Libya gelar pemilu pertama
Minggu, 08 Juli 2012 - 02:56 WIB
Libya gelar pemilu pertama
A
A
A
Sindonews.com – Libya menggelar pemilu pertama sejak lima puluh tahun lalu. Rakyat Libya memberikan suara untuk memilih anggota majelis nasional atau parlemen, yang merupakan pemilu pertama kali setelah pemilu terakhir tahun 1964.
Lebih dari tiga ribu calon anggota majelis nasional akan bersaing untuk memperebutkan 200 kursi majelis. Selain calon yang mewakil partai politik, ada juga calon independen. Sekitar dua juta orang yang memiliki hak suara dari sekitar enam juta penduduk Libya. Seperti dikutip dari BBC, Minggu (8/7/2012).
Majelis Nasional menggantikan Dewan Transisi Nasional yang dibentuk setelah penggulingan Muammar Khadafi sekitar sembilan bulan lalu. Majelis Nasional akan mengendalikan negara selama masa transisi 18 bulan.
Setelah itu, Majelis Nasional menunjuk perdana menteri yang baru dan memilih anggota dewan konstitusi. Dewan konstitusi inilah yang akan menyusun konstitusi baru, yang diawali referendum tentang isi rancangan konstitusi baru tersebut.
Pemungutan suara untuk memilih majelis nasional ini sempat diwarnai kekhawatiran setelah kerusuhan terjadi di wilayah timur Libya. Kerusuhan itu dipicu protes jatah kursi dari warga Libya di wilayah timur yang menganggap jumlahnya lebih sedikit dibanding untuk wilayah barat Libya dan Tripoli. Padahal wilayah timur terkenal sebagai produsen minyak mentah yang menopang perekonomian Libya.
Lebih dari tiga ribu calon anggota majelis nasional akan bersaing untuk memperebutkan 200 kursi majelis. Selain calon yang mewakil partai politik, ada juga calon independen. Sekitar dua juta orang yang memiliki hak suara dari sekitar enam juta penduduk Libya. Seperti dikutip dari BBC, Minggu (8/7/2012).
Majelis Nasional menggantikan Dewan Transisi Nasional yang dibentuk setelah penggulingan Muammar Khadafi sekitar sembilan bulan lalu. Majelis Nasional akan mengendalikan negara selama masa transisi 18 bulan.
Setelah itu, Majelis Nasional menunjuk perdana menteri yang baru dan memilih anggota dewan konstitusi. Dewan konstitusi inilah yang akan menyusun konstitusi baru, yang diawali referendum tentang isi rancangan konstitusi baru tersebut.
Pemungutan suara untuk memilih majelis nasional ini sempat diwarnai kekhawatiran setelah kerusuhan terjadi di wilayah timur Libya. Kerusuhan itu dipicu protes jatah kursi dari warga Libya di wilayah timur yang menganggap jumlahnya lebih sedikit dibanding untuk wilayah barat Libya dan Tripoli. Padahal wilayah timur terkenal sebagai produsen minyak mentah yang menopang perekonomian Libya.
()