Intelijen Yordania gagalkan rencana pemboman 9 November
Senin, 22 Oktober 2012 - 16:36 WIB
Intelijen Yordania gagalkan rencana pemboman 9 November
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Yordania mengumumkan penangkapan 11 orang yang diduga anggota kelompok militan. Kelompok yang ditangkap oleh Intelijen Yordania ini ditenggarai memiliki rencana untuk mengelar peringatan serangan 9 November di Amman pada tahun 2005.
Seperti dikutip dari BBC.co.uk, Senin (22/10/20120), kelompok ini diyakini mendapan dukungan dari Al-Qaeda. Semula, serangan yang akan dilakukan pada Minggu (21/10/2012) itu menargetkan diplomat Barat, penduduk sipil, dan sejumlah pusat perbelanjaan di Ibu Kota Yordania, Amman.
Juru bicara pemerintah Yordania, Samih Maayta, mengatakan, para tersangka ditahan beberapa hari lalu dan kini tengah mendekam di tahanan.
"Mereka tertangkap basah membawa senjata dari Suriah. Sementara kelompok cabang mereka, al-Qaeda yang berada di Irak, membantu mereka merakit bahan peledak," ungkap Maayta.
Intelijen Yordania mengatakan, mereka telah memantau gerak gerik kelompok ini, termasuk saat mereka berupaya merakit bahan peledak. Intelejen manambahkan, sejak Juni lalu kelompok ini telah mempersiapkan sebuah serangan dengan mengunakan TNT dan mortar yang didatangkan dari Suriah.
"Serangan ini bertujuan menciptakan sebuah ledakan besar yang merusak dan memakan banyak korban, serta menimbulkan kerusakan fisik yang parah," ungkap intelejen Yordania.
Sejak krisis bergolak di Suriah, wilayah perbatasan Yordania dan Suriah telah menjadi tempat tujuan yang relatif aman bagi 200 ribu penduduk Suriah yang mengungsi.
Di negara yang menjadi sekutu kunci Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah ini, sebuah kelompok militan Salafi yang sangat konservatif, terus memperjuangkan tegaknya hukum syariah dan menciptakan negara Islam di Yordania.
Pemerintah Yordania acap kali menangkap sejumlah anggota Salafi yang terbukti merekrut orang unutk bertempur melawan pasukan AS di Iraq dan Afghanistan, serta melancarkan berbagai serangan bom bunuh diri.
Penanggkapan ini menjadi sorotan media di Yordania. Sebab, penanggapan ini terjadi jelang pemilu legislatif, Januari mendatang.
Seperti dikutip dari BBC.co.uk, Senin (22/10/20120), kelompok ini diyakini mendapan dukungan dari Al-Qaeda. Semula, serangan yang akan dilakukan pada Minggu (21/10/2012) itu menargetkan diplomat Barat, penduduk sipil, dan sejumlah pusat perbelanjaan di Ibu Kota Yordania, Amman.
Juru bicara pemerintah Yordania, Samih Maayta, mengatakan, para tersangka ditahan beberapa hari lalu dan kini tengah mendekam di tahanan.
"Mereka tertangkap basah membawa senjata dari Suriah. Sementara kelompok cabang mereka, al-Qaeda yang berada di Irak, membantu mereka merakit bahan peledak," ungkap Maayta.
Intelijen Yordania mengatakan, mereka telah memantau gerak gerik kelompok ini, termasuk saat mereka berupaya merakit bahan peledak. Intelejen manambahkan, sejak Juni lalu kelompok ini telah mempersiapkan sebuah serangan dengan mengunakan TNT dan mortar yang didatangkan dari Suriah.
"Serangan ini bertujuan menciptakan sebuah ledakan besar yang merusak dan memakan banyak korban, serta menimbulkan kerusakan fisik yang parah," ungkap intelejen Yordania.
Sejak krisis bergolak di Suriah, wilayah perbatasan Yordania dan Suriah telah menjadi tempat tujuan yang relatif aman bagi 200 ribu penduduk Suriah yang mengungsi.
Di negara yang menjadi sekutu kunci Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah ini, sebuah kelompok militan Salafi yang sangat konservatif, terus memperjuangkan tegaknya hukum syariah dan menciptakan negara Islam di Yordania.
Pemerintah Yordania acap kali menangkap sejumlah anggota Salafi yang terbukti merekrut orang unutk bertempur melawan pasukan AS di Iraq dan Afghanistan, serta melancarkan berbagai serangan bom bunuh diri.
Penanggkapan ini menjadi sorotan media di Yordania. Sebab, penanggapan ini terjadi jelang pemilu legislatif, Januari mendatang.
(aww)