Korut terbangkan 16 ribu selabaran ke Korsel
Jum'at, 27 Juli 2012 - 19:58 WIB
Korut terbangkan 16 ribu selabaran ke Korsel
A
A
A
Sindonews.com – Pertama kalinya sejak 12 tahun lalu, Korea Utara (Korut) menyebarkan ribuan selebaran kepada tetangganya Korea Selatan (Korsel).
Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan, militer Korsel sejak 21 Juli lalu telah memungut sedikitnya 16 ribu selebaran yang berisi kritik terhadap kepemimpinan Presiden Korsel, Lee Myung-bak dan dugaan rencana persekongkolan untuk menghancurkan patung pemimpin akhir Korut, Kim Jong-il. Korut terakhir kali melakukan tindakan tersebut pada 2000 lalu, dalam sebuah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), saat negara itu berjanji untuk tidak memfitnah Korsel.
Sedangkan pada Rabu 25 Juli lalu, Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Korut telah mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mengganti perjanjian gencatan senjata dengan kesepakatan damai, tanpa persyaratan apapun.
Seperti diberitakan KCNA, Jumat (27/7/2012) gencatan senjata antara Korsel dengan AS di Semenanjung Korea telah berlangsung selama 59 tahun. Hal ini bukan sesuatu yang wajar, melainkan situasi sulit dan belum pernah terjadi sebelumnya. Salah satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menandatangani perjanjian damai dan menyelesaikan akar permasalahan yang menjadi penyebab permusuhan.
"Kini keputusan ada ditangan AS," ungkap pernyataan pemerintah Korut bersamaan dengan konfirmasi berita pernikahan Pemimpin Korut, Kim Jong Un dengan Ri Sol-ju.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland mengatakan, penyataan tersebut merupakan penawaran terbaik yang pernah diungkapkan pemimpin Korut. Fokus utamaPemerintah AS adalah warga Korut, karena ingin melihat negara ini memberikan sesuatu yang lebih kepada rakyat mereka," ungkap Nuland.
Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan, militer Korsel sejak 21 Juli lalu telah memungut sedikitnya 16 ribu selebaran yang berisi kritik terhadap kepemimpinan Presiden Korsel, Lee Myung-bak dan dugaan rencana persekongkolan untuk menghancurkan patung pemimpin akhir Korut, Kim Jong-il. Korut terakhir kali melakukan tindakan tersebut pada 2000 lalu, dalam sebuah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), saat negara itu berjanji untuk tidak memfitnah Korsel.
Sedangkan pada Rabu 25 Juli lalu, Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) Korut telah mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mengganti perjanjian gencatan senjata dengan kesepakatan damai, tanpa persyaratan apapun.
Seperti diberitakan KCNA, Jumat (27/7/2012) gencatan senjata antara Korsel dengan AS di Semenanjung Korea telah berlangsung selama 59 tahun. Hal ini bukan sesuatu yang wajar, melainkan situasi sulit dan belum pernah terjadi sebelumnya. Salah satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menandatangani perjanjian damai dan menyelesaikan akar permasalahan yang menjadi penyebab permusuhan.
"Kini keputusan ada ditangan AS," ungkap pernyataan pemerintah Korut bersamaan dengan konfirmasi berita pernikahan Pemimpin Korut, Kim Jong Un dengan Ri Sol-ju.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland mengatakan, penyataan tersebut merupakan penawaran terbaik yang pernah diungkapkan pemimpin Korut. Fokus utamaPemerintah AS adalah warga Korut, karena ingin melihat negara ini memberikan sesuatu yang lebih kepada rakyat mereka," ungkap Nuland.
()