Iran tuduh AS salah gunakan HAM
Senin, 15 Oktober 2012 - 19:34 WIB
Iran tuduh AS salah gunakan HAM
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Ketua Parlemen Iran, Mansour Haqiqat pour, mengatakan, Amerika Serikat (AS) telah menjadikan hak asasi manusia sebagai alat untuk mengejar kepentinganya di dunia.
Ungkapan tersebut dilontarkan oleh Haqiqat pour setelah mendapatkan laporan terbaru tentang hak asasi manusia di Iran. Laporan ini dibuat oleh mantan Menteri Luar Negeri Maladewa, Ahmed Shaheed.
Haqiqat pour mengatakan, bahwa laporan tersebut tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkap realitas yang terjadi di masyarakat internasional. Menurutnya, negara-negara yang menjatuhkan sanksi internasional terhadap Iran adalah negara pelanggar hak asasi manusia terbesar di dunia.
"Sanksi yang dijatuhkan AS telah mengancam nyawa beberapa pasien di Iran," ungkap Haqiqat pour. "Negara barat yang menjatuhkan sanksi pada Iran. juga juga harus bertangung jawab atas pengehentian penjualan produk olahan tertentu di Iran. Hali ini menyebabkan penurunan produksi dan meningkatnya jumlah penganguran di Iran. Ini adalah sebuah bukti pelanggaran hak asasi manusia terberat yang dilakukan oleh barat," terang Haqiqatpour seperti diberitakan Presstv, Senin (15/10/2012).
Seperti diketahui, Kamis (11/10/2012) lalu Ahmed Shaheed merilis laporannya tentang pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Iran. Disebutkan, Iran melakukan pelangaran kebebasan media, menahan akitivis hak asasi manusia, bahkan mengacam beberapa orang di antara mereka.
Kementerian Luar Negeri Iran kontan membantah hal tersebut. Kementerian ini mengatakan, tuduhan tersebut bermotif politik.
“Laporan tersebut bias dan tidak memiliki dasar hukum. Laporan Shaheed tidak mencerminkan realitas di lapangan," ungkap Kementerian Luar Negeri Iran. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, laporan tersebut merupakan refleksi permusuhan dunia Barat terhadap Iran.
Ungkapan tersebut dilontarkan oleh Haqiqat pour setelah mendapatkan laporan terbaru tentang hak asasi manusia di Iran. Laporan ini dibuat oleh mantan Menteri Luar Negeri Maladewa, Ahmed Shaheed.
Haqiqat pour mengatakan, bahwa laporan tersebut tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkap realitas yang terjadi di masyarakat internasional. Menurutnya, negara-negara yang menjatuhkan sanksi internasional terhadap Iran adalah negara pelanggar hak asasi manusia terbesar di dunia.
"Sanksi yang dijatuhkan AS telah mengancam nyawa beberapa pasien di Iran," ungkap Haqiqat pour. "Negara barat yang menjatuhkan sanksi pada Iran. juga juga harus bertangung jawab atas pengehentian penjualan produk olahan tertentu di Iran. Hali ini menyebabkan penurunan produksi dan meningkatnya jumlah penganguran di Iran. Ini adalah sebuah bukti pelanggaran hak asasi manusia terberat yang dilakukan oleh barat," terang Haqiqatpour seperti diberitakan Presstv, Senin (15/10/2012).
Seperti diketahui, Kamis (11/10/2012) lalu Ahmed Shaheed merilis laporannya tentang pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Iran. Disebutkan, Iran melakukan pelangaran kebebasan media, menahan akitivis hak asasi manusia, bahkan mengacam beberapa orang di antara mereka.
Kementerian Luar Negeri Iran kontan membantah hal tersebut. Kementerian ini mengatakan, tuduhan tersebut bermotif politik.
“Laporan tersebut bias dan tidak memiliki dasar hukum. Laporan Shaheed tidak mencerminkan realitas di lapangan," ungkap Kementerian Luar Negeri Iran. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, laporan tersebut merupakan refleksi permusuhan dunia Barat terhadap Iran.
(aww)