PM Kamboja desak demostran hentikan protes terhadap oposisi
Kamis, 13 Juni 2013 - 18:09 WIB
PM Kamboja desak demostran hentikan protes terhadap oposisi
A
A
A
Sindonews.com - Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mendesak demonstran menghentikan demonstrasi terhadap Kem Sokha, Wakil Presiden dari Partai Penyelamat nasional Kamboja (CNRP), Kamis (13/6/2013). Sokha telah melontarkan bantahan atas tindak kejahatan selama Demokrasi Kampuchea atau rezim Khmer Merah berkuasa.
"Saya memohon kepada para demostran menghentikan aksi demonstrasi menentang Sokha, sampai pemilu umum 28 Juli mendatang terlaksan. Hal ini perlu dilakukan guna memastikan proses kampanye selama satu bulan penuh jelang pemilihan umum berjalan lancar," ungkap Hun Sen disela-sela peresmian peresmian kantor pusat Komite Olimpiade Nasional Kamboja di Phnom Penh.
Hun Sen menyarankan kepada pemerintah daerah untuk tidak memberi izin kepada semua pihak yang meminta izin menyelenggarakan aksi demonstrasi terhadap Kem Sohka sebelum pemilu selesai dilaksanakan.
Pekan lalu, persatuan korban rezim Khmer Merah yang selamat mengadakan aksi protes nasional terhadap Sokha. Mereka mendesak Sokha meminta maaf atas sikapnya yang menyangkal semua tudingan bahwa dia terlibat dalam tindakan kejahatan di penjara Tuol Sleng saat Khemer Merah berkuasa pada 1975-1979.
Di penjara itu, sekitar 14 ribu orang jadi korban penyiksaan yang dilakukan rezim Khemer Merah. Skoha sendiri menolak meminta maaf kepada pengunjuk rasa, karena dia tidak membantah saat ditanya bahwa Khemer Merah telah melakukan kekejaman. Menurutnya, isi rekaman itu telah diubah dan memicu terjadinya kekacauan jelang pemilu nasional.
"Saya memohon kepada para demostran menghentikan aksi demonstrasi menentang Sokha, sampai pemilu umum 28 Juli mendatang terlaksan. Hal ini perlu dilakukan guna memastikan proses kampanye selama satu bulan penuh jelang pemilihan umum berjalan lancar," ungkap Hun Sen disela-sela peresmian peresmian kantor pusat Komite Olimpiade Nasional Kamboja di Phnom Penh.
Hun Sen menyarankan kepada pemerintah daerah untuk tidak memberi izin kepada semua pihak yang meminta izin menyelenggarakan aksi demonstrasi terhadap Kem Sohka sebelum pemilu selesai dilaksanakan.
Pekan lalu, persatuan korban rezim Khmer Merah yang selamat mengadakan aksi protes nasional terhadap Sokha. Mereka mendesak Sokha meminta maaf atas sikapnya yang menyangkal semua tudingan bahwa dia terlibat dalam tindakan kejahatan di penjara Tuol Sleng saat Khemer Merah berkuasa pada 1975-1979.
Di penjara itu, sekitar 14 ribu orang jadi korban penyiksaan yang dilakukan rezim Khemer Merah. Skoha sendiri menolak meminta maaf kepada pengunjuk rasa, karena dia tidak membantah saat ditanya bahwa Khemer Merah telah melakukan kekejaman. Menurutnya, isi rekaman itu telah diubah dan memicu terjadinya kekacauan jelang pemilu nasional.
(esn)