Phobos Grunt akhirnya jatuh di Samudera Pasifik

Senin, 16 Januari 2012 - 11:14 WIB
Phobos Grunt akhirnya...
Phobos Grunt akhirnya jatuh di Samudera Pasifik
A A A
Sindonews.com – Satelit antariksa milik Rusia, Phobos-Grunt Minggu malam atau Senin dini hari waktu Indonesia jatuh di Samudra Pasifik. Phobos-Grunt jatuh sekira pukul 01.45 WIB.

Menteri Pertahanan Rusia, Alexei Zolotukhin menuturkan, bagian puing-puing Phobos-Grunt telah jatuh ke dalam Samudera Pasifik, tepatnya 1.250 kilometer di sebelah barat Pulau Wellington.

Phobos-Grunt jatuh pada pukul 21:45 waktu Moskow atau pada Minggu 01.45 WIB,” ungkap Alexei seperti dikutip ria novosti, Senin (16/1/2012).

Menurut Badan Antariksa Rusia, Roscosmos, sebelum terjatuh pada pukul 20.15 satelit antariksa itu bergerak dalam orbit dekat Bumi dengan ketinggian yang bervariasi antara 113,8 kilometer pada perigee (jarak terdekat antara pesawat dengan Bumi) dan apogee ( jarak terjauh antara pesawat dengan Bumi) 133,2 kilometer.

Wakil perdana menteri Rusia, Dmitry Rogozin menuturkan "Saya sendiri yang akan memimpin misi penyelidikan kegagalan yang dialami Phobos-Grunt."

Satelit antariksa yang diluncurkan pada 9 November 2011 rencananya akan kembali menuju Bumi pada tahun 2014. Satelit ini tercatat sebagai satelit antariksa yang termahal sekitar USD170 juta.

Akibat kecelakaan, satelit ini juga tercatat sebagai sampah antariksa yang paling beracun yang sampai ke Bumi. Namun tidak seluruh bagian dari pesawat ini akan sampai ke Bumi.

Pesawat ini sengaja didesain khusus untuk membawa contoh bebatuan dari bulan Mars dan menyelidiki kehidupan di planet itu.

Menurut Kepala Badan Antariksa Rusia, Vladimir Popovkin, insiden ini disebabkan sebuah kegagalan mesin shingga pesawat gagal mendarat di permukaan Mars.

Menurut catatan NASA, kecelakaan in merupakan insiden ke-17 dalam misi penerbangan ke Mars sejak tahun 1960-an. Kegagalan yang sebelumnya tercatat pada 1996, saat itu satelit antariksa Rusia hilang saat sedang mengorbit di Mars.

Sementara itu, Kepala Badan Antariksa Eropa, Prof Heiner Klinkrad, menuturkan kejatuhan pesawat ini ke Bumi tidak akan menimbulkan risiko yang signifikan.

Jatuhnya bagian satelit ini ke Bumi tidak dapat ditoleransi karena dilapisi material yang lebih solid . Sehingga, membuat bagian pesawat ini dapat bertahan dalam perjalanannya kembali menuju Bumi.(azh)
()
Berita Terkini
Sinifikasi Agama di...
Sinifikasi Agama di China Menguat, Gereja Katolik Patriotik Jadi Sorotan
16 menit yang lalu
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
46 menit yang lalu
Pemimpin Hizbullah Kecam...
Pemimpin Hizbullah Kecam Negosiasi Lebanon-Israel, Dianggap Tidak Tahu Malu
9 jam yang lalu
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
10 jam yang lalu
Lebih dari 9.500 Orang...
Lebih dari 9.500 Orang Hilang di Gaza sejak Awal Perang
11 jam yang lalu
Raja Langit Sesungguhnya:...
Raja Langit Sesungguhnya: 5 Helikopter Tempur Paling Mematikan Berdasarkan Rekam Jejak Perang
12 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved