Mengintip Cara Korsel Taklukkan Virus Corona Tanpa Lockdown

loading...
Mengintip Cara Korsel Taklukkan Virus Corona Tanpa Lockdown
Mengintip Cara Korsel Taklukkan Virus Corona Tanpa Lockdown
A+ A-
SEOUL - Ketika banyak negara di dunia melakukan lockdown parsial atau pun total untuk mencegah penyebaran virus corona baru (COVID-19), satu negara ini dipandang sebagai contoh yang mampu mengendalikan penyakit tanpa harus mematikan ekonomi. Negara tersebut adalah Republik Korea atau dikenal sebagai Korea Selatan (Korsel).

Pada hari Kamis, Seoul mengumumkan 101 kasus anyar infeksi virus corona baru, menandai hari ke-20 berturut-turut ketika infeksi telah tumbuh pada level kurang dari 150 orang per hari. Itu adalah perubahan yang nyata hingga akhir Februari, ketika negara itu mencatat 909 kasus infeksi dalam satu hari.

Tidak seperti Italia dan Spanyol yang melakukan lockdown total tapi jumlah kasus infeksi dan angka kematian sangat parah, Korea Selatan tidak pernah memberlakukan jam malam atau menghentikan orang-orangnya untuk pergi bekerja. Meskipun demikian, Korea Selatan berhasil menstabilkan tingkat infeksi atau "meratakan kurva".

"Awalnya orang khawatir tentang wabah, tetapi kemudian mereka mulai melihat angka-angka yang tidak dapat dipercaya di Eropa dan di tempat lain, dan mereka mulai menyadari bahwa pemerintah Korea Selatan benar-benar telah melakukan pekerjaan yang sangat baik. (Negara) itu telah menangani krisis dengan sangat baik," kata jurnalis Al Arabiya di Korea Selatan, Ashwaq AlAtoli.

Keberhasilan negara itu telah menarik perhatian dari seluruh dunia sebagai model potensial. Negara-negara seperti Jerman dilaporkan berusaha meniru pendekatan ala Korea Selatan. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan pada hari Rabu bahwa negara itu telah menerima permintaan dari 121 negara lain untuk membantu mereka melakukan tes COVID-19.



Tapi apa model Korea Selatan, bagaimana negara itu “meratakan kurva,” dan akankah pendekatannya bekerja di negara lain?

Respons Cepat


Salah satu ciri khas keberhasilan Korea Selatan adalah pihak berwenang bereaksi sangat cepat terhadap laporan penyebaran COVID-19 di China, negara yang relatif berdekatan.

Hanya satu minggu setelah Korea Selatan melaporkan kasus pertama COVID-19 pada 20 Januari, pemerintah memerintahkan pabrik untuk mulai memproduksi alat tes virus corona secara massal. Dalam dua minggu, negara itu memproduksi lebih dari 100.000 alat tes sehari.

“Kami sangat gugup. Kami percaya bahwa itu dapat berkembang menjadi pandemi," kata Lee Sang-won, seorang ahli penyakit menular di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC), kepada Reuters, yang dilansir Sabtu (4/4/2020).

"Kami bertindak seperti tentara," katanya.



Untungnya, KCDC telah menjalankan skenario tes pada bulan Desember, tepat sebelum wabah muncul, yang memastikan itu relatif dipersiapkan dengan baik ketika virus corona menyerang.

Sebaliknya, Amerika Serikat—yang mendeteksi kasus pertama COVID-19 pada hari yang sama dengan Korea Selatan—gagal bereaksi dengan cepat. Meskipun Presiden Donald Trump sekarang telah memberlakukan keadaan darurat yang dapat memaksa perusahaan untuk memproduksi barang-barang medis, negara ini menghadapi kekurangan besar alat tes—dan hanya menguji 60.000 dari sekitar 350 juta populasi pada pertengahan Maret.

Tes COVID-19


Respons cepat membuahkan hasil karena menerapkan fitur kunci kedua dari keberhasilan Korea Selatan, yakni melakukan banyak tes dan melakukan tes secara efektif.

Produksi massal alat tes memungkinkan pemerintah untuk berhasil melakukan tes penting terhadap populasi untuk COVID-19. Negara ini meluncurkan lebih dari 600 pusat tes dan membuat tes dilakukan mudah dan tersedia. Data hasil tes massal inilah yang memungkinkan pihak berwenang untuk memantau penyebaran virus dan merawat mereka yang terpapar.

"Tes itu penting karena mengarah pada deteksi dini, meminimalkan penyebaran lebih lanjut dan dengan cepat mengobati (orang) yang ditemukan dengan virus," kata Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha kepada BBC. "Tes sebagai kunci di balik tingkat kematian kami yang sangat rendah."

Data hingga saat ini ada 10.156 kasus COVID-19 di Korea Selatan. Namun, jumlah korban meninggal 177 orang, angka yang relatif sedikit dibanding negara-negara lain. Bahkan, angka kematian Indonesia 191 jiwa dari 2.092 kasus infeksi.

Korea Selatan berhasil menyembuhkan 6.325 pasien dari 10.156 kasus. Sedangkan Indonesia saat ini berhasil menyembuhkan 150 pasien dari 2.092 kasus.

Kematian terparah terjadi di Italia, yakni 14.681 jiwa dari 119.827 kasus. Begitu juga dengan Spanyol yang angka kematiannya 11.198 jiwa dari 119.199 kasus. Amerika Serikat memiliki 277.522 kasu dengan 7.403 kematian.

Belajar dari MERS 2015
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top