Cucu pendiri Red Bull akui tabrak lari
Rabu, 05 September 2012 - 11:47 WIB
Cucu pendiri Red Bull akui tabrak lari
A
A
A
Sindonews.com - Vorayuth Yoovidhya, cucu pendiri perusahaan minuman energi terkenal di dunia, Red Bull tampaknya akan mendapatkan pelajaran berharga bahwa kekayaan dan kuasa bukanlah jaminan bisa bertindak seenaknya.
Setelah diperiksa polisi,dia mengaku melakukan tabrak lari yang telah menyebabkan seorang petugas polisi, Mayor Sersan Senior Wichian Klanprasert, 48, tewas di tempat.
Letnan Kolonel Viradol Thubthimdee mengatakan kepolisian menelusuri jejak bensin yang bocor ke jalanan yang mengarah ke sebuah rumah dengan Ferrari di halamannya
Vorayuth, 27, atau yang dikenal dengan julukan “Boss” itu,ditangkap beberapa jam setelah Ferrari hitam yang dia kendarai menabrak sebuah sepeda motor seorang polisi Senin 3 September lalu. Malang, polisi itu meninggal dunia
Saat kejadian, polisi itu sedang dalam perjalanan untuk merespons laporan perampokan. Mayat polisi malang itu bahkan sempat terseret sekitar 200 meter oleh Ferrari yang dikendarai Boss.Wichian meninggal akibat mengalami patah di bagian leher dan beberapa bagian lainnya.
Para saksi memaparkan, mobil sport hitam itu menabrak sepeda motor dan kemudian ngebut sebelum masuk ke halaman sebuah rumah, yang merupakan milik keluarga “Red Bull”.
“Dia akan dituntut menyebabkan kematian akibat menyetir dan tidak berhenti serta melapor kepada pihak berwajib. Dia menghadapi hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda.
”Vorayuth awalnya menyangkal tuduhan itu dan berusaha menyembunyikan Ferrari yang dikendarainya. Tapi,setelah digeledah, polisi menemukan Ferrari itu di garasi bawah tanah rumah itu. Vorayuth tak bisa mengelak dan menyerahkan diri kepada polisi.
Dia mengakui menabrak polisi itu, tapi menyebutkan, polisi itu tiba-tiba memotong jalan di depannya dan dia tidak bisa menghindar. Kemarin, polisi memaparkan, akan melayangkan lebih banyak tuntutan kepada Vorayuth jika penyelidikan menunjukkan bahwa penyebab kematian polisi itu lebih dari sekadar menyetir ugal-ugalan.
Kasus ini menjadi sorotan masyarakat Thailand karena melibatkan salah satu keluarga terkaya di Thailand.
Deputi Kepala Biro Polisi Metropolitan Bangkok Letnan Jenderal Anuchai Lekthongdee menegaskan, polisi bakal melayangkan tuduhan yang lebih serius termasuk niat menyebabkan kematian terhadap polisi itu jika penyelidikan mengarah ke sana.
“Jangan khawatir kalau kasus ini bakal berakhir dengan ampunan hanya karena melibatkan keluarga kaya.Polisi akan membuat keputusan berdasarkan bukti,” ujar Anuchai, dikutip Bangkok Post.
“Semua yang dilakukan polisi dicermati masyarakat.” Pengacara keluarga itu, Samak Chewaphanont, memaparkan, keluarga itu siap memberikan kompensasi dan mensponsori ritual pemakaman Wichian.
Dia menuturkan,Vorayuth masih shockdan tidak bisa bicara kepada siapa-siapa. Samak menegaskan, kliennya tidak minum minuman beralkohol sebelum kejadian.
Vorayuth sempat ditahan, tapi kemudian dibebaskan dengan jaminan. Ayah Vorayuth, ChalermYoovidhya, menyesalkan apa yang terjadi dan siap bertanggung jawab. Vorayuth adalah putra ketiga Chalerm yang merupakan putra almarhum Chaleo Yoovidhya, pendiri Red Bull, dan merupakan salah satu orang terkaya di Thailand.
Setelah diperiksa polisi,dia mengaku melakukan tabrak lari yang telah menyebabkan seorang petugas polisi, Mayor Sersan Senior Wichian Klanprasert, 48, tewas di tempat.
Letnan Kolonel Viradol Thubthimdee mengatakan kepolisian menelusuri jejak bensin yang bocor ke jalanan yang mengarah ke sebuah rumah dengan Ferrari di halamannya
Vorayuth, 27, atau yang dikenal dengan julukan “Boss” itu,ditangkap beberapa jam setelah Ferrari hitam yang dia kendarai menabrak sebuah sepeda motor seorang polisi Senin 3 September lalu. Malang, polisi itu meninggal dunia
Saat kejadian, polisi itu sedang dalam perjalanan untuk merespons laporan perampokan. Mayat polisi malang itu bahkan sempat terseret sekitar 200 meter oleh Ferrari yang dikendarai Boss.Wichian meninggal akibat mengalami patah di bagian leher dan beberapa bagian lainnya.
Para saksi memaparkan, mobil sport hitam itu menabrak sepeda motor dan kemudian ngebut sebelum masuk ke halaman sebuah rumah, yang merupakan milik keluarga “Red Bull”.
“Dia akan dituntut menyebabkan kematian akibat menyetir dan tidak berhenti serta melapor kepada pihak berwajib. Dia menghadapi hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda.
”Vorayuth awalnya menyangkal tuduhan itu dan berusaha menyembunyikan Ferrari yang dikendarainya. Tapi,setelah digeledah, polisi menemukan Ferrari itu di garasi bawah tanah rumah itu. Vorayuth tak bisa mengelak dan menyerahkan diri kepada polisi.
Dia mengakui menabrak polisi itu, tapi menyebutkan, polisi itu tiba-tiba memotong jalan di depannya dan dia tidak bisa menghindar. Kemarin, polisi memaparkan, akan melayangkan lebih banyak tuntutan kepada Vorayuth jika penyelidikan menunjukkan bahwa penyebab kematian polisi itu lebih dari sekadar menyetir ugal-ugalan.
Kasus ini menjadi sorotan masyarakat Thailand karena melibatkan salah satu keluarga terkaya di Thailand.
Deputi Kepala Biro Polisi Metropolitan Bangkok Letnan Jenderal Anuchai Lekthongdee menegaskan, polisi bakal melayangkan tuduhan yang lebih serius termasuk niat menyebabkan kematian terhadap polisi itu jika penyelidikan mengarah ke sana.
“Jangan khawatir kalau kasus ini bakal berakhir dengan ampunan hanya karena melibatkan keluarga kaya.Polisi akan membuat keputusan berdasarkan bukti,” ujar Anuchai, dikutip Bangkok Post.
“Semua yang dilakukan polisi dicermati masyarakat.” Pengacara keluarga itu, Samak Chewaphanont, memaparkan, keluarga itu siap memberikan kompensasi dan mensponsori ritual pemakaman Wichian.
Dia menuturkan,Vorayuth masih shockdan tidak bisa bicara kepada siapa-siapa. Samak menegaskan, kliennya tidak minum minuman beralkohol sebelum kejadian.
Vorayuth sempat ditahan, tapi kemudian dibebaskan dengan jaminan. Ayah Vorayuth, ChalermYoovidhya, menyesalkan apa yang terjadi dan siap bertanggung jawab. Vorayuth adalah putra ketiga Chalerm yang merupakan putra almarhum Chaleo Yoovidhya, pendiri Red Bull, dan merupakan salah satu orang terkaya di Thailand.
()