Oposisi Suriah tolak penyidik senjata kimia dari Rusia
Sabtu, 27 April 2013 - 17:18 WIB
Oposisi Suriah tolak penyidik senjata kimia dari Rusia
A
A
A
Sindonews.com - Koalisi Nasional Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi Suriah menentang kedatangan utusan tim ahli dari Rusia untuk membuktikan siapa pihak yang seharusnya bertanggung jawab atas ledakan senjata kimia di Suriah, pertengahan Maret lalu.
"Rusia adalah pemasok senjata tipe standar dan strategis terhadap rezim pemerintah Suriah. Tidak hanya itu, Rusia juga pendukung utama rezim pemerintah Suriah," ungkap oposisi Suriah dalam sebuah pernyataan.
"Ini sebabnya mengapa status Rusia tidak memungkinkan untuk melakukan investigasi kriminal dengan adil dan objektif," terang oposisi.
Seperti diketahui, kurang dari sepekan setelah serangan senjata kimia di Suriah, Bashar Ja'afari, Duta Besar Suriah untuk PBB mengatakan, Pemerintah Suriah meminta Sekertaris Jendral PBB Ban Ki-moon membentuk sebuah tim guna melakukan sebuah penyelidikan penggunaan senjata kimia secara independen dan imparsial.
Ja'afari berharap, tim ini akan menentukan siapa pihak yang telah menggunakan senjata kimia yang telah menewaskan puluhan warga Suriah. Permintaan ini datang setelah dua pihak yang bertikai di Suriah saling tuding telah menggunakan senjata kimia.
Pejabat Suriah mengatakan, jumlah korban tewas akibat ledakan senjata kimia tersebut bertambah 15 orang, hingga totalnya menjadi 31 orang. Sedangkan jumlah korban luka-luka mencapai hampir 100 orang.
"Rusia adalah pemasok senjata tipe standar dan strategis terhadap rezim pemerintah Suriah. Tidak hanya itu, Rusia juga pendukung utama rezim pemerintah Suriah," ungkap oposisi Suriah dalam sebuah pernyataan.
"Ini sebabnya mengapa status Rusia tidak memungkinkan untuk melakukan investigasi kriminal dengan adil dan objektif," terang oposisi.
Seperti diketahui, kurang dari sepekan setelah serangan senjata kimia di Suriah, Bashar Ja'afari, Duta Besar Suriah untuk PBB mengatakan, Pemerintah Suriah meminta Sekertaris Jendral PBB Ban Ki-moon membentuk sebuah tim guna melakukan sebuah penyelidikan penggunaan senjata kimia secara independen dan imparsial.
Ja'afari berharap, tim ini akan menentukan siapa pihak yang telah menggunakan senjata kimia yang telah menewaskan puluhan warga Suriah. Permintaan ini datang setelah dua pihak yang bertikai di Suriah saling tuding telah menggunakan senjata kimia.
Pejabat Suriah mengatakan, jumlah korban tewas akibat ledakan senjata kimia tersebut bertambah 15 orang, hingga totalnya menjadi 31 orang. Sedangkan jumlah korban luka-luka mencapai hampir 100 orang.
(esn)