Kekerasan Sektarian di India, Polisi Ciduk Lebih dari 500 Orang

Jum'at, 28 Februari 2020 - 19:38 WIB
Kekerasan Sektarian...
Kekerasan Sektarian di India, Polisi Ciduk Lebih dari 500 Orang
A A A
NEW DELHI - Polisi India menangkap 514 orang terkait aksi kekerasan mematikan antara umat Hindu dan Muslim yang pecah di Ibu Kota negara itu, New Delhi. Aksi penangkapan ini terjadi di tengah meningkatnya kecaman internasional karena India dianggap gagal melindungi kaum Muslim yang minoritas.

Polisi mengatakan jumlah korban akibat pertumpahan darah itu mencapai 35 orang, tetapi media setempat melaporkan kemungkinan lebih dari 40 orang mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

Polisi masih mencari mayat korban di saluran air dan rumah-rumah yang dibakar seperti dikutip dari Reuters, Jumat (28/2/2020).

Pemerintah India menyatakan telah mengerahkan lebih banyak pasukan untuk menjaga masjid-masjid di daerah itu saat salat Jumat.

"Tidak ada kekerasan baru sejak Rabu pagi," kata pemerintah India dalam sebuah pernyataan pada Kamis malam.

Kekerasan dimulai atas undang-undang kewarganegaraan yang diperkenalkan oleh pemerintah nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi pada bulan Desember lalu. Undang-undang kewarganegaraan ini memberikan warga negara bagi enam kelompok agama dari negara tetangga, tetapi tidak untuk umat Muslim.

Para kritikus mengatakan undang-undang itu diskriminatif dan berada di atas sejumlah kebijakan lain seperti penarikan otonomi bagi Jammu dan Kashmir yang mayoritas Muslim, yang telah memperdalam keresahan tentang masa depan 200 juta Muslim India.

Namun kritik terhadap pemerintah memantik aksi kekerasan minggu ini pada anggota Partai Bharatiya Janata (BJP) Modi, yang kalah dalam pemilu lokal di Delhi awal bulan ini. BJP membantah tuduhan itu.

Pada akhirnya, kekerasan berubah menjadi pertempuran jalanan antara kelompok Hindu dan Muslim dengan polisi sebagian besar tidak bertindak efektif dalam mengendalikan situasi.

Organisasi Negara-negara Islam (OKI) mengutuk aksi kekerasan terhadap Muslim di India dan perusakan masjid serta properti milik umat Muslim.

OKI mengatakan pihak berwenang perlu membawa penghasut dan pelaku kekerasan anti-Muslim ke pengadilan dan memastikan keselamatan serta keamanan semua warga Muslim dan tempat-tempat suci Islam di seluruh negeri.

Calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Bernie Sanders, menuduh Presiden Donald Trump gagal dalam masalah hak asasi manusia setelah ia menolak untuk mengkritik New Delhi saat menangani kerusuhan di Ibu Kota.

Untuk diketahui, Trump sedang dalam kunjungan kenegaraan ke India ketika aksi kekerasan meletus.
(ian)
Berita Terkait
Banjir Lumpur Kubur...
Banjir Lumpur Kubur Truk di Sikkim India, 100 Warga Hilang
Banjir Terjang India,...
Banjir Terjang India, Lebih dari 60 Orang Tewas
Ritual Magh Mela, Pemandian...
Ritual Magh Mela, Pemandian Suci untuk Penebusan Dosa Bagi Umat Hindu di India
Jelang Hari Republik,...
Jelang Hari Republik, Tentara India Gelar Latihan Parade di New Delhi
Bukan Pesawat AS atau...
Bukan Pesawat AS atau Rusia, India Akhirnya Setujui Pembelian Jet Tempur Senilai Rp123 Triliun
Longsor di Manipur India,...
Longsor di Manipur India, Belasan Orang Tewas
Berita Terkini
Deretan Delegasi Asing...
Deretan Delegasi Asing yang Hadiri Pemakaman Khamenei, Salah Satunya Musuh Bebuyutan Iran
1 jam yang lalu
Jenderal Paling Ditakuti...
Jenderal Paling Ditakuti Israel dan AS Ini Muncul dari Persembunyian saat Pemakaman Khamenei
5 jam yang lalu
Nada Kemenangan Rusia...
Nada Kemenangan Rusia Berubah Drastis ketika Ukraina Terapkan Taktik Asimetris
5 jam yang lalu
Gelombang Panas Ganggu...
Gelombang Panas Ganggu Perayaan Kemerdekaan AS ke-250
7 jam yang lalu
10 Juta Rakyat Iran...
10 Juta Rakyat Iran Hadiri Pemakaman Khamenei, Bendera Merah Dikibarkan
8 jam yang lalu
Houthi Ancam Saudi,...
Houthi Ancam Saudi, Riyadh Janji Beri Respons Keras!
9 jam yang lalu
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved