Iran dikabarkan kirim 4.000 tentara ke Suriah
Senin, 17 Juni 2013 - 11:24 WIB
Iran dikabarkan kirim 4.000 tentara ke Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Iran dilaporkan telah mengirim sebanyak 4.000 tentara Garda Revolusi ke Suriah untuk bergabung dengan tentara Presiden Suriah, Bashar al-Assad melawan pasukan pemberontak. Demikian dilaporkan The Independent, Minggu (16/6/2013).
The Independent mengutip sebuah sumber yang mendukung pemerintah dan ikut campur mengurusi masalah keamanan Iran, menggambarkan langkah tersebut sebagai keputusan militer. "Iran sekarang berkomitmen penuh melestarikan rezim Assad," ungkap sumber tersebut.
Dalam laporan yang ditulis oleh Robert Fisk itu, dikatakan bahwa keputusan pengiriman 4.000 personel Garda Revolusi Iran diduga dibuat sebelum proses pemilu Presiden Iran berlangsung pada akhir pekan kemarin dan itu merupakan kontingen pertama dari Iran.
"Sumber-sumber Iran mengatakan, mereka terus menjalin hubungan dengan Moskow (sekutu Suriah) dan proses penarikan semua pasukan Hizbullah dari Suriah segera berakhir, pemeliharaan akan dilakukan oleh milisi intelijen dari dalam Suriah, sementara dukungan Teheran terhadap Suriah tidak akan layu dan terus bertumbuh," ungkap laporan itu.
Sebelumnya, Sunday Times melaporkan, pejuang Hizbullah dan tentara Garda Revolusi yang datang ke Suriah telah membuka jalan bagi tentara Suriah dalam melawan pemberontak di Aleppo, Suriah utara. Serangan tersebut dilancarkan kurang dari sepekan setelah tentara merebut Kota Qusayr.
Menurut al-Watan, Sabtu 8 Juni lalu, tentara Suriah meluncurkan operasi baru bernama "Badai Utara". Operasi penyerangan itu bertujuan mengusir seluruh pemberontak bersenjata dari wilayah pedesaan Aleppo.
Seorang pengamat lainnya mengatakan, serangan militer Suriah ke Aleppo bertujuan membelah kota dan pedesaan, sekaligus memotong suplai kebutuhan pemberontak yang datang dari Turki. Setelah kekuatan pemberontak melemaha, maka tentara dapat dengan mudah mengusir pemberontak dari wilayah kota.
The Independent mengutip sebuah sumber yang mendukung pemerintah dan ikut campur mengurusi masalah keamanan Iran, menggambarkan langkah tersebut sebagai keputusan militer. "Iran sekarang berkomitmen penuh melestarikan rezim Assad," ungkap sumber tersebut.
Dalam laporan yang ditulis oleh Robert Fisk itu, dikatakan bahwa keputusan pengiriman 4.000 personel Garda Revolusi Iran diduga dibuat sebelum proses pemilu Presiden Iran berlangsung pada akhir pekan kemarin dan itu merupakan kontingen pertama dari Iran.
"Sumber-sumber Iran mengatakan, mereka terus menjalin hubungan dengan Moskow (sekutu Suriah) dan proses penarikan semua pasukan Hizbullah dari Suriah segera berakhir, pemeliharaan akan dilakukan oleh milisi intelijen dari dalam Suriah, sementara dukungan Teheran terhadap Suriah tidak akan layu dan terus bertumbuh," ungkap laporan itu.
Sebelumnya, Sunday Times melaporkan, pejuang Hizbullah dan tentara Garda Revolusi yang datang ke Suriah telah membuka jalan bagi tentara Suriah dalam melawan pemberontak di Aleppo, Suriah utara. Serangan tersebut dilancarkan kurang dari sepekan setelah tentara merebut Kota Qusayr.
Menurut al-Watan, Sabtu 8 Juni lalu, tentara Suriah meluncurkan operasi baru bernama "Badai Utara". Operasi penyerangan itu bertujuan mengusir seluruh pemberontak bersenjata dari wilayah pedesaan Aleppo.
Seorang pengamat lainnya mengatakan, serangan militer Suriah ke Aleppo bertujuan membelah kota dan pedesaan, sekaligus memotong suplai kebutuhan pemberontak yang datang dari Turki. Setelah kekuatan pemberontak melemaha, maka tentara dapat dengan mudah mengusir pemberontak dari wilayah kota.
(esn)