Pemberontak Suriah tak percaya AS lagi
Rabu, 08 Agustus 2012 - 14:23 WIB
Pemberontak Suriah tak percaya AS lagi
A
A
A
Sindonews.com - Setelah perang yang berkecamuk selama lebih dari setahun, kini kelompok oposisi Suriah merasa ditinggalkan dan dikhianati Amerika Serikat (AS). Padahal, Pemerintah AS telah berjanji untuk mendukung pemberontak melengserkan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
“Kami hanya memperoleh janji. Kami kehilangan kepercayaan dengan AS, ” ujar Yasser Abu Ali, seorang anggota pemberontak di kota al-Bab yang terletak 30 Km di sebelah utara Aleppo, Suriah, seperti dikutip The Washington Post, Rabu (8/8/2012).
Menurut Ali, pasukan pemberontak telah berulang kali meminta sebuah zona larangan terbang yang mirip dengan upaya militan Libya menggulingkan Moammar Gaddafi tahun lalu, tetapi tak kunjung dipenuhi. Selain itu, Pemerintah AS juga tidak memberikan pasokan senjata berat untuk melawan tentara militer yang jauh lebih unggul.
Selama hampir 17 bulan, pemberontak Suriah menilai Pemerintah AS tidak memberikan dukungan berarti dalam melawan rezim Assad. Lebih dari itu, pemberontak Suriah merasa tidak diberikan fasilitas sebagaimana yang dijanjikan sebelumnya.
Pemerintah AS hanya memberikan bantuan finansial untuk membeli senjata melalui Arab Saudi, Turki dan Qatar.
Pemberontak di Suriah menuntut perubahan seperti di beberapa negara Timur Tengah lainnya, antara lain Tunisia, Mesir dan Libya. Ketiga negara itu telah berhasil menyelenggarakan pemilihan umum, memilih pemimpin baru, dan memulai transisi menjadi negara demokratis.
Pemerintahan Assad yang didukung China dan Rusia, beraliran sosialis komunis. Akibat kediktatoran Assad, Suriah jatuh ke dalam konflik berkepanjangan.
“Kami hanya memperoleh janji. Kami kehilangan kepercayaan dengan AS, ” ujar Yasser Abu Ali, seorang anggota pemberontak di kota al-Bab yang terletak 30 Km di sebelah utara Aleppo, Suriah, seperti dikutip The Washington Post, Rabu (8/8/2012).
Menurut Ali, pasukan pemberontak telah berulang kali meminta sebuah zona larangan terbang yang mirip dengan upaya militan Libya menggulingkan Moammar Gaddafi tahun lalu, tetapi tak kunjung dipenuhi. Selain itu, Pemerintah AS juga tidak memberikan pasokan senjata berat untuk melawan tentara militer yang jauh lebih unggul.
Selama hampir 17 bulan, pemberontak Suriah menilai Pemerintah AS tidak memberikan dukungan berarti dalam melawan rezim Assad. Lebih dari itu, pemberontak Suriah merasa tidak diberikan fasilitas sebagaimana yang dijanjikan sebelumnya.
Pemerintah AS hanya memberikan bantuan finansial untuk membeli senjata melalui Arab Saudi, Turki dan Qatar.
Pemberontak di Suriah menuntut perubahan seperti di beberapa negara Timur Tengah lainnya, antara lain Tunisia, Mesir dan Libya. Ketiga negara itu telah berhasil menyelenggarakan pemilihan umum, memilih pemimpin baru, dan memulai transisi menjadi negara demokratis.
Pemerintahan Assad yang didukung China dan Rusia, beraliran sosialis komunis. Akibat kediktatoran Assad, Suriah jatuh ke dalam konflik berkepanjangan.
()