Sekjen PBB puji kompromi Suu Kyi
Rabu, 02 Mei 2012 - 07:51 WIB
Sekjen PBB puji kompromi Suu Kyi
A
A
A
Sindonews.com — Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon kemarin memuji ikon demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi yang mengakhiri boikot parlemen.
Ban memuji Suu Kyi sebagai “pemimpin sejati” yang menunjukkan “fleksibilitas” dalam penolakan sumpah parlemen. Sikap melunak Suu Kyi itu mengakhiri ketegangan dengan Pemerintah Myanmar. “Saya tahu itu merupakan keputusan yang sangat sulit,” kata Ban dikutip AFP.“Tapi,seorang pemimpin sejati mampu menunjukkan fleksibilitas untuk perjuangan rakyat banyak.
Ini apa yang dilakukan dia kemarin (Senin, 30/4) dan saya sungguh memuji dan menghargai keputusannya. Saya yakin dia bakal memainkan peranan yang aktif dan konstruktif sebagai anggota parlemen untuk kemajuan dan kebaikan negara ini.”
Suu Kyi berhasil mendapatkan satu kursi di parlemen melalui pemilu sela pada 1 April lalu. Menurut sumber, Suu Kyi dan 42 anggota Partai Liga Nasional Demokrasi (NLD) yang menang dalam pemilu sela 1 April lalu akan diambil sumpah hari ini. Menurut Suu Kyi, kompromi yang dilakukannya demi kepentingan reformasi.“Kami selalu percaya kepada fleksibilitas dalam proses politik.Itu hanya sebagai cara yang dapat kami lakukan untuk mencapai tujuan tanpa kekerasan,” kata Suu Kyi.
Pemimpin oposisi Myanmar itu menangguhkan boikot parlemen karena partainya tidak ingin menimbulkan permasalahan politik atau ketegangan. Suu Kyi juga mengakhiri ketegangan pertama dengan pemerintah setelah pemilu pada April lalu.“Pemilih memilih kita karena mereka ingin melihat kita di parlemen,”katanya. Suu Kyi juga menyinggung mengenai bantuan internasional. Dia meminta Bank agar berhati-hati dalam memberikan bantuan kepada Myanmar.
Tujuannya,agar tidak salah sasaran. “Kapan pun bantuan yang datang ke Burma (Myanmar), seharusnya untuk memperdayakan rakyat dan menurunkan ketergantungan terhadap pemerintah,”tuturnya. Ikon demokrasi Myanmar itu juga mengutarakan kalau salah satu prioritasnya adalah mendorong amendemen konstitusi 2008. Dia ingin mengubah pasal di mana seperempat anggota parlemen diisi oleh pejabat militer yang tidak dipilih rakyat.
Pertemuan pertama antara Suu Kyi dan Ban berlangsung selama hampir satu jam di vila di dekat danau di Yangon.Pada kesempatan itu, Ban juga mengundang Suu Kyi untuk berkunjung ke PBB. Pertemuan itu mengobati kekecewaan ketika Ban dilarang bertemu pemimpin oposisi pada 2009 lalu. Pada Senin (30/4) Ban menjadi orang asing pertama yang memberikan pidato di gedung parlemen.
Dia memuji upaya reformasi Presiden Thein Sein dan berjanji untuk mendukung Pemerintah Myanmar melalui transisi demokrasi yang tak berbalik arah. Dia juga meminta keringanan sanksi lain. (wbs)
Ban memuji Suu Kyi sebagai “pemimpin sejati” yang menunjukkan “fleksibilitas” dalam penolakan sumpah parlemen. Sikap melunak Suu Kyi itu mengakhiri ketegangan dengan Pemerintah Myanmar. “Saya tahu itu merupakan keputusan yang sangat sulit,” kata Ban dikutip AFP.“Tapi,seorang pemimpin sejati mampu menunjukkan fleksibilitas untuk perjuangan rakyat banyak.
Ini apa yang dilakukan dia kemarin (Senin, 30/4) dan saya sungguh memuji dan menghargai keputusannya. Saya yakin dia bakal memainkan peranan yang aktif dan konstruktif sebagai anggota parlemen untuk kemajuan dan kebaikan negara ini.”
Suu Kyi berhasil mendapatkan satu kursi di parlemen melalui pemilu sela pada 1 April lalu. Menurut sumber, Suu Kyi dan 42 anggota Partai Liga Nasional Demokrasi (NLD) yang menang dalam pemilu sela 1 April lalu akan diambil sumpah hari ini. Menurut Suu Kyi, kompromi yang dilakukannya demi kepentingan reformasi.“Kami selalu percaya kepada fleksibilitas dalam proses politik.Itu hanya sebagai cara yang dapat kami lakukan untuk mencapai tujuan tanpa kekerasan,” kata Suu Kyi.
Pemimpin oposisi Myanmar itu menangguhkan boikot parlemen karena partainya tidak ingin menimbulkan permasalahan politik atau ketegangan. Suu Kyi juga mengakhiri ketegangan pertama dengan pemerintah setelah pemilu pada April lalu.“Pemilih memilih kita karena mereka ingin melihat kita di parlemen,”katanya. Suu Kyi juga menyinggung mengenai bantuan internasional. Dia meminta Bank agar berhati-hati dalam memberikan bantuan kepada Myanmar.
Tujuannya,agar tidak salah sasaran. “Kapan pun bantuan yang datang ke Burma (Myanmar), seharusnya untuk memperdayakan rakyat dan menurunkan ketergantungan terhadap pemerintah,”tuturnya. Ikon demokrasi Myanmar itu juga mengutarakan kalau salah satu prioritasnya adalah mendorong amendemen konstitusi 2008. Dia ingin mengubah pasal di mana seperempat anggota parlemen diisi oleh pejabat militer yang tidak dipilih rakyat.
Pertemuan pertama antara Suu Kyi dan Ban berlangsung selama hampir satu jam di vila di dekat danau di Yangon.Pada kesempatan itu, Ban juga mengundang Suu Kyi untuk berkunjung ke PBB. Pertemuan itu mengobati kekecewaan ketika Ban dilarang bertemu pemimpin oposisi pada 2009 lalu. Pada Senin (30/4) Ban menjadi orang asing pertama yang memberikan pidato di gedung parlemen.
Dia memuji upaya reformasi Presiden Thein Sein dan berjanji untuk mendukung Pemerintah Myanmar melalui transisi demokrasi yang tak berbalik arah. Dia juga meminta keringanan sanksi lain. (wbs)
()