Aparat Thailand bersiap hadapi demo besar
Jum'at, 23 November 2012 - 19:03 WIB
Aparat Thailand bersiap hadapi demo besar
A
A
A
Sindonews.com – Kepala Kepolisian Thailand, Adul Saengsingkaew, menyatakan bakal mengerahkan sekitar 17 ribu pasukan keamanan untuk mengamankan aksi demonstrasi yang rencananya akan berangsung di Bangkok pada akhir pekan ini.
“Setidaknya, 50 ribu pengunjuk rasa diperkirakan akan berkumpul di dekat gedung Parlemen di Bangkok,” kata Saengsingkaew, dalam konferensi pers, Jumat (23/11/2012). Selama ini, aksi demo di Thailand kerap berakhir dengan bentrokan berdarah. Termasuk pada aksi demo selama dua bulan yang dilakukan pendukung pemerintah pada 2010 silam.
Keputusan pemerintah untuk menerapkan Security Act internal (ISA) di area lokasi protes, akan memungkinkan polisi untuk melarang pertemuan di lokasi sensitif, seperti kantor pemerintahan. ISA juga memberikan peluang bagi polisi untuk menerjunkan lebih banyak pasukan dan menangkap orang dengan alasan mengganggu ketertiban umum.
"ISA ini tidak ditujukan untuk membubarkan unjuk rasa atau menghentikan hal itu. ISA dibuat untuk memastikan unjuk rasa berlangsung damai. Ini adalah ukuran pelindung untuk memastikan demonstrasi berjalan lancar," kata Saengsingkaew.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi pada Kamis lalu, Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mengatakan, bahwa dalam menerapkan hukum, ia bertindak untuk melindungi demokrasi.
"Jika sejumlah besar orang yang dimobilisasi oleh hasutan, yang dipimpin oleh orang-orang yang berusaha untuk menggulingkan pemerintah terpilih dan aturan demokrasi, serta ada bukti bahwa kekerasan dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, maka ini adalah kasus keamanan nasional," kata Yingluck.
“Setidaknya, 50 ribu pengunjuk rasa diperkirakan akan berkumpul di dekat gedung Parlemen di Bangkok,” kata Saengsingkaew, dalam konferensi pers, Jumat (23/11/2012). Selama ini, aksi demo di Thailand kerap berakhir dengan bentrokan berdarah. Termasuk pada aksi demo selama dua bulan yang dilakukan pendukung pemerintah pada 2010 silam.
Keputusan pemerintah untuk menerapkan Security Act internal (ISA) di area lokasi protes, akan memungkinkan polisi untuk melarang pertemuan di lokasi sensitif, seperti kantor pemerintahan. ISA juga memberikan peluang bagi polisi untuk menerjunkan lebih banyak pasukan dan menangkap orang dengan alasan mengganggu ketertiban umum.
"ISA ini tidak ditujukan untuk membubarkan unjuk rasa atau menghentikan hal itu. ISA dibuat untuk memastikan unjuk rasa berlangsung damai. Ini adalah ukuran pelindung untuk memastikan demonstrasi berjalan lancar," kata Saengsingkaew.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi pada Kamis lalu, Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mengatakan, bahwa dalam menerapkan hukum, ia bertindak untuk melindungi demokrasi.
"Jika sejumlah besar orang yang dimobilisasi oleh hasutan, yang dipimpin oleh orang-orang yang berusaha untuk menggulingkan pemerintah terpilih dan aturan demokrasi, serta ada bukti bahwa kekerasan dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, maka ini adalah kasus keamanan nasional," kata Yingluck.
(esn)