Suriah : Turki langgar hukum & konvensi internasional
Jum'at, 12 Oktober 2012 - 14:31 WIB
Suriah : Turki langgar hukum & konvensi internasional
A
A
A
Sindonews.com - Suriah menilai Turki telah terang terangan melakukan perlanggaran hukum dan konvensi internasional, setelah memaksa Airbuss A320 Suriah mendarat di bandara internasional Turki, Kamis (11/10/2012).
Juru bicara Kementrian Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi mengatakan Suriah menolak alasan pemerintah Turki mendaratkan paksa Airbuss A32 Suriah, yang mengaku mendapat informasi bahwa pesawat ini membawa muatan kargo yang tidak sesuai dengan aturan penerbangan sipil.
"Tindakan yang dilakukan pemerintah Turki membahayakan keselamatan pesawat dan penumpang, dan tindakan ini tidak dapat dibenarkan," ungkap Makdissi seperti diberitakan, Xinhua, Jumat (12/10/2012).
Makdissi mengatakan tindakan ini adalah permusuhan dan penyelidikan yang dilakukan oleh Turki menjadi indikasi penambahan sebuah kebijakan agresif yang didukung oleh Pemerintah Turki. Sementara, "Awak Airbuss A320 juga dipaksa keluar dari pesawat sementara para penumpang juga mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi." ungkap Makdissi.
Makdissi menambahkan, sebelum lepas landas semua barang yang diangkut di atas pesawat telah dicatat lengkap, pesawat tidak akan membawa senjata atau barang yang terlarang.
Menurut pengakuan salah seorang pramugari Airbuss A320 Suriah, Shirin Aziz dia menyaksikan dua orang penumpang dan dua awak pesawat dipukuli oleh militer Turki, mereka dipaksa menadatangani selembar kertas.
Aziz mengatakan, militer Turki telah mengobrak-abrik barang penumpang, mengecek kebenaran A320 membawa senjata untuk rezim pemerintahan Suriah. Penyelidikan tersebut tidak membuahkan hasil, militer Turki tidak menemukan senjata.
Sementara itu, general manager Badan Penerbangan Sipil Suriah, Ghaidaa Abdul-Latif menegur tindakan militer Turki, "kami atas nama karyawan kantor penerbangan, mengajukan keluhan resmi pada pemerintah dan lembaga penerbangan Turki serta organisasi penerbangan dunia."
"Kru Airbuss A320 sangat terkejut melihat sebuah benda aneh melayang disekitar pesawat dan ternyata benda itu adalah F-16 Turki, memaksa pilot untuk melakukan pendaratan darurat," ungkap Latif.
Latif mengatakan tindakan ini terang terangan melanggar aturan penerbangan, untuk pertama kalinya seorang pilot diperintahkan mendarat untuk pemeriksaan. Dalam kasus ini pilot menolak, namun jet militer Turki memaksa untuk melakukan pendaratan darurat.
Seperti diketahui, hubungan diplomatik Suriah dan Turki kembali memanas usai peluru mortar Suriah melesat ke Desa Akcakale. Meskipun pihak Damaskus sudah meminta maaf dan berjanji untuk menghentikannya, namun Turki masih melepaskan tembakan artilerinya dan jatuh di Kota Tel Abyad, Suriah Minggu (7/10/2012).
Juru bicara Kementrian Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi mengatakan Suriah menolak alasan pemerintah Turki mendaratkan paksa Airbuss A32 Suriah, yang mengaku mendapat informasi bahwa pesawat ini membawa muatan kargo yang tidak sesuai dengan aturan penerbangan sipil.
"Tindakan yang dilakukan pemerintah Turki membahayakan keselamatan pesawat dan penumpang, dan tindakan ini tidak dapat dibenarkan," ungkap Makdissi seperti diberitakan, Xinhua, Jumat (12/10/2012).
Makdissi mengatakan tindakan ini adalah permusuhan dan penyelidikan yang dilakukan oleh Turki menjadi indikasi penambahan sebuah kebijakan agresif yang didukung oleh Pemerintah Turki. Sementara, "Awak Airbuss A320 juga dipaksa keluar dari pesawat sementara para penumpang juga mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi." ungkap Makdissi.
Makdissi menambahkan, sebelum lepas landas semua barang yang diangkut di atas pesawat telah dicatat lengkap, pesawat tidak akan membawa senjata atau barang yang terlarang.
Menurut pengakuan salah seorang pramugari Airbuss A320 Suriah, Shirin Aziz dia menyaksikan dua orang penumpang dan dua awak pesawat dipukuli oleh militer Turki, mereka dipaksa menadatangani selembar kertas.
Aziz mengatakan, militer Turki telah mengobrak-abrik barang penumpang, mengecek kebenaran A320 membawa senjata untuk rezim pemerintahan Suriah. Penyelidikan tersebut tidak membuahkan hasil, militer Turki tidak menemukan senjata.
Sementara itu, general manager Badan Penerbangan Sipil Suriah, Ghaidaa Abdul-Latif menegur tindakan militer Turki, "kami atas nama karyawan kantor penerbangan, mengajukan keluhan resmi pada pemerintah dan lembaga penerbangan Turki serta organisasi penerbangan dunia."
"Kru Airbuss A320 sangat terkejut melihat sebuah benda aneh melayang disekitar pesawat dan ternyata benda itu adalah F-16 Turki, memaksa pilot untuk melakukan pendaratan darurat," ungkap Latif.
Latif mengatakan tindakan ini terang terangan melanggar aturan penerbangan, untuk pertama kalinya seorang pilot diperintahkan mendarat untuk pemeriksaan. Dalam kasus ini pilot menolak, namun jet militer Turki memaksa untuk melakukan pendaratan darurat.
Seperti diketahui, hubungan diplomatik Suriah dan Turki kembali memanas usai peluru mortar Suriah melesat ke Desa Akcakale. Meskipun pihak Damaskus sudah meminta maaf dan berjanji untuk menghentikannya, namun Turki masih melepaskan tembakan artilerinya dan jatuh di Kota Tel Abyad, Suriah Minggu (7/10/2012).
(aww)