Bunga Bangkai Sumatera jadi bintang di Swiss
Jum'at, 16 November 2012 - 09:50 WIB
Bunga Bangkai Sumatera jadi bintang di Swiss
A
A
A
Sindonews.com - Tahun lalu mekarnya bunga bangkai di Botanische Garten, Universitas Basel, mampu menyedot hingga 25.000 pengunjung.
Dirawat melebihi bayi. Itulah nasib mujur yang diterima amorphophallus titanium alias bunga bangkai, di rumah kaca Botanische Garten, Universitas Basel. “Suhunya tak boleh anjlok dari 25 derajat Celsius. Kelembaban ala hutan tropis Sumatera juga harus tetap dijaga,“ tutur Kepala Botanische Garten, Universitas Basel, Bruno Erny, kepada wartawan belum lama ini.
Agar bunga asal Sumatera ini kerasan di kota kimia ini, Bruno pun memasang lampu khusus selama 12 jam saban hari.“Dan rajin memberi pupuk dari kotoran sapi,“ imbuhnya.
Hasilnya, tak sampai harus menunggu dua atau tiga tahun, bunga yang mengeluarkan bau tak sedap jika mekar ini,dalam waktu dekat, akan kembali menunjukkan keindahannya. “Antara 15 atau 18 November ini bisa lebih cepat, bisa molor, akan mekar kembali,“ sambungnya bangga.
Bunga bangkai umumnya hanya mekar dua atau tiga tahun sekali. Jika di Basel bisa mekar lebih cepat, aku Bruno, agaknya Basel membuat bunga ini kerasan. “Tak ada resep apa-apa. Kami hanya memberi pupuk kotoran dari sapi Swiss, tak ada bahan kimia apa pun, mungkin karena itu,“ ungkapnya. Bunga bangkai yang ditanam Bruno dalam rumah kaca di Basel, dalam pantauan SINDO,mekar pertama kali 10 bulan silam.
Tidak hanya Bruno yang gembira akan mekarnya bunga ini, tapi juga warga Basel, bahkan seluruh Swiss, juga negara tetangga terdekat yakni Prancis dan Jerman. Bagi warga Eropa, mekarnya bunga raksasa ini peristiwa sangat langka.
Sepuluh bulan silam kemekaran bunga ini menarik 25.000-an orang untuk datang ke Basel. Dalam website kebun ini saat itu tercatat 100.000-an pengunjung. “Kali ini tak tahu berapa yang akan datang, tapi kami sudah menyiapkan diri jika banjir pengunjung seperti tahun lalu,“ kata Bruno.
Saat itu peminat membeludak meskipun rela antre dua jam sebelum bisa masuk ruang kaca. “Ketika di dalam hanya boleh 10 menitan,“ kata Evy, warga Indonesia dari Bern. Kecilnya ruangan juga membuat panitia hanya bisa memboyong paling banyak 30 orang sekali masuk. Tiket masuk saat itu dibanderol 10 swiss franch atau sekitar Rp100.000 yang konon bisa digunakan membiayai proyek ini selama dua tahun.
Saat itu televisi internasional, CNN, BBC, hingga Al-Jazeera, menayangkan bunga ini saat mekar. Di Indonesia bunga bangkai kadang mekar di Kebun Raya Bogor atau di habitat aslinya, hutan hujan tropis Sumatera. Sementara di Basel, tepatnya di tengah kota, bunga ini ditempatkan dalam ruang kaca, bersuasana mirip habitat aslinya, namun diletakkan dalam pot plastik raksasa. Indikasi bunga bangkai ini akan mekar sudah terlihat sejak awal November ini.
Dalam pot plastik warna hitam terlihat tunas hijau kerucut yang menangkup ke langit. Jika pada mulanya hanya tumbuh 4 cm per hari, lambat laun bisa mencapai pertumbuhan 20 cm per hari, sampai akhirnya menjelang mekar akan mencapai 2 meter tingginya. Selanjutnya bunga ini akan mekar selama 24 jam dengan kelopaknya yang berwarna merah keungu-unguan, lalu perlahan akan menguncup kembali.
“Saat mekar inilah akan keluar bau daging atau ikan busuk,” kata Bruno. Saat mekar itu pula ribuan pengunjung akan antre untuk menyaksikan bunga ini. Kali ini, imbuh Bruno, pihaknya akan mencoba menyilangkan putik sari bunga serupa yang diambil dari Bonn, Jerman. Sementara umbi buah ini berasal dari Amsterdam, Belanda.
Dirawat melebihi bayi. Itulah nasib mujur yang diterima amorphophallus titanium alias bunga bangkai, di rumah kaca Botanische Garten, Universitas Basel. “Suhunya tak boleh anjlok dari 25 derajat Celsius. Kelembaban ala hutan tropis Sumatera juga harus tetap dijaga,“ tutur Kepala Botanische Garten, Universitas Basel, Bruno Erny, kepada wartawan belum lama ini.
Agar bunga asal Sumatera ini kerasan di kota kimia ini, Bruno pun memasang lampu khusus selama 12 jam saban hari.“Dan rajin memberi pupuk dari kotoran sapi,“ imbuhnya.
Hasilnya, tak sampai harus menunggu dua atau tiga tahun, bunga yang mengeluarkan bau tak sedap jika mekar ini,dalam waktu dekat, akan kembali menunjukkan keindahannya. “Antara 15 atau 18 November ini bisa lebih cepat, bisa molor, akan mekar kembali,“ sambungnya bangga.
Bunga bangkai umumnya hanya mekar dua atau tiga tahun sekali. Jika di Basel bisa mekar lebih cepat, aku Bruno, agaknya Basel membuat bunga ini kerasan. “Tak ada resep apa-apa. Kami hanya memberi pupuk kotoran dari sapi Swiss, tak ada bahan kimia apa pun, mungkin karena itu,“ ungkapnya. Bunga bangkai yang ditanam Bruno dalam rumah kaca di Basel, dalam pantauan SINDO,mekar pertama kali 10 bulan silam.
Tidak hanya Bruno yang gembira akan mekarnya bunga ini, tapi juga warga Basel, bahkan seluruh Swiss, juga negara tetangga terdekat yakni Prancis dan Jerman. Bagi warga Eropa, mekarnya bunga raksasa ini peristiwa sangat langka.
Sepuluh bulan silam kemekaran bunga ini menarik 25.000-an orang untuk datang ke Basel. Dalam website kebun ini saat itu tercatat 100.000-an pengunjung. “Kali ini tak tahu berapa yang akan datang, tapi kami sudah menyiapkan diri jika banjir pengunjung seperti tahun lalu,“ kata Bruno.
Saat itu peminat membeludak meskipun rela antre dua jam sebelum bisa masuk ruang kaca. “Ketika di dalam hanya boleh 10 menitan,“ kata Evy, warga Indonesia dari Bern. Kecilnya ruangan juga membuat panitia hanya bisa memboyong paling banyak 30 orang sekali masuk. Tiket masuk saat itu dibanderol 10 swiss franch atau sekitar Rp100.000 yang konon bisa digunakan membiayai proyek ini selama dua tahun.
Saat itu televisi internasional, CNN, BBC, hingga Al-Jazeera, menayangkan bunga ini saat mekar. Di Indonesia bunga bangkai kadang mekar di Kebun Raya Bogor atau di habitat aslinya, hutan hujan tropis Sumatera. Sementara di Basel, tepatnya di tengah kota, bunga ini ditempatkan dalam ruang kaca, bersuasana mirip habitat aslinya, namun diletakkan dalam pot plastik raksasa. Indikasi bunga bangkai ini akan mekar sudah terlihat sejak awal November ini.
Dalam pot plastik warna hitam terlihat tunas hijau kerucut yang menangkup ke langit. Jika pada mulanya hanya tumbuh 4 cm per hari, lambat laun bisa mencapai pertumbuhan 20 cm per hari, sampai akhirnya menjelang mekar akan mencapai 2 meter tingginya. Selanjutnya bunga ini akan mekar selama 24 jam dengan kelopaknya yang berwarna merah keungu-unguan, lalu perlahan akan menguncup kembali.
“Saat mekar inilah akan keluar bau daging atau ikan busuk,” kata Bruno. Saat mekar itu pula ribuan pengunjung akan antre untuk menyaksikan bunga ini. Kali ini, imbuh Bruno, pihaknya akan mencoba menyilangkan putik sari bunga serupa yang diambil dari Bonn, Jerman. Sementara umbi buah ini berasal dari Amsterdam, Belanda.
(esn)