AS keukeuh akan singkirkan Assad
Rabu, 01 Agustus 2012 - 12:14 WIB
AS keukeuh akan singkirkan Assad
A
A
A
Sindonews.com - Amerika Serikat berjanji akan terus berupaya membuat Presiden Suriah Bashar al-Assad turun dari kursi kekuasaannya.
"Situasi di Suriah semakin gawat, kami lihat sendiri bagaimana rezim yang berkuasa melanjutkan serangan terhadap rakyatnya sendiri. Kami akan mempercepat semua usaha untuk membuat Assad tersingkir secepat mungkin," ungkap Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Patrick Ventrell, seperti diberitakan dalam RIA Novosti, Rabu (1/7/2012).
Ventrell mengatakan, saat ini AS tidak hanya bekerja sama dengan negara lain tentang sanksi penekanan, namun juga memberi dukungan kepada pemberontak bersenjata. “Kami juga memberikan bantuan kemanusian untuk membantu rakyat Suriah yang masih tetap bertahan di Suriah ataupun yang telah mengungsi ke negara tetangga,” tuturnya.
Sementara itu, tentara Suriah sejak tiga hari yang lalu terus melanjutkan perang dengan kelompok oposisi di Aleppo. Beberapa pengamat menilai perang yang pecah di Aleppo akan menjadi suatu titik yang akan menentukan masa depan pemberontak bersenjata terhadap al-Assad.
Komisi Umum Revolusi Suriah atau Syrian Revolution General Commission mengatakan serangan militer Suriah di Aleppo difokuskan untuk mengambil kontrol wilayah Salaheddin di barat daya Afghanistan. Lokasi terebut merupakan wilayah dimana kubu pemberontak Free Syrian Army (FSA atau Pasukan pembebasan Suriah) memegang pengaruh kuat.
Langkah intervensi militer yang ditekankan melalui upaya diplomasi oleh masyarakat internasional nampaknya telah gagal setelah tiga kali diveto oleh Rusia dan China.
Kedua negara yang sering berseberangan dengan AS dan sekutunya ini beralasan, skenario militer yang pernah dilakukan di Libya ditakutkan akan terulang kembali di Suriah.
"Situasi di Suriah semakin gawat, kami lihat sendiri bagaimana rezim yang berkuasa melanjutkan serangan terhadap rakyatnya sendiri. Kami akan mempercepat semua usaha untuk membuat Assad tersingkir secepat mungkin," ungkap Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Patrick Ventrell, seperti diberitakan dalam RIA Novosti, Rabu (1/7/2012).
Ventrell mengatakan, saat ini AS tidak hanya bekerja sama dengan negara lain tentang sanksi penekanan, namun juga memberi dukungan kepada pemberontak bersenjata. “Kami juga memberikan bantuan kemanusian untuk membantu rakyat Suriah yang masih tetap bertahan di Suriah ataupun yang telah mengungsi ke negara tetangga,” tuturnya.
Sementara itu, tentara Suriah sejak tiga hari yang lalu terus melanjutkan perang dengan kelompok oposisi di Aleppo. Beberapa pengamat menilai perang yang pecah di Aleppo akan menjadi suatu titik yang akan menentukan masa depan pemberontak bersenjata terhadap al-Assad.
Komisi Umum Revolusi Suriah atau Syrian Revolution General Commission mengatakan serangan militer Suriah di Aleppo difokuskan untuk mengambil kontrol wilayah Salaheddin di barat daya Afghanistan. Lokasi terebut merupakan wilayah dimana kubu pemberontak Free Syrian Army (FSA atau Pasukan pembebasan Suriah) memegang pengaruh kuat.
Langkah intervensi militer yang ditekankan melalui upaya diplomasi oleh masyarakat internasional nampaknya telah gagal setelah tiga kali diveto oleh Rusia dan China.
Kedua negara yang sering berseberangan dengan AS dan sekutunya ini beralasan, skenario militer yang pernah dilakukan di Libya ditakutkan akan terulang kembali di Suriah.
()