Komandan AS: serangan Benghazi terkait dengan al Qaeda
Kamis, 15 November 2012 - 08:00 WIB
Komandan AS: serangan Benghazi terkait dengan al Qaeda
A
A
A
Sindonews.com - Kepala komando Militer Amerika Serikat (AS) di Afrika, Jenderal Carter Ham, mengatakan, bahwa beberapa militan yang terlibat dalam serangan Konsulat AS di Benghazi, Libya, 11 September silam terkait dengan al Qaeda di Maghreb Islam (AQIM).
"Ada jaringan yang berkembang di organisasi-organisasi kekerasan ekstremis. Menurut saya, sangat mungkin bahwa beberapa teroris yang berpartisipasi dalam serangan di Benghazi memiliki setidaknya beberapa hubungan dengan AQIM," kata Ham, di Paris, Rabu (14/11/2012), seperti dikutip dari the star.
"Saya bukan mengatakan kalau AQIM yang merencakan serangan ini, atau memimpin dan mengorganisirnya. Tapi jelas, beberapa individu memiliki hubungan dengan AQIM," lanjut Ham.
Dalam insiden 11 September di Konsulat Benghazi, empat warga AS tewas diserang kelompok bersenjata di Libya. Salah satu korban tewas adalah Duta Besar AS untuk Libya, Chris Stevens, yang menjadi diplomat senior pertama yang tewas dalam tugas sejak 1979.
Insiden ini sempat jadi isu panas saat pemilu AS lalu. Kandidat partai Republik, Mitt Romney menyalahkan Presiden Barack Obama atas persitiwa ini. Obama sendiri mengaku bertanggungjawab penuh atas kejadian ini.
"Ada jaringan yang berkembang di organisasi-organisasi kekerasan ekstremis. Menurut saya, sangat mungkin bahwa beberapa teroris yang berpartisipasi dalam serangan di Benghazi memiliki setidaknya beberapa hubungan dengan AQIM," kata Ham, di Paris, Rabu (14/11/2012), seperti dikutip dari the star.
"Saya bukan mengatakan kalau AQIM yang merencakan serangan ini, atau memimpin dan mengorganisirnya. Tapi jelas, beberapa individu memiliki hubungan dengan AQIM," lanjut Ham.
Dalam insiden 11 September di Konsulat Benghazi, empat warga AS tewas diserang kelompok bersenjata di Libya. Salah satu korban tewas adalah Duta Besar AS untuk Libya, Chris Stevens, yang menjadi diplomat senior pertama yang tewas dalam tugas sejak 1979.
Insiden ini sempat jadi isu panas saat pemilu AS lalu. Kandidat partai Republik, Mitt Romney menyalahkan Presiden Barack Obama atas persitiwa ini. Obama sendiri mengaku bertanggungjawab penuh atas kejadian ini.
(esn)