Oposisi deadline Presiden Suriah 48 jam
Kamis, 31 Mei 2012 - 11:34 WIB
Oposisi deadline Presiden Suriah 48 jam
A
A
A
Sindonews.com - Tentara pembebasan Suriah Free Syrian Army (FSA) memberikan batas waktu 48 jam kepada Presiden Suriah Bashar Al-Assad untuk melakukan gencatan senjata.
Pemimpin FSA, Kolonel Qassim Saadeddine mempublish sebuah video online yang memang ditujukan kepada Pemerintah Suriah. "Jika Pemerintah Suriah tidak memberikan respons sampai Jumat 1 Juni mendatang, maka FSA akan menilai bahwa Pemerintah Suriah benar-benar tidak terikat dengan rencana perdamaian yang telah disepakati dengan Kofi Annan," ungkap Saadeddine seperti diberitakan dalam BBC.co.uk, Kamis, (31/5/2012).
“Pemerintah Suriah harus melakukan gencatan senjata, menarik semua pasukan, tank, dan juga semua artileri yang tersebar di berbagai desa dan kota di Suriah," tambah Saadeddine.
Gencatan senjata harus diikuti dengan pemberian akses bantuan kemanusiaan ke berbagai wilayah. Selain itu, pemerintah juga harus kembali melakukan negosiasi dengan serius bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Yakni, negosiasi untuk mengalihkan kekuasaan kepada rakyat Suriah.
Semua yang dikatakan oleh Saadeddine dalam videonya adalah bagian dari proposal rencana perdamaian Suriah yang telah disepakati oleh Assad dengan Annan.
Tentara FSA kabarnya tidak memiliki pasokan senjata dalam jumlah banyak. Mereka juga tidak memiliki senjata berat dan tank seperti milik pemerintah. Namun, tidak menutup kemungkinan kelompok pemberontak lain di Suriah memiliki senjata yang kapasitasnya sama dengan senjata pemerintah.
Sejauh ini, 300 orang pemantau PBB masih berada di Suriah. Mereka terus memantau beberapa sudut kota dan desa di Suriah.
Pemimpin FSA, Kolonel Qassim Saadeddine mempublish sebuah video online yang memang ditujukan kepada Pemerintah Suriah. "Jika Pemerintah Suriah tidak memberikan respons sampai Jumat 1 Juni mendatang, maka FSA akan menilai bahwa Pemerintah Suriah benar-benar tidak terikat dengan rencana perdamaian yang telah disepakati dengan Kofi Annan," ungkap Saadeddine seperti diberitakan dalam BBC.co.uk, Kamis, (31/5/2012).
“Pemerintah Suriah harus melakukan gencatan senjata, menarik semua pasukan, tank, dan juga semua artileri yang tersebar di berbagai desa dan kota di Suriah," tambah Saadeddine.
Gencatan senjata harus diikuti dengan pemberian akses bantuan kemanusiaan ke berbagai wilayah. Selain itu, pemerintah juga harus kembali melakukan negosiasi dengan serius bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Yakni, negosiasi untuk mengalihkan kekuasaan kepada rakyat Suriah.
Semua yang dikatakan oleh Saadeddine dalam videonya adalah bagian dari proposal rencana perdamaian Suriah yang telah disepakati oleh Assad dengan Annan.
Tentara FSA kabarnya tidak memiliki pasokan senjata dalam jumlah banyak. Mereka juga tidak memiliki senjata berat dan tank seperti milik pemerintah. Namun, tidak menutup kemungkinan kelompok pemberontak lain di Suriah memiliki senjata yang kapasitasnya sama dengan senjata pemerintah.
Sejauh ini, 300 orang pemantau PBB masih berada di Suriah. Mereka terus memantau beberapa sudut kota dan desa di Suriah.
()