Di Bawah Tekanan, Inggris Janjikan 100 Ribu Tes COVID-19 Setiap Hari

Jum'at, 03 April 2020 - 01:42 WIB
Di Bawah Tekanan, Inggris...
Di Bawah Tekanan, Inggris Janjikan 100 Ribu Tes COVID-19 Setiap Hari
A A A
LONDON - Menteri Kesehatan (Menkes) Inggris berjanji akan meningkatkan tes harian COVID-19 sepuluh kali lipat. Pemerintah Inggris telah dihujani kritik karena gagal melakukan tes COVID-19 massal untuk petugas kesehatan dan masyarat.

Muncul pertama kalinya setelah dinyatakan sembuh dari virus Corona dan mengakhiri periode karantina, Menkes Inggris Matt Hancock mengumumkan strategi baru untuk meningkatkan industri diagnostik Inggris.

“Saya sekarang menetapkan target 100.000 tes per hari pada akhir bulan ini. Itulah tujuannya dan saya bertekad bahwa kita akan sampai di sana,” kata Hancock seperti dikutip dari Reuters, Jumat (3/4/2020).

Dalam konferensi persnya hari Kamis, Hancock berusaha memberikan kejelasan tentang strategi pengujian pemerintah setelah serangkaian pernyataan yang kadang-kadang bertentangan dari para menteri dan pejabat.

Sementara Jerman telah menguji sekitar 500 ribu orang per minggu, Inggris telah melakukan sekitar 10 ribu tes sehari.

Inggris telah merubah startegi pendekatannya terhadap wabah virus Corona setelah pemodelan menunjukkan seperempat juta orang di negara itu bisa meninggal akibat pandemi.

Perdana Menteri Boris Johnson kemudian memberlakukan langkah-langkah yang lebih tegas, namun pemerintah justru menghadapi kritik yang luas karena terlalu sedikit memiliki ventilator dan melakukan tes COVID-19.

Johnson, yang pekan lalu mengumumkan positif virus corona dan mengucilkan diri, mengatakan dalam pesan video pada Rabu malam bahwa pengujian itu penting untuk mengatasi krisis dan akan meningkat secara besar-besaran.

"Seperti yang telah saya katakan selama berminggu-minggu, ini adalah jalan keluar: ini adalah bagaimana kita akan membuka kunci teka-teki virus Corona, ini adalah bagaimana kita akan mengalahkannya pada akhirnya," katanya.

Kematian akibat virus Corona di Inggris naik 24 persen menjadi 2.921 pada 1 April. Pada 2 April, 163.194 orang telah diuji dan 33.718 di antaranya positif.

Sebuah jajak pendapat Ipsos MORI menunjukkan, lebih dari setengah warga Inggris berpikir pemerintah Johnson terlalu lambat untuk memerintahkan penutupan.

Tes sangat penting untuk memerangi virus dan merawat ekonomi agar kembali sehat setelah apa yang diperkirakan sebagai kuartal terburuk dalam sekitar satu abad.

Melakukan tes kepada staf kesehatan di garis depan memungkinkan mereka yang memiliki kekebalan untuk kembali bekerja sementara pengujian populasi yang lebih luas akan memungkinkan puluhan juta pekerja yang menganggur kembali bekerja.
(ian)
Berita Terkait
Mutasi Baru Virus Corona
Mutasi Baru Virus Corona
Inggris Bela Keputusan...
Inggris Bela Keputusan Soal Pencabutan Lockdown
Virus Corona di Italia...
Virus Corona di Italia Terus Menyebar
Boris Johnson: Masih...
Boris Johnson: Masih Terlalu Dini Cabut Penguncian di Inggris
Korban Meninggal Meningkat,...
Korban Meninggal Meningkat, Inggris Perpanjang Lockdown
Mutasi Baru Lahir di...
Mutasi Baru Lahir di Inggris, Dunia Siaga Satu
Berita Terkini
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
33 menit yang lalu
Kapal Tanker Ketiga...
Kapal Tanker Ketiga Pembawa Minyak Iran Keluar dari Garis Blokade AS
1 jam yang lalu
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon Selatan Meski Ada Kesepakatan AS-Iran
2 jam yang lalu
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
3 jam yang lalu
Media Asing Soroti Aksi...
Media Asing Soroti Aksi Demo Mahasiswa terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia
3 jam yang lalu
Kapal Fregat Rusia Lepaskan...
Kapal Fregat Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan di Selat Inggris
4 jam yang lalu
Infografis
Penyebab Kasus Covid-19...
Penyebab Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Salah Satunya Mutasi Virus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved