Erdogan sebut para pengunjuk rasa sebagai kaum ekstrimis

Senin, 03 Juni 2013 - 17:58 WIB
Erdogan sebut para pengunjuk...
Erdogan sebut para pengunjuk rasa sebagai kaum ekstrimis
A A A
Sindonews.com - Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan tak terima dengan tudingan para pengunjuk rasa yang menyebut dirinya sebagai diktator. Erdogan malah balik menyebut para pengunjuk rasa sebagai ekstrimis.

"Jika mereka menyebut seorang yang telah melayani rakyat dengan sebutan diktator, saya tidak bisa berkata apa-apa," ungkap Erdogan dalam pidatonya di depan kelompok migran yang berasal dari negara Balkan.

"Yang menjadi perhatian saya saat ini adalah melayani negara saya," imbuh Erdogan seperti dilansir Presstv.

"Saya bukan penguasa rakyat. Kediktatoran tidak mengalir dalam darah dan karekter pribadi saya. Saya adalah seorang pelayan masyarakat," ungkap Erdogan.

Erdogan menyebut para pengunjuk rasa berdemo atas dasar idelogis dan diorganisir oleh kelompok oposisi yang tidak dapat mengalahkan pemerintah yang berkuasa lewat jalur resmi melalui pemungutan di kotak suara.

Dia lantas mengungkapkan, para pengunjuk rasa telah melakukan aksi vandalisme. "Mereka telah menghancurkan 89 kendaraan milik kepolisian, 42 mobil pribadi, empat bus dan 94 unit usaha dalam aksi ujuk rasa mereka," ungkap Erdogan.

Seperti diketahui, puluhan ribu demonstran anti pemerintah Turki menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah kota di Turki, termasuk Istanbul, Ankara, Izmir, Mugla, Antalya. Di alun-alun Istanbul, Taksim, sebanyak 10 ribu demonstran menuntut Ergogan mundur dari jabatannya dan meneriakan kata "Kemenangan, kemenangan, kemenangan,".

Di lokasi yang berbeda, sekitar 7 ribu warga Turki juga menggelar aksi demonstrasi di Ibu Kota Ankara, mereka mengecam Erdogan dan menyebutnya sebagai diktaor yang fasis.

Aksi demonstrasi yang berawal damai berakhir ricuh, sebagai puncak kemarahan rakyat terhadap sikap otoriter Erdogan. Polisi Turki dilaporkan menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air untuk membubarkan para demonstran di Kota Ankara. Sikap aparat itu ia sebut sebagai tindakan menyapu negara.

Dalam gaya kepemimpinannya, Erdogan mencoba untuk meninggalkan cap kuno yang melekat pada Turki, dengan merombak konstitusi dan kebijakan luar negeri. Tapi, beberapa pihak, termasuk mantan pendukungnya, menuduh pemerintahan Erdogan telah bersikap otoriter.
(esn)
Berita Terkait
Timnas Indonesia Dibungkam...
Timnas Indonesia Dibungkam Inggris 0-3 di Piala Dunia Amputasi
Banyak Bangunan Ambruk...
Banyak Bangunan Ambruk Saat Gempa, Turki Tahan 180 Orang
Hikmah di Balik Bencana,...
Hikmah di Balik Bencana, Perbatasan Armenia-Turki Dibuka untuk Pertama Kalinya
Jaga Amanah 106 Tahun,...
Jaga Amanah 106 Tahun, Keluarga Palestina Serahkan Uang Tentara Turki Utsmani
Harapan di Tengah Reruntuhan...
Harapan di Tengah Reruntuhan Gempa Dahsyat Turki-Suriah
Pelepasan Bantuan Kemanusiaan...
Pelepasan Bantuan Kemanusiaan ke Turki
Berita Terkini
Pejuang Hizbullah Sergap...
Pejuang Hizbullah Sergap Pasukan Israel di Lebanon
14 menit yang lalu
Ini 5 Bukti Perjanjian...
Ini 5 Bukti Perjanjian Damai AS dan Iran Tunjukkan Kegagalan Tujuan Perang Israel
1 jam yang lalu
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
2 jam yang lalu
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
3 jam yang lalu
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
4 jam yang lalu
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
5 jam yang lalu
Infografis
Respons Donald Trump...
Respons Donald Trump usai Gambarnya sebagai Paus Viral
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved