Cucu Kim Jong-il curhat ke media
Jum'at, 19 Oktober 2012 - 15:42 WIB
Cucu Kim Jong-il curhat ke media
A
A
A
Sindonews.com - Cucu Pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-il, Kim Han-sol untuk pertama kalinya melakukan wawancara dengan media.
Remaja 17 tahun yang kini melanjutkan studinya di The United World College (UWC), Mostar, Bosnia itu melakukan wawancara lansung dengan mantan wakil Sekjen PBB, Elisabeth Rehn untuk TV Finlandia.
"Saya selalu bermimpi, bahwa suatu hari saya akan kembali dan membuat hal-hal yang lebih baik dan membuatnya lebih mudah bagi orang-orang di sana," ungkap Han-sol seperti dilansir NBCnews, Jumat (19/10/2012).
Han-sol adalah cucu pertama Jong-il, dari anak pertamanya, Kim Jong-nam yang tinggal di Makau, China. Menurut pengakuan Han-sol dalam wawancara yang berlangsung selama 20 menit itu, beberapa tahun setelah ia lahir, sang Ayah memboyong keluarganya ke Makau.
Setiap musim panas tiba, sering kali ia dan ibunya kembali ke Korut. Han-sol mengaku terisolasi dari pergulan anak-anak Korut dan tidak pernah diberitahu bahwa kakeknya adalah seorang penguasa Korut.
Sedikit demi sedikit ia memperoleh pengetahuan tentang hal itu, dari potongan percakapan yang dilakukan oleh orang tuanya. “Saya menyatukan keping demi keping potongan teka-teki tersebut," tutur Han-sol.
Sempat muncul keinginan Han-sol untuk bertemu dengan kakeknya. "Saya selalu menunggu saat untuk bertemu dengan kakek, sebelum ia meninggal. Saya juga berharap ia akan mencari saya, karena saya sunguh tidak tahu apakah dia menyadari keberadaan saya," tutur Han-sol.
Sebuah pengalaman menarik bagi Han-sol, saat ia memiliki seorang teman sekamar yang berasal dari Libya. Si teman dengan antusias menceritakan banyak hal dan juga pengalamannya tentang bagaimana revolusi Libya berlangsung pada 2011 lalu.
"Selama bersekolah di sini, saya merasa seperti berada di rumah dengan latar belakang budaya yang beragam. Saat malam tiba, tak jarang saya menghabiskan waktu berbincang bincang dengan teman-teman dari seluruh dunia, membahas tentang cara penyelesaian koflik," pungkas Han-sol.
Remaja 17 tahun yang kini melanjutkan studinya di The United World College (UWC), Mostar, Bosnia itu melakukan wawancara lansung dengan mantan wakil Sekjen PBB, Elisabeth Rehn untuk TV Finlandia.
"Saya selalu bermimpi, bahwa suatu hari saya akan kembali dan membuat hal-hal yang lebih baik dan membuatnya lebih mudah bagi orang-orang di sana," ungkap Han-sol seperti dilansir NBCnews, Jumat (19/10/2012).
Han-sol adalah cucu pertama Jong-il, dari anak pertamanya, Kim Jong-nam yang tinggal di Makau, China. Menurut pengakuan Han-sol dalam wawancara yang berlangsung selama 20 menit itu, beberapa tahun setelah ia lahir, sang Ayah memboyong keluarganya ke Makau.
Setiap musim panas tiba, sering kali ia dan ibunya kembali ke Korut. Han-sol mengaku terisolasi dari pergulan anak-anak Korut dan tidak pernah diberitahu bahwa kakeknya adalah seorang penguasa Korut.
Sedikit demi sedikit ia memperoleh pengetahuan tentang hal itu, dari potongan percakapan yang dilakukan oleh orang tuanya. “Saya menyatukan keping demi keping potongan teka-teki tersebut," tutur Han-sol.
Sempat muncul keinginan Han-sol untuk bertemu dengan kakeknya. "Saya selalu menunggu saat untuk bertemu dengan kakek, sebelum ia meninggal. Saya juga berharap ia akan mencari saya, karena saya sunguh tidak tahu apakah dia menyadari keberadaan saya," tutur Han-sol.
Sebuah pengalaman menarik bagi Han-sol, saat ia memiliki seorang teman sekamar yang berasal dari Libya. Si teman dengan antusias menceritakan banyak hal dan juga pengalamannya tentang bagaimana revolusi Libya berlangsung pada 2011 lalu.
"Selama bersekolah di sini, saya merasa seperti berada di rumah dengan latar belakang budaya yang beragam. Saat malam tiba, tak jarang saya menghabiskan waktu berbincang bincang dengan teman-teman dari seluruh dunia, membahas tentang cara penyelesaian koflik," pungkas Han-sol.
(aww)