Sekjen PBB: Tak ada yang berniat menyerang Korut
Selasa, 02 April 2013 - 23:52 WIB
Sekjen PBB: Tak ada yang berniat menyerang Korut
A
A
A
Sindonews.com – Sekjen PBB Ban Ki-moon memperingatkan, bahwa krisis di Semenanjung Korea bisa lepas kendali, setelah Korea Utara (Korut) mengumumkan akan memulai kembali aktifitas reaktor nuklir untuk menunjang program senjata atom mereka.
"Ancaman nuklir adalah bukan permainan," kata Ki-moon, menanggapi serangkaian pernyataan agresif PKorut yang telah mendorong penyebaran pesawat pembom Amerika Serikat (AS) yang berkemampuan nuklir B-52, pesawat pembom siluman B-2s, dan sebuah kapal perusak AS ke wilayah Korea Selatan (Korsel).
Ki-moon pun menyerukan terciptanya ketenangan di Semenanjung Korea. "Krisis saat ini telah pergi terlalu jauh," kata Ki-moon yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Korsel itu dalam sebuah konferensi pers di Andorra.
Menurutnya, perundingan adalah satu-satunya cara untuk kembali membawa kedamaian di Semenanjung Korea. “Semua pihak harus tenang. Saya yakin, tidak ada yang bermaksud untuk menyerang Korut karena ketidaksepakatan tentang program nuklirnya. Namun, saya takut pihak lain akan merespon tegas terhadap setiap provokasi militer," katanya.
Setelah melontarkan sejumlah ancaman terhadap AS dan Korsel, Korut melakukan langkah gertakan terbaru dengan mengumumkan akan kembali mengaktifkan reaktor nuklir Yongbyon yang sempat ditutup pada 2007 silam.
Rencana pengaktifan kembali reaktor yang mampu menghasilkan energi sebesar 5 megawatt itu mengisyaratkan dimulainya kembali proses pengayaan uranium. "Kami akan melakukan beberapa langkah penyesuaian dan melakukan beberapa perubahan, sehingga reaktor nuklir tersebut dapat kembali beroperasi," terang seorang Juru Bicara Korut, seperti dilansir KCNA.
"Ancaman nuklir adalah bukan permainan," kata Ki-moon, menanggapi serangkaian pernyataan agresif PKorut yang telah mendorong penyebaran pesawat pembom Amerika Serikat (AS) yang berkemampuan nuklir B-52, pesawat pembom siluman B-2s, dan sebuah kapal perusak AS ke wilayah Korea Selatan (Korsel).
Ki-moon pun menyerukan terciptanya ketenangan di Semenanjung Korea. "Krisis saat ini telah pergi terlalu jauh," kata Ki-moon yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Korsel itu dalam sebuah konferensi pers di Andorra.
Menurutnya, perundingan adalah satu-satunya cara untuk kembali membawa kedamaian di Semenanjung Korea. “Semua pihak harus tenang. Saya yakin, tidak ada yang bermaksud untuk menyerang Korut karena ketidaksepakatan tentang program nuklirnya. Namun, saya takut pihak lain akan merespon tegas terhadap setiap provokasi militer," katanya.
Setelah melontarkan sejumlah ancaman terhadap AS dan Korsel, Korut melakukan langkah gertakan terbaru dengan mengumumkan akan kembali mengaktifkan reaktor nuklir Yongbyon yang sempat ditutup pada 2007 silam.
Rencana pengaktifan kembali reaktor yang mampu menghasilkan energi sebesar 5 megawatt itu mengisyaratkan dimulainya kembali proses pengayaan uranium. "Kami akan melakukan beberapa langkah penyesuaian dan melakukan beberapa perubahan, sehingga reaktor nuklir tersebut dapat kembali beroperasi," terang seorang Juru Bicara Korut, seperti dilansir KCNA.
(esn)