Polisi Myanmar tangkap 20 mahasiswa
Minggu, 08 Juli 2012 - 01:56 WIB
Polisi Myanmar tangkap 20 mahasiswa
A
A
A
Sindonews.com – Para pegiat pro demokrasi Myanmar mengungkapkan lebih dari 20 pemimpin mahasiswa Mereka ditangkap menjelang peringatan 50 tahun gerakan perlawanan mahasiswa. Ketika itu, sekitar 300 orang berkumpul di Rangoon, sementara polisi tanpa seragam berada di sekitar mereka.
Penangkapan itu merupakan yang terbesar sejak Myanmar mulai menempuh langkah awal menuju reformasi politik tahun lalu. Para pemimpin gerakan mahasiswa tersebut ditangkap di empat kota dan dibawa ke tempat yang tidak diketahui.
Saat ini, tempat penahanan mereka belum diketahui. Namun, sejumlah laporan menyebutkan bahwa para pemimpin mahasiswa yang ditangkap itu telah dibebaskan hari Sabtu (7/7/2012).
Seorang pegiat Generasi 88 atau gerakan perlawanan atas rezim militer tahun 1988, Ma Nilar mengatakan, 16 orang ditangkap di Rangoon dan di Mandalay, yang merupakan dua kota terbesar di Myanmar. Selain itu, penangkapan juga terjad di Lashio dan Shwebo di Myanmar utara.
Salah satu mahasiswa yang ditangkap yaitu Phyo Phyo Aung. Pria berusia 23 tahun ini baru dibebaskan dari tahanan tahun 2011. Ibunya mengatakan, sekitar 20 orang yang dipimpin seorang perwira polisi datang ke rumah pada hari Jumat untuk membawanya.
"Mereka mengatakan akan mengembalikan dia pulang setelah ditanyai. Kami tidak tahu dimana dia dan bagaimana keadaannya sekarang," tutur dia, seperti dilansir dari BBC, Minggu (8/7/2012).
Sebelumnya, peringatan gerakan perlawanan mahasiswa yang menentang rezim militer ditanggapi dengan kekerasan dan belasan mahasiswa tewas. Karena itu, sejumlah pihak masih menantikan reformasi lebih lanjut. Mengingat militer masih berperan dalam politik sehari-sehari di negara ini. Bahkan perwakilan militer dan polisi masih mendapat jatah kursi di parlemen Myanmar.
Penangkapan terbaru pemimpin mahasiswa ini jelas meningkatkan keraguan atas kesungguhan dan komitmen Myanmar dalam menegakkan demokrasi.
Penangkapan itu merupakan yang terbesar sejak Myanmar mulai menempuh langkah awal menuju reformasi politik tahun lalu. Para pemimpin gerakan mahasiswa tersebut ditangkap di empat kota dan dibawa ke tempat yang tidak diketahui.
Saat ini, tempat penahanan mereka belum diketahui. Namun, sejumlah laporan menyebutkan bahwa para pemimpin mahasiswa yang ditangkap itu telah dibebaskan hari Sabtu (7/7/2012).
Seorang pegiat Generasi 88 atau gerakan perlawanan atas rezim militer tahun 1988, Ma Nilar mengatakan, 16 orang ditangkap di Rangoon dan di Mandalay, yang merupakan dua kota terbesar di Myanmar. Selain itu, penangkapan juga terjad di Lashio dan Shwebo di Myanmar utara.
Salah satu mahasiswa yang ditangkap yaitu Phyo Phyo Aung. Pria berusia 23 tahun ini baru dibebaskan dari tahanan tahun 2011. Ibunya mengatakan, sekitar 20 orang yang dipimpin seorang perwira polisi datang ke rumah pada hari Jumat untuk membawanya.
"Mereka mengatakan akan mengembalikan dia pulang setelah ditanyai. Kami tidak tahu dimana dia dan bagaimana keadaannya sekarang," tutur dia, seperti dilansir dari BBC, Minggu (8/7/2012).
Sebelumnya, peringatan gerakan perlawanan mahasiswa yang menentang rezim militer ditanggapi dengan kekerasan dan belasan mahasiswa tewas. Karena itu, sejumlah pihak masih menantikan reformasi lebih lanjut. Mengingat militer masih berperan dalam politik sehari-sehari di negara ini. Bahkan perwakilan militer dan polisi masih mendapat jatah kursi di parlemen Myanmar.
Penangkapan terbaru pemimpin mahasiswa ini jelas meningkatkan keraguan atas kesungguhan dan komitmen Myanmar dalam menegakkan demokrasi.
()