Perancis serukan tindakan terhadap militan Islam di Libya selatan
Rabu, 29 Mei 2013 - 22:37 WIB
Perancis serukan tindakan terhadap militan Islam di Libya selatan
A
A
A
Sindonews.com – Perancis mendesak negara-negara Afrika untuk melakukan upaya bersama guna mengatasi ancaman militan Islam di wilayah selatan Libya. Hal ini diungkapkan Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius saat melakukan lawatan ke Nigeria, Selasa (28/5/2013).
"Tampaknya kita harus membuat upaya khusus di selatan Libya, yang juga jadi hal yang diinginkan oleh Libya," kata Fabius setelah bertemu dengan Presiden Nigeria, Mahamadou Issoufou. "Kami berbicara tentang inisiatif yang dapat dilakukan negara-negara tetangga, dalam hubungan dengan Libya," lanjut Fabius, seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan ini dilontarkan Fabius, setelah terjadinya serangan bom bunuh diri terhadap sebuah tambang uranium di Nigeria yang dikelola oleh perusahaan Perancis. Pemerintah Nigeria menyatakan, para penyerang berasal dari Libya, hal yang dibantah oleh Pemerintah Libya.
Fabius mengatakan, upaya untuk mengatasi masalah di Libya selatan akan membutuhkan dukungan dari Tunisia, Aljazair, Chad, Mali, dan Mesir.
"Karena, seperti yang sering dikatakan, sebagian besar wilayah Libya bisa menjadi perlindungan bagi kelompok-kelompok teroris. Semua negara-negara harus bertindak bersama-sama," kata Fabius. Ia menambahkan, bahwa Perancis akan membantu mereka dengan "banyak tekad, banyak solidaritas".
Libya telah menjadi rute penyelundupan senjata untuk militan al Qaeda di Sahara, sejak jatuhnya diktator Liya, Muammar Gaddafi pada 2011 silam.
"Tampaknya kita harus membuat upaya khusus di selatan Libya, yang juga jadi hal yang diinginkan oleh Libya," kata Fabius setelah bertemu dengan Presiden Nigeria, Mahamadou Issoufou. "Kami berbicara tentang inisiatif yang dapat dilakukan negara-negara tetangga, dalam hubungan dengan Libya," lanjut Fabius, seperti dikutip dari Reuters.
Pernyataan ini dilontarkan Fabius, setelah terjadinya serangan bom bunuh diri terhadap sebuah tambang uranium di Nigeria yang dikelola oleh perusahaan Perancis. Pemerintah Nigeria menyatakan, para penyerang berasal dari Libya, hal yang dibantah oleh Pemerintah Libya.
Fabius mengatakan, upaya untuk mengatasi masalah di Libya selatan akan membutuhkan dukungan dari Tunisia, Aljazair, Chad, Mali, dan Mesir.
"Karena, seperti yang sering dikatakan, sebagian besar wilayah Libya bisa menjadi perlindungan bagi kelompok-kelompok teroris. Semua negara-negara harus bertindak bersama-sama," kata Fabius. Ia menambahkan, bahwa Perancis akan membantu mereka dengan "banyak tekad, banyak solidaritas".
Libya telah menjadi rute penyelundupan senjata untuk militan al Qaeda di Sahara, sejak jatuhnya diktator Liya, Muammar Gaddafi pada 2011 silam.
(esn)