Berebut candi Preah Vihear, Thailand & Kamboja bertarung di Mahkamah Internasional
Senin, 15 April 2013 - 18:57 WIB
Berebut candi Preah Vihear, Thailand & Kamboja bertarung di Mahkamah Internasional
A
A
A
Sindonews.com – Thailand dan Kamboja bertarung di Mahkamah Internasional atas sengketa candi kuno Preah Vihear, Senin (15/4/2013). Akibat saling klaim ini, kedua negara sempat terlibat pertikaian bersenjata pada 2011 silam yang menewaskan sedikitnya 10 orang.
“Hubungan dengan Thailand tidak bisa ramah dan kooperatif di masa depan," kata Wakil Perdana Menteri Kamboja dan Menteri Luar Negeri Hor Namhong di pengadilan Mahkamah Internasiona, Den Haag, Belanda, seperti dikutip dari channelnewsasia.
Namhong kepada wartawan asal Kamboja menyatakan, negaranya "merasa terancam" oleh serangan pasukan Thailand. "Kami berharap pengadilan untuk menafsirkan putusan pada 1962 yang mengatakan bahwa kuil Preah Vihear adalah di tanah Kamboja," kata Namhong.
"Menurut putusan itu, daerah sekitarnya juga milik Kamboja," lanjut Namhong. Thailand tidak membantah kepemilikan Kamboja atas candi yang disebut sebagai sebuah situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Tapi, Thailand mengklaim 4,6 kilometer persegi lokasi yang berdekatan dengan candi itu.
Setelah pertikaian berdarah pada 2011 silam, Mahkamah Internasional memerintahkan kedua negara untuk menarik mundur pasukan mereka dari daerah sengketa. Kamboja dan Thailand akhirnya menarik ratusan tentara dari daerah perbatasan itu pada Juli 2012 dan menggantikan mereka dengan polisi dan penjaga keamanan.
"Kami akan memperjuangkan kasus secara transparan dan dengan usaha terbaik kami," ujar Duta Besar Thailand untuk Belanda, Virachai Plasai, menjelang sidang.
Kepala Militer Thailand, Jenderal Prayud Chan-O-Cha mengatakan pada Februari lalu, bahwa negaranya tidak akan selalu menghormati putusan Mahkamah Internasional. "Pemerintah akan memutuskan apakah menghormati putusan itu," katanya kepada wartawan.
Jika respon pemerintah adalah negatif, "Kita harus mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, tapi tidak dengan menggunakan agresi. Kami adalah negara beradab," katanya.
“Hubungan dengan Thailand tidak bisa ramah dan kooperatif di masa depan," kata Wakil Perdana Menteri Kamboja dan Menteri Luar Negeri Hor Namhong di pengadilan Mahkamah Internasiona, Den Haag, Belanda, seperti dikutip dari channelnewsasia.
Namhong kepada wartawan asal Kamboja menyatakan, negaranya "merasa terancam" oleh serangan pasukan Thailand. "Kami berharap pengadilan untuk menafsirkan putusan pada 1962 yang mengatakan bahwa kuil Preah Vihear adalah di tanah Kamboja," kata Namhong.
"Menurut putusan itu, daerah sekitarnya juga milik Kamboja," lanjut Namhong. Thailand tidak membantah kepemilikan Kamboja atas candi yang disebut sebagai sebuah situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Tapi, Thailand mengklaim 4,6 kilometer persegi lokasi yang berdekatan dengan candi itu.
Setelah pertikaian berdarah pada 2011 silam, Mahkamah Internasional memerintahkan kedua negara untuk menarik mundur pasukan mereka dari daerah sengketa. Kamboja dan Thailand akhirnya menarik ratusan tentara dari daerah perbatasan itu pada Juli 2012 dan menggantikan mereka dengan polisi dan penjaga keamanan.
"Kami akan memperjuangkan kasus secara transparan dan dengan usaha terbaik kami," ujar Duta Besar Thailand untuk Belanda, Virachai Plasai, menjelang sidang.
Kepala Militer Thailand, Jenderal Prayud Chan-O-Cha mengatakan pada Februari lalu, bahwa negaranya tidak akan selalu menghormati putusan Mahkamah Internasional. "Pemerintah akan memutuskan apakah menghormati putusan itu," katanya kepada wartawan.
Jika respon pemerintah adalah negatif, "Kita harus mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, tapi tidak dengan menggunakan agresi. Kami adalah negara beradab," katanya.
(esn)