Facebook Bongkar Operasi Intelijen Rusia yang Targetkan Ukraina

Kamis, 13 Februari 2020 - 00:30 WIB
Facebook Bongkar Operasi...
Facebook Bongkar Operasi Intelijen Rusia yang Targetkan Ukraina
A A A
LONDON - Facebook menghentikan jaringan akun yang digunakan intelijen militer Rusia untuk mengirim narasi palsu online yang menargetkan Ukraina dan negara-negara lain di Eropa Timur.

"Meski orang di balik jaringan ini berupaya menyembunyikan identitas dan koordinasi mereka, investigasi kami menemukan kaitan pada badan intelijen militer Rusia," papar pernyataan Facebook, dilansir Reuters.

Facebook secara rutin mengumumkan penghentian kampanye disinformasi dari berbagai negara termasuk Rusia. Facebook juga berupaya menghentikan sejumlah pemerintah dan kelompok politik yang menggunakan platformnya untuk menyebarkan informasi palsu atau menyesatkan.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia belum memberikan respon untuk komentar. Moskow sebelumnya menyangkal tuduhan Barat dalam kasus intervensi politik, termasuk temuan Jaksa Khusus AS Robert Mueller bahwa Rusia menggunakan akun media sosial untuk mempengaruhi pemilu presiden AS 2016.

Kepala kebijakan keamanan siber Facebook Nathaniel Gleicher menyatakan operasi Rusia terbaru menggunakan lebih dari 100 akun di Facebook dan platform Instagram untuk menciptakan sosok-sosok palsu, sering muncul sebagai jurnalis di negara-negara yang menjadi target.

Berbagai akun itu kemudian dihubungi media dan politisi lokal untuk mengirim cerita palsu tentang berbagai isu politik yang memecah belah, seperti tuduhan korupsi, ketegangan etnik di Crimea dan maskapai Malaysia yang ditembak jatuh di Ukraina pada 2014.

"Kami tahu sejak lama bahwa orang itu berupaya menciptakan suara otentik untuk memperbesar narasi mereka. Ini lebih seperti operasi intelijen klasik, mencoba manipulasi individu-individu penting untuk mencapai dampak besar," ungkap Gleicher.

Para peneliti di firma analisa media sosial Graphika yang meninjau berbagai akun itu sebelum ditutup oleh Facebook menyatakan sebagian besar aktivitas terjadi pada 2016 dan 2017, meski beberapa akun aktif paling baru pada tahun ini.

"Jaringan itu gagal mengumpulkan lebih dari beberapa ribu follower tapi dapat membuat beberapa artikelnya diterbitkan beberapa media lokal," papar Ben Nimmo, kepala investigasi Graphika.
(sfn)
Berita Terkait
Para Pemimpin UE Siapkan...
Para Pemimpin UE Siapkan Sanksi Keras ke Rusia
Rusia Terus Gempur Pertahanan...
Rusia Terus Gempur Pertahanan Pasukan Ukraina di Kota Urozhainoye, Donetsk Selatan
Sergey Surovikin Peringatkan...
Sergey Surovikin Peringatkan Bos Tentara Bayaran Berhenti Memberontak
Kendaraan Perang Rusia...
Kendaraan Perang Rusia Melintasi Perbatasan Ukraina dari Krimea
Detik-detik Bom Rusia...
Detik-detik Bom Rusia Hancurkan Gedung Pemerintahan
Pertempuran Sengit di...
Pertempuran Sengit di Mariupol, Pejuang Chechnya bunuh Pasukan Asing
Berita Terkini
Iran Serang Kapal Perang...
Iran Serang Kapal Perang AS di Teluk Oman yang Diklaim sebagai Pusat Komando Amerika
10 menit yang lalu
Iran Klaim Rudal Patriot...
Iran Klaim Rudal Patriot AS yang Hancurkan Bandara Kuwait, Amerika Menyangkal
31 menit yang lalu
Rudal Patriot AS Makan...
Rudal Patriot AS Makan Tuan: Gagal Cegat Misil Iran, Malah Hancurkan Bandara Kuwait
54 menit yang lalu
Siapa Adam Hamawy? Dokter...
Siapa Adam Hamawy? Dokter Bedah AS yang Pernah Bertugas di Gaza dan Terpiih sebagai Anggota Kongres
3 jam yang lalu
Siapa Bill Pulte? Direktur...
Siapa Bill Pulte? Direktur Intelijen Nasional AS yang Tak Pernah Jadi Agen Rahasia
4 jam yang lalu
7 Senjata yang Mengubah...
7 Senjata yang Mengubah Dunia pada Perang Dunia II, dari Supersonik hingga Bom Nuklir
5 jam yang lalu
Infografis
5 Presiden Indonesia...
5 Presiden Indonesia yang Paling Sering Reshuffle Kabinet
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved