Brahimi: Suriah akan berakhir seperti Somalia
Rabu, 07 November 2012 - 16:52 WIB
Brahimi: Suriah akan berakhir seperti Somalia
A
A
A
Sindonews.com - Utusan PBB dan Liga Arab untuk Suriah, Lakhdar Brahimi, memprediksi kalau Suriah akan berakhir seperti Somalia, jika perang saudara di negara itu tidak segera berakhir.
"Situasi di Suriah saat ini sangat berbahaya," ungkap Brahimi, seperti di beritakan the star, Rabu (7/11/2012).
"Saya yakini jika krisis ini tidak segera diselesaikan, maka akan ada bahaya seperti yang terjadi di Somalia. Ini artinya kejatuhan bagi sebuah negara dan berkuasanya panglima perang dan milisi Suriah," terang Brahimi.
Brahimi mengatakan, Somalia telah terperosok jauh dalam konflik selama dua dekade setelah panglima perang mereka menggulingkan kekeuasan pemerintahan yang sah di tahun 1991. Setelah kudeta, situasi semakin memburuk.
Brahimi mengatakan, saat ini pemerintah pusat Suriah masih kuat dan masih berfungsi, meskipun beberapa wilayahnya telah dikuasai oleh pemberontak. Namun, jika rezim tersebut runtuh, maka Suriah akan segera hancur akan menyebabkan banyak perpecahan dan pertumpahan darah yang semakin berlarut-larut.
Sementara itu, wakil Badan PBB untuk urusan politik, Jeffrey D. Feltman memperingatkan, peningkatan eskalasi konflik akan mengancam negara tetangga, seperti Libanon, Turki, dan Israel.
"Situasi di Suriah bertambah mengerikan setiap harinya dan ada kemungkinan krisis akan terus meluas ke luar wilayah konflik," terang Feltman.
Selasa (6/11/2012) kemarin, pertempuran antara pasukan militer dan pemberontak Suriah di beberapa wilayah telah menewaskan 140 jiwa. Ada juga laporan bahwa Ketua Parlemen Suriah tewas di tembak. Hingga kini, konflik berdarah di Suriah yang telah berlangsung selama hampir 20 bulan, sudah menewaskan sedikitnya 36 ribu orang dari pihak sipil, militer, dan pemberontak Suriah.
"Situasi di Suriah saat ini sangat berbahaya," ungkap Brahimi, seperti di beritakan the star, Rabu (7/11/2012).
"Saya yakini jika krisis ini tidak segera diselesaikan, maka akan ada bahaya seperti yang terjadi di Somalia. Ini artinya kejatuhan bagi sebuah negara dan berkuasanya panglima perang dan milisi Suriah," terang Brahimi.
Brahimi mengatakan, Somalia telah terperosok jauh dalam konflik selama dua dekade setelah panglima perang mereka menggulingkan kekeuasan pemerintahan yang sah di tahun 1991. Setelah kudeta, situasi semakin memburuk.
Brahimi mengatakan, saat ini pemerintah pusat Suriah masih kuat dan masih berfungsi, meskipun beberapa wilayahnya telah dikuasai oleh pemberontak. Namun, jika rezim tersebut runtuh, maka Suriah akan segera hancur akan menyebabkan banyak perpecahan dan pertumpahan darah yang semakin berlarut-larut.
Sementara itu, wakil Badan PBB untuk urusan politik, Jeffrey D. Feltman memperingatkan, peningkatan eskalasi konflik akan mengancam negara tetangga, seperti Libanon, Turki, dan Israel.
"Situasi di Suriah bertambah mengerikan setiap harinya dan ada kemungkinan krisis akan terus meluas ke luar wilayah konflik," terang Feltman.
Selasa (6/11/2012) kemarin, pertempuran antara pasukan militer dan pemberontak Suriah di beberapa wilayah telah menewaskan 140 jiwa. Ada juga laporan bahwa Ketua Parlemen Suriah tewas di tembak. Hingga kini, konflik berdarah di Suriah yang telah berlangsung selama hampir 20 bulan, sudah menewaskan sedikitnya 36 ribu orang dari pihak sipil, militer, dan pemberontak Suriah.
(esn)