Turki Harus Berpegang pada Perjanjian Berlin tentang Libya

Senin, 17 Februari 2020 - 05:00 WIB
Turki Harus Berpegang...
Turki Harus Berpegang pada Perjanjian Berlin tentang Libya
A A A
ROMA - Turki harus berpegang teguh pada komitmen yang dibuatnya pada konferensi Berlin tentang Libya dan mencegah perang proxy terjadi di negara yang terletak di Afrika Utara itu. Hal tersebut disampaikan Marco Minniti, mantan Menteri Dalam Negeri Italia.

Pada 19 Januari, Berlin menjadi tuan rumah konferensi internasional tentang rekonsiliasi Libya, dengan Turki sebagai salah satu pesertanya. Dalam komunike bersama, para penandatangan berjanji untuk menahan diri dan membantu pihak-pihak yang bertikai mencapai kata damai dan mengawasi embargo senjata di Libya.

Namun, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa negaranya, yang baru-baru ini mengirim pasukan ke Libya, akan mempertahankan kehadiran militernya di sana untuk mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) dalam perang melawan Tentara Nasional Libya.

"Saya prihatin dengan kenyataan bahwa Libya dapat menjadi medan konflik militer dan konfrontasi diplomatik dengan negara-negara yang tidak ada hubungannya dengan Libya. Kita harus menghindari perang proksi, ini adalah hal yang paling penting, dan saya berharap bahwa teman-teman Turki adalah menyadari hal ini," ucap Minniti.

Pria yang saat ini duduk di Parlemen Italia tersebut mengatakan, pemahaman atas langkah Turki untuk mencapai nota kesepahaman tentang kerja sama keamanan dan pertahanan dengan GNA.

"Saya tidak membantah Nota Kesepahaman yang ditandatangani antara Turki dan GNA. Tentu saja, bagi Turki sangat menantang untuk pindah dari Mediterania Timur ke Mediterania Tengah", ungkapnya.

Namun, Minniti memperingatkan Turki agar tidak bertindak terlalu jauh, dengan mengatakan bahwa begitu diseret lebih dalam ke dalam konflik Libya, pada akhirnya Turki bisa kehilangan kendali atas situasi tersebut.

"Seseorang dapat diyakinkan mengendalikan situasi, tetapi saya dapat mengatakan dari pengalaman pribadi saya, dan saya akrab dengan situasi itu secara terperinci, bahwa seseorang harus menghindari menjadi seorang tukang sihir," ungkapnya.

"Karena ketika Anda memohon hantu, mungkin terjadi bahwa Anda akhirnya kehilangan kendali atas mereka. Saya pikir perlu bagi Turki, sebagai salah satu pihak penandatangan Berlin, untuk mematuhi perjanjian Berlin," tukasnya.
(esn)
Berita Terkait
Turki Balik Tuding Prancis...
Turki Balik Tuding Prancis Mainkan Permainan Berbahaya di Libya
Turki Mulai Eksplorasi...
Turki Mulai Eksplorasi Minyak di Libya Meski Dikecam Negara Lain
Perkuat Pengaruh di...
Perkuat Pengaruh di Libya, Turki Dituduh ‘Mengepung’ Mesir
Yunani Siap Konfrontasi...
Yunani Siap Konfrontasi Militer dengan Turki untuk Bela Kedaulatan
Intevensi Libya, Macron...
Intevensi Libya, Macron Sebut Turki Mainkan 'Permainan Berbahaya'
Trio Eropa Ancam Beri...
Trio Eropa Ancam Beri Sanksi Pelanggar Embargo Senjata Libya
Berita Terkini
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
3 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
4 jam yang lalu
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
5 jam yang lalu
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
6 jam yang lalu
Hanya Karena Dukung...
Hanya Karena Dukung Iran, Presenter TV Cantik Kuwait Ini Dijatuhi Hukuman Penjara
7 jam yang lalu
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
8 jam yang lalu
Infografis
5 Kombes Pol Pecah Bintang...
5 Kombes Pol Pecah Bintang Jadi Brigjen pada Akhir Februari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved