Israel: Rusia tak akan kirim rudal S-300 sebelum 2014
Senin, 03 Juni 2013 - 22:42 WIB
Israel: Rusia tak akan kirim rudal S-300 sebelum 2014
A
A
A
Sindonews.com – Rusia tidak akan memberikan rudal canggih anti-pesawat S-300 ke Suriah sebelum tahun 2014. Demikian ditegaskan Menteri Pertahanan Israel, Moshe Yaalon, Senin (3/6/2013), seperti dilaporkan radio militer Israel.
"Kami Mengikuti masalah ini dengan keprihatinan, tetapi tidak ada pengiriman yang telah dilakukan. Kalaupun ada, tidak akan dilakukan sebelum tahun depan,” kata Yaalon di depan Komite urusan Luar Negeri dan Pertahanan Parlemen Israel.
Yaalon tidak mengungkapkan, bagaimana ia bisa sampai pada kesimpulan itu. Sebelumnya, pada 28 Mei silam, Yaalon menyatakan, bahwa Israel "tahu apa yang harus dilakukan" jika Rusia mengirimkan sistem rudal canggih S-300 ke Suriah.
Pada anggota parlemen, Yaalon menegaskan, bahwa Israel tidak tertarik terlibat dalam konflik internal di Suriah yang sudah berlangsung selama dua tahun lebih. Menurutnya, Israel hanya akan bertindak jika ada kemungkinan bahaya terhadap negara yahudi itu.
"Kami tidak akan terlibat dalam perang sipil, selama mereka tidak membahayakan kami. Atau, jika ada upaya untuk mentransfer senjata pada pihak yang tidak tepat, terutama kepada Hizbullah. Selain itu, jika ada upaya untuk mengambil alih senjata kimia atau penembakan di wilayah perbatasan kami,” jelasnya.
"Kami Mengikuti masalah ini dengan keprihatinan, tetapi tidak ada pengiriman yang telah dilakukan. Kalaupun ada, tidak akan dilakukan sebelum tahun depan,” kata Yaalon di depan Komite urusan Luar Negeri dan Pertahanan Parlemen Israel.
Yaalon tidak mengungkapkan, bagaimana ia bisa sampai pada kesimpulan itu. Sebelumnya, pada 28 Mei silam, Yaalon menyatakan, bahwa Israel "tahu apa yang harus dilakukan" jika Rusia mengirimkan sistem rudal canggih S-300 ke Suriah.
Pada anggota parlemen, Yaalon menegaskan, bahwa Israel tidak tertarik terlibat dalam konflik internal di Suriah yang sudah berlangsung selama dua tahun lebih. Menurutnya, Israel hanya akan bertindak jika ada kemungkinan bahaya terhadap negara yahudi itu.
"Kami tidak akan terlibat dalam perang sipil, selama mereka tidak membahayakan kami. Atau, jika ada upaya untuk mentransfer senjata pada pihak yang tidak tepat, terutama kepada Hizbullah. Selain itu, jika ada upaya untuk mengambil alih senjata kimia atau penembakan di wilayah perbatasan kami,” jelasnya.
(esn)