Korsel & Jepang hentikan program pertukaran militer
Selasa, 04 September 2012 - 09:00 WIB
Korsel & Jepang hentikan program pertukaran militer
A
A
A
Sindonews.com - Korea Selatan (Korsel) dan Jepang menghentikan program pertukaran militer kedua negara Konflik maritim saat sengketa Kepulauan Dokdo semakin memanas.
Kementerian Pertahanan (kemenhan) Korsel menjelaskan bahwa Angkatan Laut dan Angkatan Udara Jepang menunda perjalanan ke Korsel, yang semula dijadwalkan kemarin, sebagai bagian program latihan militer.
“Kementerian Pertahanan Korsel juga akan menunda kunjungan serupa ke Jepang.Langkah ini bersifat sementara,yang mencerminkan hubungan yang menegang antara kedua negara,” papar Juru Bicara Kemenhan Korsel,dikutip AFP.
“Penyesuaian program latihan militer Korsel dan Jepang saat ini sedang dikaji kembali sesuai kebutuhan bersama. Namun, itu tidak berarti latihan militer antara negaranegara telah dihentikan sepenuhnya,” ungkap seorang pejabat senior di Kemenhan Korsel.
Pejabat Kemenhan Korsel mengatakan, konflik maritim ini bisa mempengaruhi latihan militer dan program kerja sama lainnya jika ketegangan terus meningkat.
Menurut harian Jepang, Asahi Shimbun, Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang semula berencana mengundang Angkatan Udara Korsel berkunjung ke Jepang sejak kemarin hingga Kamis (6/9) mendatang.
Namun, Seoul tiba-tiba mengirimkan pemberitahuan bahwa militer Korsel tidak akan terlibat dalam program itu. Asahi Shimbun melaporkan, rencana mengundang Angkatan Laut Korsel ke Jepang kemarin juga dibatalkan.
“Korsel memberitahukan pembatalan sejumlah pertukaran militer dengan mempertimbangkan sentimen publik,”ungkap sumber militer Jepang kepada Asahi.
Hingga saat ini, belum ada keputusan terkait rencana kunjungan Armada Satu Angkatan Laut Korsel ke Jepang pada 10 September mendatang. Kelanjutan program pelatihan angkatan udara untuk perwira tinggi yang dijadwalkan 18 September mendatang juga belum diketahui.
Korsel dan Jepang saling mengklaim wilayah yang disebut Dokdo di Korea dan disebut Takeshima di Jepang. Hubungan kedua negara kian memburuk sejak Presiden Korsel Lee Myung-bak melakukan kunjungan mendadak ke kepulauan sengketa itu pada 10 Agustus. Lee saat itu mengatakan bahwa perjalanannya merupakan yang pertama dilakukan seorang Presiden Korsel.
Kunjungan ke kepulauan itu dianggap banyak pengamat bertujuan menekan Jepang agar menyelesaikan berbagai masalah era penjajahan Jepang di Korsel pada 1910–1945. Lee juga menekankan kemarahan Korsel terhadap Jepang dan mendesak Kaisar Akihito meminta maaf dengan tulus, atas semua dampak yang diakibatkan penjajahan Jepang di masa lalu.
Selain itu, Lee menegaskan bahwa Kaisar Akihito harus berkunjung ke Korsel untuk menunjukkan iktikad baiknya. Akibat tindakan Lee, Jepang langsung membatalkan pertemuan menteri keuangan yang dijadwalkan bulan ini. Tokyo juga menegaskan akan meninjau kembali perjanjian pertukaran valuta asing dengan Seoul.
Kementerian Pertahanan (kemenhan) Korsel menjelaskan bahwa Angkatan Laut dan Angkatan Udara Jepang menunda perjalanan ke Korsel, yang semula dijadwalkan kemarin, sebagai bagian program latihan militer.
“Kementerian Pertahanan Korsel juga akan menunda kunjungan serupa ke Jepang.Langkah ini bersifat sementara,yang mencerminkan hubungan yang menegang antara kedua negara,” papar Juru Bicara Kemenhan Korsel,dikutip AFP.
“Penyesuaian program latihan militer Korsel dan Jepang saat ini sedang dikaji kembali sesuai kebutuhan bersama. Namun, itu tidak berarti latihan militer antara negaranegara telah dihentikan sepenuhnya,” ungkap seorang pejabat senior di Kemenhan Korsel.
Pejabat Kemenhan Korsel mengatakan, konflik maritim ini bisa mempengaruhi latihan militer dan program kerja sama lainnya jika ketegangan terus meningkat.
Menurut harian Jepang, Asahi Shimbun, Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang semula berencana mengundang Angkatan Udara Korsel berkunjung ke Jepang sejak kemarin hingga Kamis (6/9) mendatang.
Namun, Seoul tiba-tiba mengirimkan pemberitahuan bahwa militer Korsel tidak akan terlibat dalam program itu. Asahi Shimbun melaporkan, rencana mengundang Angkatan Laut Korsel ke Jepang kemarin juga dibatalkan.
“Korsel memberitahukan pembatalan sejumlah pertukaran militer dengan mempertimbangkan sentimen publik,”ungkap sumber militer Jepang kepada Asahi.
Hingga saat ini, belum ada keputusan terkait rencana kunjungan Armada Satu Angkatan Laut Korsel ke Jepang pada 10 September mendatang. Kelanjutan program pelatihan angkatan udara untuk perwira tinggi yang dijadwalkan 18 September mendatang juga belum diketahui.
Korsel dan Jepang saling mengklaim wilayah yang disebut Dokdo di Korea dan disebut Takeshima di Jepang. Hubungan kedua negara kian memburuk sejak Presiden Korsel Lee Myung-bak melakukan kunjungan mendadak ke kepulauan sengketa itu pada 10 Agustus. Lee saat itu mengatakan bahwa perjalanannya merupakan yang pertama dilakukan seorang Presiden Korsel.
Kunjungan ke kepulauan itu dianggap banyak pengamat bertujuan menekan Jepang agar menyelesaikan berbagai masalah era penjajahan Jepang di Korsel pada 1910–1945. Lee juga menekankan kemarahan Korsel terhadap Jepang dan mendesak Kaisar Akihito meminta maaf dengan tulus, atas semua dampak yang diakibatkan penjajahan Jepang di masa lalu.
Selain itu, Lee menegaskan bahwa Kaisar Akihito harus berkunjung ke Korsel untuk menunjukkan iktikad baiknya. Akibat tindakan Lee, Jepang langsung membatalkan pertemuan menteri keuangan yang dijadwalkan bulan ini. Tokyo juga menegaskan akan meninjau kembali perjanjian pertukaran valuta asing dengan Seoul.
()