Rumah sakit di Gaza butuh pasokan obat
Senin, 19 November 2012 - 18:09 WIB
Rumah sakit di Gaza butuh pasokan obat
A
A
A
Sindonews.com – Selain kewalahan menangani korban akibat serangan Israel, rumah-rumah sakit di Jalur Gaza juga mulai mengalami kelangkaan obat-obatan dan perlengkapan medis. Hal ini disampaikan oleh Badan Kesehatan Dunia PBB, WHO, Sabtu (17/11/2012).
WHO mengaku membutuhkan USD10 juta untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan dan peralatan medis rumah-rumah sakit di Gaza selama tiga bulan ke depan. WHO mengutip pejabat Kementerian Kesehatan di Gaza, yang mengatakan 382 orang telah terluka sepanjang pekan lalu. Di antara korban luka itu, 245 adalah orang dewasa dan 137 anak-anak.
"Banyak orang yang terluka dan tengah dirawat di rumah sakit dengan luka bakar yang parah. Ada pula yang mendapat luka akibat dari tertimpa runtuhan bangunan dan cedera kepala," kata sebuah pernyataan WHO yang dikeluarkan di Jenewa, Swiss.
Pihak berwenang di Gaza telah menyatakan situasi darurat di semua rumah sakit. "Sebelum pertikaian kembali meletus, fasilitas kesehatan sudah minim, sebagai akibat dari pengepungan Gaza," kata WHO. Israel memang mempertahankan blokade ketat atas Jalur Gaza, tak terkecuali bagi bantuan medis dari Mesir.
Akibat minimnya obat-obatan ini, banyak operasi yang belum bisa dilakukan. "Kementerian Kesehatan telah menunda semua operasi karena kondisi darurat dan kekurangan obat anestesi," lanjut pernyataan WHO.
"WHO menghimbau masyarakat internasional dan regional untuk memberikan dukungan keuangan dan mendesak untuk menyediakan obat-obatan untuk menutupi kekurangan, serta menyediakan perlengkapan darurat untuk mengobati korban dan sakit kronis," lanjut pernyataan itu.
WHO mengaku membutuhkan USD10 juta untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan dan peralatan medis rumah-rumah sakit di Gaza selama tiga bulan ke depan. WHO mengutip pejabat Kementerian Kesehatan di Gaza, yang mengatakan 382 orang telah terluka sepanjang pekan lalu. Di antara korban luka itu, 245 adalah orang dewasa dan 137 anak-anak.
"Banyak orang yang terluka dan tengah dirawat di rumah sakit dengan luka bakar yang parah. Ada pula yang mendapat luka akibat dari tertimpa runtuhan bangunan dan cedera kepala," kata sebuah pernyataan WHO yang dikeluarkan di Jenewa, Swiss.
Pihak berwenang di Gaza telah menyatakan situasi darurat di semua rumah sakit. "Sebelum pertikaian kembali meletus, fasilitas kesehatan sudah minim, sebagai akibat dari pengepungan Gaza," kata WHO. Israel memang mempertahankan blokade ketat atas Jalur Gaza, tak terkecuali bagi bantuan medis dari Mesir.
Akibat minimnya obat-obatan ini, banyak operasi yang belum bisa dilakukan. "Kementerian Kesehatan telah menunda semua operasi karena kondisi darurat dan kekurangan obat anestesi," lanjut pernyataan WHO.
"WHO menghimbau masyarakat internasional dan regional untuk memberikan dukungan keuangan dan mendesak untuk menyediakan obat-obatan untuk menutupi kekurangan, serta menyediakan perlengkapan darurat untuk mengobati korban dan sakit kronis," lanjut pernyataan itu.
(esn)