkan api dan menghentikan praktik pembukaan lahan secara ilegal," imbuh Lee
Dalam kesempatan itu, Lee kembali menegaskan, bahwa, Singapura tetap menawarkan bantuan kepada Indonesia, untuk memadamkan api bersama Malaysia dan negara lain di kawasan regional. "Kita perlu membuat sebuah solusi permanen untuk mencegah masalah ini agar tidak berulang setiap tahunnya," lanjut Lee.
Sebelumnya, kelompok pemerhati lingkungan Greenpeace, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa, ratusan titik api di konsesi kebun kelapa sawit dimiliki Indonesia, Malaysia dan perusahaan Singapura.
Sepekan yang lalu, kabut asap itu sempat membuat standar indeks polusi Singapura mencapai tingkat tertinggi dan terburuk, dengan indeks polusi mencapai angka 401, pada Jumat (21/6/2013). Angka itu meningkat 30 digit dibanding dengan pengumuman yang dibuat pemerintah Singapura 23 jam sebelumnya.
"Singapura menerima permintaan maafnya dengan sepenuh hati. Kami menyambut baik janji Presiden Yudhoyono untuk mengatasi masalah serius, yang telah menyebabkan penderitaan bagi rakyat Singapura, Malaysia dan Indonesia," ungkap PM, Lee dalam sebuah pernyataan.
"Kami berharap, Indonesia mengambil tindakan lebih cepat dan berkelanjutan untuk memadamkan api dan menghentikan praktik pembukaan lahan secara ilegal," imbuh Lee
Dalam kesempatan itu, Lee kembali menegaskan, bahwa, Singapura tetap menawarkan bantuan kepada Indonesia, untuk memadamkan api bersama Malaysia dan negara lain di kawasan regional. "Kita perlu membuat sebuah solusi permanen untuk mencegah masalah ini agar tidak berulang setiap tahunnya," lanjut Lee.
Sebelumnya, kelompok pemerhati lingkungan Greenpeace, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa, ratusan titik api di konsesi kebun kelapa sawit dimiliki Indonesia, Malaysia dan perusahaan Singapura.
Sepekan yang lalu, kabut asap itu sempat membuat standar indeks polusi Singapura mencapai tingkat tertinggi dan terburuk, dengan indeks polusi mencapai angka 401, pada Jumat (21/6/2013). Angka itu meningkat 30 digit dibanding dengan pengumuman yang dibuat pemerintah Singapura 23 jam sebelumnya.
(esn)