Myanmar bantah serang pemberontak dengan senjata kimia
Kamis, 10 Januari 2013 - 23:48 WIB
Myanmar bantah serang pemberontak dengan senjata kimia
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Myanmar membantah laporan yang menyebutkan bahwa militernya menggunakan senjata kimia untuk menyerang pemberontak Kachin. Bantahan tersebut dikeluarkan setelah pihak pemberontak mengklaim mereka diserang menggunakan senjata kimia oleh militer Myanmar.
“Militer kami tidak pernah menggunkan senjata kimia, kami juga tidak memiliki niat untuk menggunakannya. Saya kira pihak pemberontak telah salah menuduh kami,” ujar Hye Tut, juru bicara Pemerintah Myanmar.
Saat ini militer Myanmar sedang menggempur wilayah utara Myanmar yang menjadi basis perlawanan pemberontak Kachin. Konflik antara kedua pihak pecah setelah pemerintah Myanmar menuduh pihak pemberontak menyerang konvoi militer Myanmar Desember lalu.
Pemberontak Kachin mengklaim, posisi mereka semakin terjepit karena militer Myanmar terus-menerus menyerang mereka. Lebih dari ratusan ribu warga yang tinggal di negara bagian Kachin kini mengungsi karena berusah menghindari pertempuran.
“Telah tiga hari ini militer Myanmar menyerang kami dengan senjata kimia, hasilnya markas-markas vital kami berhasil dikuasai oleh mereka,” ujar Lum Dau, juru bicara pemberontak Kachin, seperti dikutip AFP, KAmis (10/1/2013).
Lun Dau mengatakan banyak tentaranya yang menjadi tidak sadarkan diri karena terkena serangan senjata kimia. Pada konflik yang terjadi pada 2011 lalu, pemberontak Kachin juga sempat menuduh militer Myanmar menggunakan senjata kimia, namun tuduhan tersebut sangata sulit untuk dibuktikan kebenarannya.
Saat ini Myanmar dipimpin oleh Presiden Thein Sein yang disebut-sebut sebagai tokoh yang reformis. Thein Sein tahun lalu berhasil menyepakati perjanjian gencatan senjata dengan sebagian besar kelompok pemberontak di Myanmar namun gagal membuat kesepakatan serupa dengan pemberontak Kachin.
Sebelumnya Thein sein telah meminta militer Myanmar untuk meredakan pertempurannya dengan pemberontak Kachin. Namun seruan tidak digubris oleh pihak militer yang sebelumnya sempat bertahun-tahun berkuasa di Myanmar dalam rezim junta militer.
“Militer kami tidak pernah menggunkan senjata kimia, kami juga tidak memiliki niat untuk menggunakannya. Saya kira pihak pemberontak telah salah menuduh kami,” ujar Hye Tut, juru bicara Pemerintah Myanmar.
Saat ini militer Myanmar sedang menggempur wilayah utara Myanmar yang menjadi basis perlawanan pemberontak Kachin. Konflik antara kedua pihak pecah setelah pemerintah Myanmar menuduh pihak pemberontak menyerang konvoi militer Myanmar Desember lalu.
Pemberontak Kachin mengklaim, posisi mereka semakin terjepit karena militer Myanmar terus-menerus menyerang mereka. Lebih dari ratusan ribu warga yang tinggal di negara bagian Kachin kini mengungsi karena berusah menghindari pertempuran.
“Telah tiga hari ini militer Myanmar menyerang kami dengan senjata kimia, hasilnya markas-markas vital kami berhasil dikuasai oleh mereka,” ujar Lum Dau, juru bicara pemberontak Kachin, seperti dikutip AFP, KAmis (10/1/2013).
Lun Dau mengatakan banyak tentaranya yang menjadi tidak sadarkan diri karena terkena serangan senjata kimia. Pada konflik yang terjadi pada 2011 lalu, pemberontak Kachin juga sempat menuduh militer Myanmar menggunakan senjata kimia, namun tuduhan tersebut sangata sulit untuk dibuktikan kebenarannya.
Saat ini Myanmar dipimpin oleh Presiden Thein Sein yang disebut-sebut sebagai tokoh yang reformis. Thein Sein tahun lalu berhasil menyepakati perjanjian gencatan senjata dengan sebagian besar kelompok pemberontak di Myanmar namun gagal membuat kesepakatan serupa dengan pemberontak Kachin.
Sebelumnya Thein sein telah meminta militer Myanmar untuk meredakan pertempurannya dengan pemberontak Kachin. Namun seruan tidak digubris oleh pihak militer yang sebelumnya sempat bertahun-tahun berkuasa di Myanmar dalam rezim junta militer.
(esn)