PM Noda surati Presiden Hu Jintao
Rabu, 29 Agustus 2012 - 12:22 WIB
PM Noda surati Presiden Hu Jintao
A
A
A
Sindonews.com - Jepang kemarin menyatakan sudah saatnya mempertimbangkan hubungan dengan China yang terus merenggang akibat sengketa wilayah setelah sebuah insiden yang menarget duta besar (dubes) Jepang menambah ketegangan itu.
Senin 27 Agustus lalu bendera Jepang dirobek dari sebuah mobil yang mengangkut dubes Jepang di Beijing, di tengah meluasnya demonstrasi anti-Jepang, akibat sengketa gugusan pulau di Laut China Timur yang dikenal sebagai Diaoyu di China dan Senkaku di Jepang.
Menyebut insiden itu ”sangat disesalkan”, Menteri Luar Negeri Jepang Koichiro Gemba memaparkan akan mengirimkan seorang utusan untuk menyampaikan sepucuk surat dari Perdana Menteri Yoshihiko Noda kepada Presiden China Hu Jintao. Tapi, dia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai isi surat itu.
Dia hanya menyebutkan, sekarang adalah kesempatan baik untuk mempertimbangkan hubungan yang merenggang akibat sengketa wilayah itu.
”Saya yakin sekarang kami harus bertukar pandangan mengenai situasi hubungan Jepang-China, mengenai situasi di kawasan ini secara keseluruhan, termasuk semenanjung Korea, dan juga situasi global,” papar Gemba yang dikutip AFP.
Kepala Sekretaris Kabinet Osamu Fujimura mengungkapkan, surat kepada Hu itu berisi mengenai ”membangun hubungan Jepang-China yang stabil berdasarkan pandangan luas”. Dubes Uichiro Niwa tidak terluka dalam insiden di Beijing itu dan tidak ada kerusakan terhadap kendaraan diplomatiknya.
Pada hari Senin 27 Agustus 2012, pejabat Jepang mengungkapkan, dua mobil memaksa kendaraan Dubes Niwa berhenti. Seorang pria melompat keluar dari salah satu mobil itu lalu merobek bendera yang ada pada kendaraan itu.
”Insiden ini sangat disesalkan, bendera nasional menunjukkan martabat suatu negara dan itu adalah prinsip hukum internasional yang harus Anda hormati,” papar Menteri Luar Negeri Jepang Gemba dikutip BBC.
”Kami telah meminta dengan sangat untuk penyelidikan polisi dan pencegahan untuk tidak terulang kembali kejadian seperti ini.”
Hubungan antara Negeri Tirai Bambu dan Negeri Sakura itu menegang pada bulan ini setelah aktivis pro-Beijing mendarat di salah satu pulau yang disengketakan, yang dikuasai oleh Jepang. Mereka ditangkap pemerintah Jepang dan dideportasi.
Jepang mengelola pulau-pulau itu, tapi China mengatakan, pengelompokan pulau itu telah menjadi bagian dari wilayah China sejak zaman kuno. Pulau-pulau yang disengketakan berada di jalur pelayaran utama dan diperkirakan dekat dengan letak cadangan gas.
Senin 27 Agustus lalu bendera Jepang dirobek dari sebuah mobil yang mengangkut dubes Jepang di Beijing, di tengah meluasnya demonstrasi anti-Jepang, akibat sengketa gugusan pulau di Laut China Timur yang dikenal sebagai Diaoyu di China dan Senkaku di Jepang.
Menyebut insiden itu ”sangat disesalkan”, Menteri Luar Negeri Jepang Koichiro Gemba memaparkan akan mengirimkan seorang utusan untuk menyampaikan sepucuk surat dari Perdana Menteri Yoshihiko Noda kepada Presiden China Hu Jintao. Tapi, dia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai isi surat itu.
Dia hanya menyebutkan, sekarang adalah kesempatan baik untuk mempertimbangkan hubungan yang merenggang akibat sengketa wilayah itu.
”Saya yakin sekarang kami harus bertukar pandangan mengenai situasi hubungan Jepang-China, mengenai situasi di kawasan ini secara keseluruhan, termasuk semenanjung Korea, dan juga situasi global,” papar Gemba yang dikutip AFP.
Kepala Sekretaris Kabinet Osamu Fujimura mengungkapkan, surat kepada Hu itu berisi mengenai ”membangun hubungan Jepang-China yang stabil berdasarkan pandangan luas”. Dubes Uichiro Niwa tidak terluka dalam insiden di Beijing itu dan tidak ada kerusakan terhadap kendaraan diplomatiknya.
Pada hari Senin 27 Agustus 2012, pejabat Jepang mengungkapkan, dua mobil memaksa kendaraan Dubes Niwa berhenti. Seorang pria melompat keluar dari salah satu mobil itu lalu merobek bendera yang ada pada kendaraan itu.
”Insiden ini sangat disesalkan, bendera nasional menunjukkan martabat suatu negara dan itu adalah prinsip hukum internasional yang harus Anda hormati,” papar Menteri Luar Negeri Jepang Gemba dikutip BBC.
”Kami telah meminta dengan sangat untuk penyelidikan polisi dan pencegahan untuk tidak terulang kembali kejadian seperti ini.”
Hubungan antara Negeri Tirai Bambu dan Negeri Sakura itu menegang pada bulan ini setelah aktivis pro-Beijing mendarat di salah satu pulau yang disengketakan, yang dikuasai oleh Jepang. Mereka ditangkap pemerintah Jepang dan dideportasi.
Jepang mengelola pulau-pulau itu, tapi China mengatakan, pengelompokan pulau itu telah menjadi bagian dari wilayah China sejak zaman kuno. Pulau-pulau yang disengketakan berada di jalur pelayaran utama dan diperkirakan dekat dengan letak cadangan gas.
(hyk)