Virus Corona Mewabah, Eksil Uighur Khawatirkan Nasib Penghuni Kamp Tahanan

Kamis, 13 Februari 2020 - 08:55 WIB
Virus Corona Mewabah, Eksil Uighur Khawatirkan Nasib Penghuni Kamp Tahanan
Virus Corona Mewabah, Eksil Uighur Khawatirkan Nasib Penghuni Kamp Tahanan
A A A
PARIS - Anggota minoritas Uighur yang tinggal di pengasingan memberikan peringatan tentang risiko penyebaran virus Corona di kamp-kamp tahanan China. Sejumlah LSM mengatakan ratusan ribu warga Uighur telah ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp tahanan oleh Beijing.

Sejauh ini, angka resmi yang dikeluarkan oleh media pemerintah China tidak memberikan alasan utama untuk kekhawatiran atas wabah COVID-19 di wilayah timur laut Xinjiang yang merupakan rumah bagi warga Uighur, minoritas Muslim yang berbicara bahasa Turki.

Wilayah itu jauh dari pusat penyebaran dan hanya 55 kasus yang telah dilaporkan di wilayah ini sejauh ini. Pasien pertama yang sepenuhnya pulih di wilayah tersebut telah meninggalkan rumah sakit, menurut media resmi.

Lebih dari 1.100 orang telah meninggal di China karena epidemi virus Corona meskipun sebagian besar kematian dan infeksi terjadi di provinsi Hubei, yang ibukotanya Wuhan, adalah pusat penyebaran penyakit tersebut.

Tetapi perwakilan diaspora Uighur memperingatkan ada alasan nyata untuk takut penyebaran virus Corona yang cepat di kamp-kamp tahanan China yang kontroversial.

Virus ini menyebar dari orang ke orang melalui tetesan yang disebarkan dengan bersin atau batuk, dan mengurung sekelompok besar orang bersama-sama, mungkin tanpa akses yang memadai ke sabun dan air pembunuh kuman, akan meningkatkan kemungkinan wabah. (Baca: Sebanyak 99 Warga Wuhan Dikarantina di Xinjiang)

LSM dan para ahli mengatakan China telah mengumpulkan sekitar satu juta orang Uighur dan etnis minoritas Muslim lainnya di kamp-kamp pengasingan, dan sedikit yang diketahui tentang kondisi di dalamnya.

Beijing menegaskan bahwa kamp-kamp tersebut adalah "pusat pelatihan kejuruan" yang diperlukan untuk memerangi terorisme.

"Orang-orang mulai panik. Keluarga kami ada di sana, berurusan dengan kamp dan virus, dan kami tidak tahu apakah mereka punya cukup makanan atau masker," kata Dilnur Reyhan, seorang sosiolog Prancis asal Uighur seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (13/2/2020).

Sebuah petisi yang diposting di Change.org ditandatangani oleh lebih dari 3.000 orang mendesak penutupan kamp untuk mengurangi ancaman.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.2040 seconds (11.210#12.26)